
Hari ini terasa sangat aneh. Semua jadi terasa sangat canggung. Padahal sebelumnya ini tidak pernah terjadi, sampai saat Gadis bertanya tentang hal itu kepada Tiara saat mereka di kafe. Seperti akan ada badai yang datang menghancurkan dinding persahabatan mereka. Sepertinya, sebentar lagi semuanya akan segera usai.
Sesampainya di toko buku, Tiara dan Gadis bergegas menuju ke bagian rak komik. Mereka berdua asyik memilih komik-komik yang akan dibaca. Kelvin juga mengikuti mereka berdua, menuju ke bagian komik. Komik juga salah satu buku favorit yang Kelvin sukai.
Tapi Vania tidak ikut bergabung dengan mereka. Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju deretan buku novel.
Ya... ia lebih suka membaca novel. Terutama yang ber-genre romance. Membaca akhir cerita yang bahagia membuat dirinya ingin mendapatkan happy ending yang sama pada kehidupan percintaannya kelak.
"Van, kamu nggak gabung sama mereka?" tanya Kelvin yang tiba-tiba muncul di samping Vania.
Vania yang sedang fokus memilih novel yang akan ia baca, tentu saja kaget dan tersentak mendengar suara yang memanggil namanya saat itu.
Oh, ternyata Kelvin, batin Vania.
Kemudian, "Nggak," sahut Vania langsung dan terkesan ketus pada Kelvin.
Kelvin terdiam mendengar jawaban Vania. Dalam hatinya, ia tahu bahwa Vania pasti sedang berada dalam suasana hati yang badmood. Mungkin karena perbincangan di kafe tadi.
Dan Kelvin, setelah menerima keketusan dari Vania, ia hanya berdiri diam saja di samping Vania, sambil memainkan jemarinya, menyisir buku-buku yang berjajar rapi di deretan rak buku novel yang ada di hadapannya itu.
Kelvin, di dalam kediamannya bersebab menerima keketusan Vania, dari kejauhan, tanpa sengaja matanya tertuju pada Tiara. Untuk sesaat, ia memperhatikan Tiara, “Manis” pikirnya dalam hati.
Melihat tingkah lucu Tiara yang sedang tertawa kecil karena komik lucu yang sedang dibacanya saat itu membuat Kelvin yang tadinya hanya terpaku kaku saja menjadi sedikit menyungging kedua ujung bibirnya membentuk simpul senyum. Melihat kemanisan Tiara saat itu mampu membuat hatinya menjadi senang.
Dan tanpa Kelvin sadari, Vania yang berada tepat di sampingnya sambil membaca novel itu mencuri pandang ke arah Kelvin. Ia memperhatikan ke mana arah mata Kelvin memandang.
Saat Vania tahu bahwa Kelvin melihat kearah Tiara, ia pun tertunduk ke arah buku yang tadinya sedang ia baca...
"Sepertinya kita harus mengakhiri semuanya," ucap Vania lirih. Sambil tetap berpura-pura fokus membaca buku yang ada di tangannya itu.
__ADS_1
"Ha?” sahut Kelvin tercengang, setengah tersadar antara sedang memandang kemanisan Tiara dan ucapan Vania yang baru saja ia dengar.
“Kenapa? Kita udah susah payah sampai kesini. Terus kamu, mau mengakhiri semuanya?" tanya ulang Kelvin.
Vania menarik napas dalam-dalam. Tarikan napasnya saat itu terasa sangat memberat di dirinya.
Vania melihat lagi ke arah Tiara. Memandangi sahabatnya itu dari kejauhan, hatinya begitu perih. Ya... hatinya memang selalu menyesak seperti ini ketika membahas tentang cinta segitiga mereka, sampai lagi-lagi kesesakan hati yang seperti itu menciptakan bendungan air di matanya yang selalu dengan sekuat tenaga ia tahan agar tidak menetes.
