Sahabat Pelangi Untukmu

Sahabat Pelangi Untukmu
Bab 27. Terkhianati Lagi


__ADS_3

Tak lama kemudian Gadis mendengar suara pagar yang bergeser, “Jangan-jangan...”


Dari duduknya di sofa ruang tamu, Gadis berlari menuju ke arah pintu untuk memastikan bahwa suara pintu pagar yang bergeser itu adalah tanda kepulangan Tiara yang sudah ia tunggu sejak tadi. Ternyata di luar sudah turun hujan walaupun tidak begitu deras.


“Loh, Gadis??” kata Tiara yang kaget melihat Gadis di depan pintu.


Tiara pulang bersama Dokter Haris dan membawa beberapa bungkusan plastik.


“Kalian kemana aja sih?! Aku telfon juga nggak ada yang angkat. Aku tuh khawatir dari tadi mikirin kenapa kamu belum juga pulang, Ra!” oceh Gadis tanpa henti. Seperti jalannya gerbong-gerbong kereta api yang berderet tanpa putus.


“Hah? Masak sih?” Tiara buru-buru mengambil smartphone miliknya dari dalam tas. “He.. He.. Batrenya abis, Dis,” jawab Tiara meringis.


Tanpa memperdulikan ringisan Tiara, tanpa merubah ekspresi lesu di wajahnya, Gadis menarik napas panjang kemudian berjalan ke arah sofa dengan langkah lunglai. Ia masih sedikit terguncang atas perdebatan yang baru saja dialaminya dengan Vania tadi.


“Yah, Gadis jangan marah dong. Ini tuh sebenarnya salah dokter Haris!” tuduh Tiara mencari kambing hitam sebagai alasan. Ia mengira wajah lesu Gadis itu disebabkan karena kesal atas keterlambatannya pulang ke rumah sehingga membuat Gadis menunggu terlalu lama dirinya dengan tanpa kabar sedikitpun.


Mendengar tuduhan Tiara, Dokter Haris benar-benar merasa seperti dikambinghitamkan. Dokter itu menatap sinis ke arah Tiara. Memasang wajah sangat seram.


“Eh tapi ya, Dis... aku udah beli makanan buat kita loh,” kata Tiara sambil meletakkan bungkusan yang dibawanya ke atas meja.


“Kamu yang beli?” tanya Gadis pada Tiara.


“Iya dong!” jawab Tiara sambil tersenyum


“Ehem!” Dokter Haris berdehem.


“Eumm.., sebenarnya ini dibeliin sama dokter Haris sih.”  ucap Tiara lesu.


Gadis berbisik pada Tiara, “Good job, Ra. Ternyata nggak sia-sia aku ngajarin kamu. Hari ini dibeliin makanan, terus besok....”


Mereka berdua tertawa kecil sambil berbisik-bisik. Dan tiba-tiba....


“Aduh.. duh... duuhhh...”  teriak Gadis.


“Aww... aw... awww....”  teriak Tiara.


Ternyata Dokter Haris mendengarkan percakapan bisik-bisik mereka tadi. Dengan perasaan geram karena telah dibicarakan, Dokter Haris menjewer telinga keduanya, hingga membuat Gadis dan Tiara teriak kesakitan.


Karena jewerannya tidak juga dilepaskan oleh Dokter Haris, Tiara berinisiatif menggelitik perut Dokter Haris. Tapi Dokter Haris tak bergeming.


Setelah berpuas hati memberi pelajaran kepada kedua gadis itu, Dokter Haris melepaskan tangannya dari telinga mereka berdua, tetapi kemudian langsung mencubit hidung Tiara, “Kan aku udah bilang, aku nggak penggeli!”


“Ih... Geli dong... Geli!” ucap Tiara kesal dan terus menggelitik perut Dokter Haris.


Dokter Haris hanya diam sambil masih mencubit hidung Tiara. Tapi, Tiara makin gemas dan membuat jari-jarinya bekerja lebih keras lagi.


Melihat situasi itu, Gadis tersenyum. Gadis senang mereka berdua sejauh ini sudah sangat akrab. Tapi Gadis dihalau kebimbangan. Ia teringat pada Vania. Apakah dia harus memberi tahu Tiara soal Vania yang mencarinya atau tidak.


“Jangan, lebih baik aku nggak bilang soal kedatangan Vania tadi pada Tiara. Lagi pula aku nggak tau apa yang akan dilakukannya,” ucap Gadis dalam hati.


***


Siang ini, Tiara sedang sibuk di kamarnya. Sementara ada waktu luang, ia mengisinya dengan menyelesaikan tugas kuliahnya. Seperti biasanya, padahal di dalam kamar hanya ada Tiara tapi terlihat seperti ada lebih dari satu orang di dalam kamarnya.


Tok.. Tok.. Tok....

__ADS_1


Terdengar seseorang sedang mengetuk pintu kamar Tiara.


“Ya? Siapa?” tanya Tiara.


“Saya neng. Mau anter sarapan. Udah jam sembilan loh neng.” sahut mbak.


“Oh, masuk aja mbak! Nggak di kunci kok!” jawab Tiara kembali.


Setelah mendapatkan izin, mbak pun membuka pintunya.


“Astaghfirullah... Ini kamar atau kapal pecah neng?” kata mbak sambil melotot.


Buku-buku, kertas, pulpen dan yang lainnya berserakan tidak tentu, di lantai, di atas kasur, di semua sudut kamarnya, dan juga bed cover yang belum dirapikan. Pokoknya memang seperti kapal pecah. Dengan penuh kesadaran, mbak langsung merapihkan kamar Tiara.


