
Kondisi sekarang....
Gadis memangku kepala Tiara sambil tak henti-hentinya menangis. Tiara akan dibawa ke rumah sakit dengan menumpang di mobil seseorang. Seluruh badan Gadis masih gemetaran melihat tubuh tak berdaya yang ada di hadapannya itu.
“Kenapa? Kenapa harus terjadi lagi?” isak Gadis. “Kamu tahukan, aku nggak bisa lihat kamu kayak gini lagi. Kenapa kamu lakukan ini, Tiara,” Gadis masih tersedu-sedu, menggenggam erat tubuh Tiara, dan menyesali karena ia tidak dapat berbuat apa-apa selain menangisi keadaan tersebut. Kali ini, ia benar-benar takut... “Kalau sampai ada kemungkinan terburuk yang terjadi pada Tiara, maka..., ” Gadis menghentikan pikirnnya. “Nggak...! Nggak boleh!” ucapnya lirih gemetar.
Gadis membayangkan Tiara akan meninggalkannya. Ia sama sekali tidak menginginkan hal itu terjadi. Tapi, bagaimana seandainya terjadi? Gadis tidak dapat menenangkan dirinya sendiri. Pikirannya kacau. Memikirkan hal-hal buruk yang akan terjadi pada Tiara.
Tidak dapat disangkal dengan kondisi yang sangat lemah, luka lebam, ditambah luka yang ada di kepalanya, apapun bisa terjadi pada Tiara, bahkan mungkin kehilangan nyawa.
“Bertahanlah, Ra. Aku janji akan lebih jagain kamu,” kata Gadis lagi.
Perasaan mengasihi dari seorang sahabat karib yang begitu tulus melebihi yang orang-orang tahu. Apakah benar ada sahabat sejati? Tidak pernah ada yang tahu. Mencari teman memang sangat mudah, tapi mencari musuh jauh lebih mudah. Teman-teman yang kita miliki, kadang tidak seperti yang kita harapkan. Kadang ia datang, lalu pergi lagi.
Hampir seluruh manusia di muka bumi ini mempunyai teman ataupun kerabat dekat. Tapi, hanya sebagian kecil dari mereka yang memiliki sahabat sejati. Dan kenyataannya, banyak yang kita pikir sebagai sahabat...tapi memberikan luka yang teramat pedih.
Rasa cinta dan sayang yang kita miliki tidak ada yang pernah tahu selain diri sendiri. Sebesar apa, seluas apa, sedalam apa, tidak ada yang tahu. Pernahkah terlintas di benak, orang yang kita anggap bukan siapa-siapa, diam-diam selalu menyebut nama kita dalam setiap doanya untuk kebahagiaan kita. Tanpa dia beri tahu, dia selalu memperhatikanmu dari jauh, sangat jauh.
“Apa kamu senang, Ra? Udah buat aku nggak berdaya kayak gini. Aku tahu, kamu sakit hati karena mereka, tapi setidaknya pikirin orang-orang yang sayang sama kamu,” kata Gadis sambil menghapus air matanya.
Ia menarik napas dalam-dalam. Hmmm... Semua yang terjadi hari ini membuatnya sangat lelah. Bukan hanya tubuhnya saja, pun pikiran dan hatinya juga.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Tepat di depan pintu masuk ruang UGD. Di sana sudah ada suster jaga yang memang sudah siap 24 jam jika ada pasien yang sedang dalam keadaan darurat seperti Tiara ini.
__ADS_1
Saat melihat ada pasien kecelakaan yang baru saja tiba, dengan sigap, para suster langsung mempersiapkan bangsal untuk pasien, dan dengan segera membawa pasien tersebut ke ruang UGD. Gadis ingin ikut masuk mengantarkan ke ruangan itu, tapi sampai di depan ruangan, Gadis dihalangi masuk ke sana. “Maaf, Ibu. Keluarga harap menunggu di luar. Percayakan penanganan pasien kepada kami,” kata salah satu suster yang kemudian segera berlalu dari hadapannya.
