
Vin, apa kamu masih menyimpan nama Tiara di hati kamu? Gak gampang buat bisa terus sembunyiin perasaan aku kayak gini. Aku cemburu, Vin, ujar batin Vania, sambil berjalan bergandengan tangan dengan kekasihnya, Kelvin.
Aku yang pegang tangan kamu sekarang... aku yang ada di samping kamu sekarang... tapi aku nggak tahu siapa yang ada di hati kamu itu, aku nggak tahu siapa yang terus kamu pikirin, Tiara... atau aku, Vin.., ujar hati Vania memelas.
***
Tiara
Dis, lagi kuliah ya?
Ntar pulang kampus ke sini ya, temenin aku.
Bosen banget di sini sendirian.
Gadis
Oke, Siip
Mau dibawain apa?
Tiara
Bawain cowo ganteng dong,
Biar aku cepat move on,
Hhahahaha...
Gadis
Idih.. Genit banget!
Begitu isi pesan singkat yang dikirimkan Tiara kepada Gadis.
Tiara sedang merasa sangat bosan berada di ruang rawat inap itu sendirian. Di kamar seluas itu, ia hanya ditemani televisi dan juga handphone yang selalu berada di genggamannya. Teman bicaranya hanyalah pada saat ayah atau ibunya menelfon untuk menanyakan keadaan Tiara. Ada juga beberapa suster jaga yang sesekali masuk ke ruangan untuk mengecek kondisinya pada jam-jam tertentu, itupun dengan percakapan sekedarnya dan seadanya saja.
__ADS_1
Ini sudah tiga hari, Tiara masih belum juga dibolehkan pulang oleh dokter.
“Hhuft... bosen banget. Kapan coba aku sembuhnya,” gerutu Tiara sambil memainkan handphone di tangannya.
“Di sini sepi, sendirian, nggak ada temen ngobrol. Mana badan sakit semua..,” disela-sela gerutuan Tiara, tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar inapnya. Tiara menghentikan gerutuannya.
“Dokter, ini Tiara, 21 tahun, pasien kecelakaan tiga hari yang lalu. Kondisinya mulai membaik. Luka-luka di tangannya juga berangsur membaik. Yang belum terlalu terlihat perubahannya cuma luka di bagian dalam kepalanya,” ternyata yang datang adalah dua orang perawat beserta satu dokter. Seperti biasa, mereka datang untuk mengecek kondisi pemulihan Tiara.
“Hmm... Dokter Haris,” gerutu Tiara lagi sambil memperhatikan wujud sang dokter dari ujung rambut sampai ujung kakinya, tapi kali ini dengan suara sangat lirih, hampir seperti berbisik. Tentu saja ia tidak ingin gerutuannya terhadap dokter Haris didengarkan oleh semua orang. Termasuk dokter itu sendiri.
“Dokter, kira-kira hari ini udah bisa pulang atau belum?” tanya Tiara perlahan kepada dokter itu.
Krik... krikkk... kriikkk... krikk...
Tidak ada respon. Walaupun begitu Tiara tetap memandangi Dokter Haris. Entah mengapa pandangannya terus tertuju pada dokter tampan ini. Terlepas dari itu di dalam angannya, ia juga masih membayangkan sosok pria yang sempat beberapa kali menolongnya tempo lalu. Ia terus saja membanding-bandingkan wajah dokter Haris dengan sosok pria itu.
Sang dokter hanya terlihat fokus dengan lembaran-lembaran catatan hasil terakhir kondisi kesehatan Tiara.
“Emm, dokter masih marah ya soal kemarin?” tanya Tiara ragu.
Setelah dirasa semuanya selesai suster yang tadi ikut memeriksa Tiara keluar dari ruangan. Dan tinggallah Tiara dan Dokter ganteng itu. Dokter Haris menarik bangku dan duduk di samping Tiara.
“Soal yang mana yang kamu maksud?” tanya Dokter Haris datar.
Sungguh, pertanyaan dari Dokter Haris itu membuat Tiara kikuk. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Kalau dia menjawab soal ibunya yang menggoda Dokter Haris, lalu Dokter itu udah melupakannya dan beranggapan hanya candaan saja, Tiara bisa sangat malu. Tapi, bagaimana jika Dokter Haris benar-benar marah? Tiara benar-benar bingung.
