Sahabat Pelangi Untukmu

Sahabat Pelangi Untukmu
Bab 18. Aku Cinta Padamu


__ADS_3

Tiara sedang menghirup udara segar pagi hari. Ia sangat menikmati udara yang hangat karena bercampur dengan sinar mentari. Rasa sakit di tubuhnya berangsur berkurang. Tapi, sakit dihatinya...


“Dis, kenapa ya.. Kelvin dan Vania... kayaknya mereka nggak pernah nengokin aku,” tanya Tiara pada Gadis yang  sedang mendorong kursi rodanya.


“Sebenarnya mereka pernah dateng ke sini. Tapi, aku...” jawab Gadis mencoba menjelaskan.


“Nggak apa-apa kok, Dis. Yang kamu lakuin udah bener,”  kata Tiara sambil tersenyum.


Tiara masih mengingat kejadian terakhir yang menyayat hatinya. Ia memejamkan matanya dan membuat bayang-bayangan itu semakin jelas. Tiara sangat geram dengan perlakuan Vania dan Kelvin.


“Apa sekarang mereka...” tanya Tiara.


“Ra, udah deh. Nggak usah mikirin mereka,” potong Gadis. Tiara pun bungkam. Kemudian Gadis kembali melanjutkan mendorong kursi roda itu lagi.


“Dis, aku mau duduk di bawah pohon itu,” kata Tiara sambil menunjuk sebuah pohon yang ia maksud.


Tanpa basa-basi Gadis langsung membawa Tiara. Sampai di pohon itu Tiara meminta Gadis untuk menolongnya duduk di bangku yang tersedia di dekat pepohonan yang rindang itu. Tentu saja Gadis menolong Tiara. Tapi, ada sedikit masalah.


“Aduh, Ra...  Kamu berat banget sih! Aku nggak kuat ngangkat kamu!” kata Gadis yang sudah berkeringat.


“Huh! Pasti berat badanku naik deh. Gara-gara kena infus. Hah... Tapi untung aja udah boleh dilepas,” celoteh Tiara.


“Eh, Dokter... Tolong bantu Tiara dong, dia mau duduk di bangku ini,” ucap Gadis lembut saat melihat Dokter Haris melintas di dekat mereka.


Dokter Haris pun menatap Tiara. Tapi, Tiara hanya tertunduk tidak sanggup menatap Dokter itu. Di sampingnya ada Gadis yang masih memasang wajah manisnya berharap Dokter Haris mau menolongnya.


Akhirnya Dokter Haris pun membantu Tiara. Ia mengangkat tubuhnya dari kursi roda ke bangku taman. Ketika Tiara berada dalam posisi berdiri, tanpa sadar kedua tangannya sudah terkalung melingkar di leher Dokter Haris. Saat itu mata mereka begitu dekat dan saling menatap. Jantung keduanya pun berdegup sangat kencang. Lalu, karena canggung, dalam sekejap Tiara mengalihkan pandangannya, kemudian Dokter Haris membantunya duduk di bangku tersebut.

__ADS_1


Gadis yang sedari tadi menonton mereka hanya bisa tersenyum geli melihat kecanggungan antara satu sama lain. Ia pun tidak ingin momen langka ini cepat berlalu. Ia berfikir mencari cara agar ia bisa meninggalkan mereka berdua.


“Yah..  Hp-ku ketinggalan lagi!” ucap Tiara. “Emm, Dok.. Jagain Tiara bentar ya. Aku ambil HP dulu,” tanpa menunggu jawaban dari Dokter Haris, Gadis langsung raib meninggalkan mereka berdua.


Dalam sekejap suasana di bawah pohon rindang itu menjadi lebih canggung. Mereka duduk bersebelahan dengan jarak hanya setengah meter.


“Hmm, aku mau bilang sesuatu sama kamu,” ucap Dokter Haris memecah keheningan.


Tiara menatap dokter Haris dan mengerutkan dahinya. Kali ini ia berani menatap dokter Haris karena sang dokter sedang tidak memandang ke arahnya. Dokter itu sedang menebar pandang ke arah taman, dengan senyum manis di wajah tampannya.


Oh my God... gantengnya, kagum batin Tiara ketika berhasil mencuri pandang kepada dokter Haris.