"Kamu dengarkan apa kata Tiara. Dia nggak akan mengampuni yang berkhianat padanya," ucap Vania sambil memandang tegas ke arah Kelvin dengan maksud mengingatkan
"Van..." kata Kelvin sambil memegang pipi Vania. "Dia tadi cuma bercanda. Aku tahu, Tiara nggak akan berbuat sekejam itu. Percaya sama aku, dia nggak mungkin marah sama kamu," tutur tenang Kelvin.
"Kalau memang begitu, kenapa sampai sekarang kamu masih takut untuk bilang yang sebenarnya. Kalau kita saling mencintai!" tegas Vania sambil menampik perlahan tangan Kelvin yang sedang berada di pipinya.
Di sisi lain, di tengah pembicaraan serius Kelvin dan Vania saat itu, ternyata Gadis sudah mendengarkan semuanya.
Ya...
Kini semuanya sudah jelas.
Pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak Gadis, semuanya sudah terjawab. Masalahnya adalah, akankah ia beritahukan hal ini pada Tiara??
Sementara itu,
...."Van, aku ingat, aku udah janji sama kamu untuk putus dari Tiara. Aku hanya butuh waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya sama Tiara," tutur Kelvin pada Vania.
Vania tertunduk, "Iya, aku ngerti." Ia tersenyum kepada Kelvin sambil memegang tangannya, "Maafin aku ya, pasti kamu tertekan banget. Maaf, akhir-akhir ini aku kurang ngertiin kamu," ucap lembut Vania yang kemudian melembutkan suasana yang ketus dan menyesak tadi.
Kelvin merasa lega melihat senyuman yang keluar dari bibir Vania. Sedikit kekhawatirannya hilang. Vania memang sosok yang sangat lembut.
__ADS_1
***
Semua berjalan sesuai rencana Gadis. Tapi, setelah mengetahuinya apa yang harus dia lakukan? Apakah dia harus berpura-pura tidak tahu? Lalu bagaimana dengan Tiara? Apakah adil baginya, tidak memberi tahu semua kebenaran ini?
"Aku benar-benar muak dengan mereka! Semakin seenaknya saja mempermainkan perasaan orang lain!" gumam kecil Gadis sambil menggebrak meja belajar yang berada tepat di hadapannya itu.
“Aaaaargh! Kata-kata mereka itu masih terngiang di telingaku. Gimana caranya buat ngomong ke Tiara tentang hal ini?!” gumamnya lagi.
"Gadis!" seru Tiara yang tiba-tiba membuka pintu kamar Gadis.
Sontak Gadis terkejut, ia jadi gelagapan.
"A... Ada apa Ra?" tanya kaget Gadis.
"Aku masuk ya, Dis," jawab Tiara sambil melangkah masuk ke kamar Gadis. Tiara menarik napas panjang kemudian merebahkan tubuhnya ke kasur milik Gadis. "Di rumah aku lagi sepi banget. Jadi, aku pikir mau main ke rumah kamu aja biar ada temennya, biar gak bored,” celoteh Tiara kepada Gadis sambil memainkan boneka sapi yang tergeletak rapi di tempat tidur Gadis.
“Huhh... tumben, biasa juga nyuruh aku yang ke rumah kamu,” celetuk Gadis pada Tiara.
“Kamu tahu kan, semenjak orang tuaku sibuk dengan pekerjaan mereka sampai harus berlama-lama di negeri orang, yang aku punya ya cuma kamu Dis buat temenin aku,” tutur Tiara sambil tetap berbaring di tempat tidur dan memainkan boneka sapi kecil yang sedang di pegangnya itu.
Seketika Gadis menatap ke arah Tiara. Ia melihat senyuman kecil Tiara saat itu, yang ketahui benar bahwa Tiara sedang menyimpan sejuta kerinduan pada suasana hangat dari kedua orang tuanya.
“Tapi, sekarang aku seneng banget. Sejak Kelvin hadir di hidupku, rasanya semua berubah. Aku jadi punya kenangan indah. Dan aku selalu menanti hari esok.” sambung Tiara lagi.
Kenangan indah?
Kenangan hanyalah tinggal kenangan saja.
Apakah kenangan itu akan tetap indah meskipun telah dihancurkan oleh sebuah pengkhianatan?
__ADS_1