Sahabat Pelangi Untukmu

Sahabat Pelangi Untukmu
Bab 17. Dokter Haris Baik-Baik Saja kan?


__ADS_3

“Kok tahu-tahu udah nyebutin nama dokter itu sih... ada apa hayo? Cieeee... Tiara... cinlok sama dokter,” goda Gadis kepada Tiara.


Sambil meletakkan keranjang buah di atas meja yang ada di sisi ranjang tempat Tiara berbaring, Gadis mulai menggoda Tiara.


“Cinlok? Ih, Gadis apaan sih. Nggak segampang itulah, Dis. Aku ingat dia karena tadi dia kemari. Aku pengen nanya apa dia marah sama aku tentang omongan orang tuaku, tapi.... ” curhat Tiara kepada Gadis yang sedang mengupaskan apel yang dibawanya tadi untuk Tiara.


“Tapi kenapa, Ra??” sambung Gadis penasaran.


“Emm....  Udahlah nggak usah dipikirin,” jawab Tiara yang masih saja ragu.


Tiara juga tidak ingin membahas tentang hal itu pada Gadis. Apa jadinya jika Gadis menganggap ini sebagai lelucon dan menggoda Tiara lagi. Karena dari awal Gadis bilang itu cuma candaannya saja. Tapi entah kenapa Tiara tidak bisa melupakan hal itu. Ia masih saja merasa cemas.


Kemudian...


Tokk.. Tokk...


Ada yang mengetuk pintu ruangannya lagi.


“Tiara, jam lima sore ini, kita akan lakukan scan buat nge-chek kondisi tempurung kepala kamu. Kamu siap?” ternyata itu adalah dokter Haris lagi yang datang masuk ke ruangannya.


Jantung Tiara berdegup kencang melihat wajah serius itu lagi.


"Kamu ini sempat-sempatnya melamun!", ucap dokter Haris pada Tiara sedikit ketus. "Sus, tolong bantu Tiara ya", ucapnya lagi dan langsung berjalan mendekati Tiara dengan ekspresi datarnya itu.


Wajah Tiara yang tadinya tersipu pun seketika langsung berubah muram karena perkataan dokter tersebut terlebih melihat raut wajahnya yang begitu tidak bersahabat.


Dengan perasaan kesal, Tiara langsung memelototi doktes Haris yang sedang menge-chek kondisi selang infus di tangan kirinya. Wajahnya ketat terlihat sangat serius. Dan setelah selesai dengan pekerjaannya, tanpa basa-basi, tanpa sepatah katapun, dan tanpa menoleh lagi ke arah Tiara maupun Gadis yang ada di ruangan itu, Dokter Haris langsung pergi meninggalkan kamar inap Tiara.


“Aneh banget! Dia kok bisa ngomong kayak gitu sih. Jadi dokter nggak ada lembutnya,” curhat Tiara lagi kepada Gadis. Ia sedang sangat kesal dengan sikap dokter Haris kepadanya.


Sementara Gadis, yang masih mengupaskan apel untuk Tiara hanya tersenyum-senyum saja dengan segala macam ocehan Tiara tentang dokter Haris itu.


“Kamu juga, Dis! Dari kemarin nggak pernah belain aku. Senyam-senyum mulu!” tutur Tiara melemparkan kekesalan pada Gadis juga.


“Loh, kok jadi aku sih yang kena imbasnya?” tanya Gadis bingung.


“Abisnya, kamu cuma bisa senyum sama godain aku mulu! Nyebelin tau!”  celoteh Tiara lagi.


“Maaf deh, soalnya kelihatan lucu, Ra. Lucu... Banget... ” ucap Gadis sambil senyum.


“Apanya yang lucu sih! Aku tuh lagi dilanda kebingungan, Gadiiiiiis,” balas Tiara kesal.


“Nah, sekarang kamu bingung kenapa? Dari tadi ngomongnya setengah-setengah,” celetuk Gadis sambil menyodorkan sepotong apel yang telah dikupasnya ke mulut Tiara.


“Hmm, yaudah deh lupain aja,” jawab Tiara dengan segala keraguannya sambil mengunyah apel yang telah masuk ke mulutnya.

__ADS_1


Sementara Tiara sedang kebingungan sendiri dengan isi hatinya, Gadis hanya tersenyum-senyum saja dari awal mula kedatangannya ketika Tiara langsung membicarakan Dokter Haris.


Hmm.. Tiara... Tiara..., ujar batin Gadis sambil tersenyum melihat tingkah Tiara.


Walaupun Tiara menyimpan perasaannya, Gadis tetap tahu apa yang Tiara maksud. Gadis sengaja diam, ia lebih ingin mendengar kejujuran dari mulut Tiara sendiri.


Lalu tiba-tiba saja Gadis teringat akan titipan salam untuk Tiara dari Vania dan Kelvin siang tadi di kantin kampus, “Ah, lebih baik nggak usah disampaikan dulu lah..” pikirnya.


Ia tidak ingin lebih merusak lagi suasana hati Tiara. Sebab ia tahu, bahwa jika sedikit saja ia teringat akan mereka berdua, maka yang akan terlihat dari wajah Tiara adalah kemurungan.


Gadis tahu benar bahwa saat ini hati Tiara sedang berusaha untuk bangkit dan menyembuhkan dirinya sendiri dari semua luka yang kemarin.


“Jangan sampai ada yang ganggu kebahagiaan kamu lagi, Ra,” gumam seorang sahabat.