Tiara menebak-nebak apa yang akan dikatakan oleh Dokter ini. Apa dia mau bilang, kalau dia sangat marah pada Tiara karena insiden jarum suntik itu? Atau karena orang tua Tiara?


Disela kekaguman Tiara kepada pesona sang dokter saat mencuri pandang, tiba-tiba dokter Haris memandang balik ke arah Tiara, memandang Tiara dengan senyum dan tatapan lembutnya, yang sontak saja membuat Tiara merasa gugup.


“Aku suka sama kamu..,” kata Dokter Haris singkat, diikuti senyum manis dan tatapan lembut dari wajah tampannya, yang entah kenapa kali ini terlihat lebih menawan dari biasanya.


Tapi kali ini, sepertinya Tiara tidak terlalu terlena dengan pesona dokter Haris, ya... karena ucapan sang dokter kepadanya itu. “What?” Tiara terkejut. “Dokter jangan main-main deh. Nggak lucu tau!” cecar Tiara yang masih mengira ia mengalami gangguan pendengaran karena ia kurang yakin dengan apa yang telah diucapkan oleh dokter Haris beberapa detik yang lalu.


“Dengerin ya, setelah kamu pulang ke rumah nanti, kamu akan tetap jadi tanggung jawab aku,” kata Dokter Haris santai sambil tetap memberi senyuman menawan yang sepertinya sejak tadi khusus ia persembahkan kepada Tiara saja.


“Hah?? Dokter??” jawab Tiara yang masih bingung.


“Aku udah minta izin sama orang tua kamu... dan mereka setuju,” jelas Dokter Haris yang kali ini melepaskan tatapannya dari Tiara.


“Apa??” ucap Tiara kuat sambil berdiri.

__ADS_1


Kondisi kaki Tiara masih sakit. Ia pun belum sanggup berdiri apalagi berjalan jika tidak ada yang membantunya. Saat itu, ketika ia berdiri dalam keadaan spontan karena terkejut atas penuturan dokter Haris, Tiara sedang tidak sadar dengan kondisi kakinya, terang saja ia langsung kesakitan dan tidak kuat menahan tubuhnya sehingga tubuhnya tidak seimbang dan seperti akan terjatuh. Tapi, Dokter Haris dengan sigap menolong Tiara.


Tangan Dokter Haris memapah Tiara dengan tangan Tiara yang berada di pundak Dokter Haris. Untuk ke dua kalinya, wajah mereka begitu dekat. Dan kali ini pun pipi keduanya memerah.


“Ehem... Ehem...” tiba-tiba ada suara deheman dari Gadis, yang entah sejak kapan berada di dekat mereka berdua.


Tersadar ada yang mengganggu, Tiara dan dokter Haris pun menjadi salah tingkah. Tiara memegangi kakinya yang masih terasa sangat kesakitan, Dokter Haris pun membantunya duduk kembali.


“Hmm... Baru juga ditinggal sebentar udah main peluk-peluk aja!” goda Gadis sambil tersenyum geli.


Melihat kedatangan Gadis, Dokter Haris langsung memutuskan untuk pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Gadis hanya bisa tersenyum geli melihat Dokter Haris yang jadi salah tingkah seperti itu. Kemudian, ia melihat ke arah Tiara, pipinya masih memerah.


Sekarang Gadis yang duduk di samping Tiara.


Gadis terus saja melihat ke arah Tiara. Namun Tiara tidak mau memperlihatkan wajahnya kepada Gadis. Tiara menyadari bahwa Gadis sedang memperhatikannya.


Tapi, lama-kelamaan... ia merasa risih juga...


“Apaan sih, Dis.. ngeliatin mulu?” kata Tiara yang masih malu-malu.


“Nggak, aku cuma pengen lihat, wajah orang yang lagi kasmaran itu gimana sih?” goda Gadis.


“Gadis.., tadi dia cuma nolongin aku doang....” balas Tiara mencoba menjelaskan yang dialaminya bersama dokter Haris tadi.


“Iya, aku percaya kok,” sambung Gadis sambil tersenyum.


Tiara teringat perkataan Dokter Haris tadi. Ia ingin membicarakannya dengan Gadis. Tapi, ia masih ragu. Bisa saja Dokter Haris hanya mempermainkannya. Di dalam benaknya masih banyak pertanyaan-pertanyaan besar menyangkut sikap dokter tampan itu.

__ADS_1


***


__ADS_2