Tiba-tiba Tiara mendapat pesan dari Vania.


Vania


Pagi,  Tiara? Kamu lagi dimana?


Tiara sedikit kaget dengan isi pesan itu. Aneh ketika seseorang yang membenci kita menyapa seperti itu. Tiara merasa pasti Vania sedang merencanakan sesuatu.


Lalu bagaimana dengan pesan itu? Tiara bingung harus membalasnya atau tidak. Tiara menggelengkan kepalanya lalu menyingkirkan hp itu dari hadapannya.


Tapi, sepertinya isi pesan itu membayangi pikiran Tiara. Matanya terus melirik ke arah hp itu dan tidak fokus pada tugasnya. Akhirnya Tiara pun mengambil hp itu kembali.


Tiara


Di rumah. Kenapa?


Vania


Tiara


Ya taulah. Dia itu lagi ke toko buku! Beli buku buat aku!


Tadi dia bilang gitu! Emang kenapa? Iri lihat persahabatan kami?


Vania


Sahabat? Kamu anggap dia sahabat?


Coba kamu perhatikan foto yang aku kirim.


Vania mengirimkan beberapa gambar pada Tiara melalui pesan singkat. Setelah mendapatkan pesan yang terlampir foto itu, Tiara langsung membuka foto tersebut.


Terlihat di situ Gadis bersama Dokter Haris. Tiara pun bertanya-tanya apa maksud dari semua itu dalam benaknya. Namun, ia masih bisa mentoleransi gambar itu. Mungkin saja mereka tidak sengaja bertemu.


Lalu, ia melihat foto yang lainnya. Di sana terlihat Gadis yang sedang makan berdua dengan Dokter Haris. Dahinya mulai mengerut. Tapi, itu juga masih bisa di toleransinya. Mungkin saja Dokter Haris mentraktir Gadis saat tidak sengaja bertemu.


Dan satu lagi, ia membuka foto terakhir yang dikirim oleh Vania. Melihat foto itu, mata Tiara mulai berkaca-kaca dan memerah. Butiran-butiran bening air mata muncul di sela-sela retinanya. Foto itu menunjukan Dokter Haris sedang merangkul Gadis, dan Gadis pun merangkul pinggang Dokter Haris. Mereka terlihat begitu mesra. Membuat Tiara iri dan sangat cemburu.


Vania


Gimana? Udah puas lihat fotonya?

__ADS_1


Itu foto tiga hari yang lalu loh.


Terus, siapa yang kamu sebut sahabat, hah?


Asal kamu tau, nggak ada yang mau bersahabat sama kamu!


Yang ada juga kamu itu cuma jadi objek untuk dimanfaatkan.


Lihat aja buktinya,Gadis yang udah sahabatan sama kamu bertahun-tahun juga mengkhianati kamu. Hahaha


Antara perasaan kesal, marah, cemburu, dan terasa seperti hati yang teriris melihat foto yang dikirim oleh Vania, ditambah lagi dengan panasnya hati Tiara saat membaca pesan singkat yang dikirim oleh Vania pula, dengan perasaan emosi, Tiara membalas pesan singkat dari Vania, dengan sesingkat mungkin...


Tiara


Itu bukan urusanmu!


Tiara berpikir bahwa itu akhir dari balasan pesannya. Namun tidak lama kemudian, Vania mengirim pesan balasan lagi...


Vania


Ya...  Memang bukan urusanku.


Tapi, aku puas melihatnya.


Aku yakin, sekarang pasti kamu lagi nangis, mewek kayak bayi.


Hahaha..


Oh iya, sekarang mereka ada di mall..


Aku kirim lagi deh fotonya supaya kamu percaya.


Kemudian Vania mengirimkan sebuah foto lagi pada Tiara. Melihat pesan masuk itu, rasanya Tiara tidak sanggup untuk membukanya. Tapi, ia ingin melihat foto apa lagi yang dikirimkan oleh Vania. Dan ternyata benar. Di sana ada Dokter Haris bersama Gadis, di sebuah mall. Mereka saling merangkul dan terlihat bahagia.


Hati Tiara seperti ditusuk belati lalu di hempaskan sampai pecah berkeping-keping.


“Kenapa? Kenapa harus Gadis...?” tangisnya dalam hati.


Lalu, tanpa pikir panjang ia berlari keluar kamar.


“Loh, neng mau kemana? Ini sarapannya di makan dulu!” ucap mbak yang masih berberes.


Tiara tidak menghiraukan seruan dari mbak. Ia terus berlari, turun dari tangga dan menuju pintu depan.


Pada saat Tiara membuka pintu, ternyata ada Kelvin yang ingin mengetuk pintu.


“Kelvin?”  ucap Tiara heran dengan suara sendunya.


Kelvin pun heran melihat Tiara yang sedang menangis, “Tiara kamu kenapa?”


Kelvin mencoba memeluk Tiara, bermaksud meredakan kesedihannya. Namun, Tiara menghentikan perbuatan itu dengan menunjukkan tangannya seperti tanda stop pada Kelvin.


“Aku... Nggak apa-apa, Vin. Aku cuma perlu refresing. Gimana kalau kamu temenin aku ke mall?” ucap Tiara meyakinkan Kelvin.


Kelvin pun menyetujui usulan tersebut. Dan mereka pun pergi menggunakan motor milik Kelvin.

__ADS_1


***


__ADS_2