“Emm, soal... Emm..,” kata Tiara ragu sambil memainkan kedua jari telunjuknya.
Dokter Haris terus menatapnya tanpa berpaling sedikit pun. Membuat suhu ruangan jadi terasa lebih panas menurut Tiara. Jantungnya juga terasa berdegup lebih kencang.
“Ah, enggak, Dok. Lupain aja,” kata Tiara menyerah.
Tiara memalingkan wajahnya ke sisi lain. Ia tidak kuat dengan tatapan tajam itu.
“Kamu, nggak menghargai aku yang udah dari tadi nungguin jawaban kamu?” tanya Dokter Haris kesal.
__ADS_1
“Bukannya gitu, Dok... cuma... cuma..,” Tiara masih ragu.
“Ya, sudah! Kalau kamu nggak bisa jawab. Aku harus pergi meriksa pasien lain!”,kata Dokter Haris tegas dan berlalu pergi ke arah pintu.
“Emm, Dokter!” panggil Tiara.
Dokter Haris menghentikan langkahnya. Namun ia tidak memalingkan wajahnya ke arah Tiara.
“Apa sebelumnya kita pernah bertemu atau saling mengenal? Emm, maksud aku sebelum kecelakaan ini,” tanya Tiara penasaran.
Dokter Haris tidak menjawab sepatah kata pun. Ia berlalu lagi, pergi meninggalkan Tiara. Jantung Tiara rasanya mau copot sedari tadi saat bersama Dokter Haris.
“Dasar bodoh!” gumam Tiara sambil memukul dahinya dengan telapak tangan. “Ngapain juga aku nanyain itu ke dia? Aduh Tiara... Kamu udah mikir terlalu jauh. Siapa tahu Gadis benar. Orang tuaku cuma bercanda doang bilang kayak gitu ke Dokter Haris,” Tiara berbicara sendiri.
Tiara terus memikirkan pertanyaannya tadi. Ia takut hal itu membuat Dokter Haris tidak menyukainya. Dan akan membuatnya kikuk sepanjang waktu jika bertemu dengan Dokter itu.
Dokter Haris, selain ketampanannya, Tiara juga tidak bisa melupakan tatapannya yang tajam terhadap dirinya. Walaupun terkesan cuek pada Tiara, Dokter Haris punya pesona tersendiri menurutnya.
Tapi, bukan berarti Tiara telah melupakan cintanya terhadap Kelvin. Tidaklah mudah baginya mencintai lagi. Tiara hanya merasa tidak enak pada Dokter Haris. Ada rasa yang masih mengganjal di hatinya.
***
“Van, itu Gadis. Aku panggil ya? Gadis!!” ucap Kelvin pada Vania, kemudian setengah berteriak dengan mulut penuh dengan makanan ia memanggil Gadis yang terlihat di kejauhan.
“Dis...! Gadis!! Di sini...!” panggilnya sekali lagi sambil melambaikan tangan pada Gadis yang terlihat celingukan menebar pandangan ke sekitar kantin untuk mencari sumber suara saat ia mendengar ada seseorang yang memanggil namanya.
Dari arah jam 10, Gadis melihat lambaian tangan seorang lelaki yang sepertinya ia kenali wajahnya. Ia memicingkan mata memfokuskan pandangan ke lelaki itu untuk memastikan bahwa ia mengenali lelaki bertubuh atletis yang duduk di sana.
Ya, itu Kelvin, tepat di meja berwarna kuning yang berjarak sekitar beberapa meter dari tempatnya berdiri sekarang. Dan itu pasti adalah Vania. Siapa lagi wanita yang mau ada di sisi Kelvin saat ini kalau bukan Vania.
Setelah memastikan bahwa keduanya orang itu adalah temannya, saat itu juga Gadis langsung menghampiri mereka. “Oh kalian, kenapa Vin?” tanya Gadis dengan nada biasa saja kepada ke dua orang -yang masih ia anggap- sahabatnya itu.
Gadis duduk di meja yang sama dengan Kelvin dan Vania.
Ia bersikap biasa bukan berarti ia sudah melupakan apa yang telah mereka perbuat pada Tiara. Ia hanya masih menghormati arti persahabatan, walau sudah terkhianati oleh diri mereka sendiri.
__ADS_1