Beberapa saat kemudian, Tiara dan Gadis melihat Dokter Haris masuk lagi ke ruangan. Ia datang bersama seorang suster. Tiara memalingkan kepalanya. Ia tidak ingin melihat Dokter Haris. Walaupun begitu, matanya tetap melirik kepada sang Dokter.


Tiara melihat Dokter Haris memegang sebuah jarum suntik. Ia yang tadinya berbaring, kini cepat-cepat duduk. Ia terlihat ketakutan ketika melihat jarum suntik itu.


“A... Apa itu?” kata Tiara gelagapan.


“Ini? Suntik!” jawab Dokter Haris.


Tiara melihat Dokter Haris memasukan cairan kedalam jarum suntik itu. Ia sampai menelan ludah karena saking ketakutannya. Dilihatnya lagi, Dokter Haris menekan jarum suntik itu sehingga nampak sedikit cairan itu keluar dari ujung jarum.


Tiara membayangkan seakan-akan Dokter Haris dan suster itu sedang tertawa jahat. Wajah Tiara kini begitu berkeringat.


“Nggak!” tolak Tiara mentah-mentah.


“Tiara, kamu apa-apaan sih?” tanya Gadis sambil melotot kearah Tiara.


Tiara menggelengkan kepalanya pada Gadis. Wajahnya sudah sangat memelas. Sampai-sampai ia terlihat seperti ingin menangis.


Dokter Haris pun mendekat pada Tiara. Ia memegang tangan Tiara.


Tiara sangat terkejut dan langsung menghempaskan tangannya. Ia cepat-cepat menarik tangannya dari dokter Haris.


“Nggak sakit kok, Ra. Kamu mau cepat sembuh kan? Kamu harus buang rasa takutmu itu,” jelas Gadis ingin membujuk Tiara.


Wajah Tiara sudah bercucuran oleh keringat dingin. Ia sangat takut disuntik.


Melihat tingkah Tiara, Dokter Haris menghela napasnya. Ia juga sudah tidak sabar ingin menyuntik Tiara agar pekerjaannya selesai. Ia pun menarik tangan Tiara kembali. Tiara ingin menarik tangannya lagi, tapi kali ini Dokter Haris memegang tangannya dengan sedikit lebih kuat.


Dan terjadilah pergelutan antara Dokter Haris dan Tiara. Mereka seperti anak kecil yang sedang berebut makanan. Gadis dan suster berusaha meyakinkan Tiara juga.


Lalu tiba-tiba Dokter Haris berteriak, “Aaakkkk!!”

__ADS_1


Semua terdiam, melihat jarum suntik menancap di paha dokter Haris. Ia melotot kepada Tiara. Wajahnya memerah, geram melihat Tiara. Lalu ia mencabut jarum tersebut dan secepat mungkin melangkah keluar dari ruangan itu.


Tiara masih terlihat ketakutan. Tapi kali ini sepertinya ia takut karena mengkhawatirkan keadaan dokter Haris.


Lagi-lagi Tiara mendengar Gadis tertawa kecil. Ia pun melihat ke arah Gadis, dan benar saja Gadis sedang menahan tawanya.


“Kok kamu ketawa sih? Emangnya ada yang lucu?” tanya Tiara bingung dan setengah kesal karena merasa ditertawakan lagi oleh temannya ini.


Gadis hanya menggelengkan kepalanya sambil tetap tertawa. Tiara tidak mengerti apa yang ditertawakan oleh Gadis.


Tiara melihat suster masih sibuk merapikan tempat obatnya.


“Suster, Dokter Haris bakalan baik-baik aja, kan?” tanya Tiara cemas dan berwajah polos.


Suster itu pun tersenyum saat mendengar pertanyaan itu.


“Kita lihat aja nanti,” jawab suster sambil tetap tersenyum dan keluar dari ruangan itu.


Ini benar-benar aneh menurut Tiara. Kenapa semua orang membuatnya bingung tidak karuan.


Tidak lama kemudian, Dokter Haris datang lagi. Tiara melihat wajah yang tegang itu. Ia begitu takut tapi juga khawatir.


Dokter Haris bergegas memegang tangan Tiara. Gadis memegang tangan Tiara satunya lagi.


“Ra...” panggil Gadis.


Tiara pun memalingkan kepalanya kepada Gadis.


“Aku ada kabar baik dan kabar buruk,” lanjut Gadis.


“Apa itu?” tanya Tiara bingung.


“Kabar buruknya, kamu nggak ikut ulangan dimata kuliah pak Anto,” tutur Gadis dengan wajah serius.


“Apa? Mati aku! Terus, kabar baiknya?” repon panik Tiara.


“Emm, kabar baiknya... Kamu udah selesai disuntik,” ucap Gadis sambil tersenyum. Menghilangkan wajah seriusnya.


Langsung Tiara melihat ke arah Dokter Haris. Ia melihat Dokter itu menyuntik nya melalui selang infus nya. Dokter Haris pun menggelengkan kepalanya dan langsung berlalu pergi begitu saja.


"Ya ampun kenapa aku jadi parno gini sih. Malu-maluin aja deh!" , Batin Tiara kesal sendiri.


“Gadis...” panggil Tiara dengan wajah yang menyimpan malu.


“Kenapa, Ra? Nggak sakit, kan?” jawab Gadis. “Kamu sih....”

__ADS_1


“Dokter Haris....” ucap Tiara lirih. Pipinya merona.


***


__ADS_2