Badan Gadis terkulai lemas, ia terduduk di bangku yang tidak jauh dari ruangan itu.. Ia meletakkan kedua sikunya di atas paha lalu meletakkan dahinya di kedua telapak tangannya. Dalam hati, tak henti ia memanjatkan doa-doa tulus penuh dengan harapan akan keajaiban untuk keselamatan Tiara. Panjatan doa dengan tetesan air mata dan isakan tak henti bersuara dari bibirnya.
“Keadaannya semakin tidak stabil. Hal buruk bisa saja terjadi. Kami harus....” kata seorang dokter pria yang keluar dari ruangan itu.
Tapi, belum selesai dokter tersebut bicara, Gadis langsung memotongnya, “Tolong, lakuin apa aja, aku mau dia selamat!”
Gadis masih kalut, ia tidak bisa berpikiran panjang untuk menolong Tiara, yang ada di benaknya hanya ia akan melakukan apa pun demi keselamatan Tiara, apa pun.
Tubuh Tiara kini di bawa ke ruang operasi. Apa yang sedang mereka lakukan pada Tiara, Gadis sama sekali tidak tahu. Ia hanya mempercayakan sepenuhnya pada segala usaha dokter.
“Gadis, gimana Tiara??” kata Kelvin yang tiba-tiba datang.
“Di mana dia sekarang?” kata Kelvin lagi.
Gadis memalingkan kepalanya, ia mengacuhkan pertanyaan Kelvin. Sulit bagi Gadis saat ini untuk memperdulikan mereka.
“Gadis, ayo jawab!” ucap Kelvin lagi sambil memegang pundak Gadis. Gadis menampik tangan Kelvin, “Lepas! Tolong kalian pergi dari sini!”
“Loh, kamu kok ngomong gitu sih? Aku cuma pengen tahu keadaan Tiara. Kok kamu kayaknya nggak senang? Emangnya aku salah apa?” jawab Kelvin kesal.
“Kamu masih nanya salah kamu apa? Biar aku ingatkan lagi! Tiara kecelakaan sehabis melihat kalian bermesraan!” jelas Gadis marah.
__ADS_1
Seketika Kelvin terdiam. Ia melirik ke arah Vania yang ada di sebelahnya.
“Udah ingat sekarang? Aku mohon, pergi dari sini. Tiara juga nggak mau lagi melihat kalian berdua.” sambung Gadis lagi.
Gadis memalingkan wajahnya lagi. Disisi lain, Vania menarik tangan Kelvin, membawanya pergi dari hadapan Gadis.
Untuk beberapa saat rasanya Gadis ingin meledak-ledak di hadapan Kelvin dan Vania. Tapi, ia memilih tidak melakukannya karena tidak akan merubah apa pun.
Beberapa jam kemudian, Gadis sudah tertidur di sebelah Tiara sambil menggenggam tangan Tiara. Ia sangat lelah menghadapi semuanya. Tapi, ia sudah sedikit lega karena Tiara sudah melewati masa kritisnya.
Setelah beberapa lama, Gadis merasakan tangan Tiara bergerak. Gadis sangat bahagia. Kecemasannya sekarang sedikit berkurang. Ia segera memanggil dokter untuk memastikan kesehatan Tiara.
Dengan perlahan Tiara membuka matanya. Penglihatannya yang masih samar-samar, dan lagi-lagi Tiara melihat sosok pria itu. Ya, ia melihatnya lagi di tempat ini.
“Kamu siapa?” tanyanya pelan. “Apa yang kamu lakukan dan di mana aku sekarang?”
“Kamu ada di rumah sakit dan saya adalah dokter di sini,” jawab dokter pria tersebut.
Tiara mengerutkan dahinya mencoba mengingat sesuatu. Walaupun ia sudah sadar, tapi kondisinya masih sangat lemah, itulah keadaan fisik Tiara yang diberitahukan oleh dokter.
“Tiara, aku senang kamu udah sadar. Aku takut banget lihat kondisimu,” kata Gadis senang, tetapi masih terlihat khawatir.
“Makasih ya kamu udah khawatir sama aku,” jawab Tiara tersenyum. “Tapi... Kamu siapa?”
__ADS_1