
Seperti biasanya, Dokter Haris menjemput Tiara dari kampusnya. Dan lagi-lagi ia mengajak Tiara untuk ke rumah sakit. Ia tidak bisa menunda pekerjaannya yang terkait dengan nyawa seseorang. Tiara mengerti tentang hal tersebut. Ia selalu menyetujui permintaan Dokter Haris itu.
Di ruangan Dokter Haris, tidak ada yang bisa Tiara lakukan selain memainkan Hp-nya. Tubuhnya yang terasa sangat letih akibat mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk itu, membawa dirinya melayang ke alam mimpi.
Saat sudah beberapa lama terlelap, Tiara terjaga dari tidurnya. Walaupun masih sulit untuk membuka mata, tapi ia berusaha memfokuskan pandangannya, menyadarkan diri dan membangunkan raganya dari lelap dengan membenarkan duduknya dari posisi setengah tertidur.
“Ini udah jam berapa sih?” tanya Tiara dengan suaranya yang sengau.
“Jam setengah delapan,” jawab Dokter Haris sambil sibuk melihat berkas-berkas di hadapannya.
“Apa??” Tiara terkejut dan langsung duduk dengan posisi tegak sempurna.
Matanya mencari jam dinding di ruangan itu. Setelah mendapatkannya, ia memperhatikan jam itu dengan seksama. Ternyata memang sudah jam setengah delapan malam.
“Ternyata udah malam ya? Kok kamu nggak bangunin aku sih ?” ucap Tiara.
“Kamu aja tidurnya sampe ngorok gitu, nggak mungkin aku bangunin,” jawab Dokter Haris.
Betapa malunya Tiara mendengar penjelasan Dokter Haris. Apa benar dia mendengkur ketika tidur? Kalau memang benar kenapa dia tidak mengetahuinya? Itulah yang sedang dipikiran Tiara.
“Pasti aku jelek banget waktu tidur. Kalau dia jadi ilfeel gimana? Pakai acara ngorok lagi. Aduh... Malu-maluin aja sih!” gumam kecil Tiara. Ia malu.
“Lagian aku juga lagi banyak kerjaan. Jadi yaudah... aku biarin kamu tidur aja sambil nungguin aku,” sambung Dokter Haris. “Oh ya, Ra... ada yang mau aku tunjukin sama kamu...”
“Hmm? Tunjukin apa?” tanya Tiara mengerutkan dahinya.
Dokter Haris bangkit dari meja kerjanya, meninggalkan berkas-berkasnya, lalu mendatangi Tiara yang sejak tadi duduk di sofa. Tiara memandang mata yang indah itu. Jantungnya berdegup kencang. Memikirkan segala hal yang kemungkinan akan terjadi pada dirinya.
“Apa? Apa yang mau di tunjukin?” ucap debaran Tiara dalam hati.
Ia semakin gugup dan entah kenapa mendadak suasana ruang kerja yang ber-AC itu menjadi terasa sangat panas.
“A... Apa dia mau menciumku?” pikir batinnya lagi.
Dokter Haris memegang kedua tangan Tiara. Lalu menariknya sehingga membuat Tiara dalam possi berdiri sejajar berhadapan dengan Dokter Haris.
Pikiran Tiara pun semakin kacau. Mungkin ia juga menginginkannya. Tetapi, dia belum mempersiapkan diri.
“Ayo, ikut aku!” ajak Dokter Haris sambil menarik tangan Tiara.
“Loh... Eh.. Kita mau kemana?” tanya Tiara yang bingung dengan sikap Dokter Haris yang menarik dan membaw tangannya menuju arah luar ruangan.
“Udah, jangan banyak tanya! Ikut aja!” perintah Dokter Haris.
Tiara semakin bingung. Kenapa Dokter Haris merahasiakannya. Pikirannya semakin jauh melalang buana.
Mereka menaiki lift dan naik ke lantai 4. Sampai di lantai 4, mereka melanjutkannya lagi dengan menaiki anak tangga.
Suasana yang jauh dari keramaian dan hilir mudik orang-orang yang berada di rumah sakit, membuat Tiara semakin penasaran.
“Hah.... Jangan-jangan.... Dokter Haris mau melakukan lebih dari ciuman?” pikir Tiara tegang. “Terus aku harus gimana? Gimana nolaknya nih? Mampus aku!
Tiara menutup matanya sambil berjalan dengan bimbingan dari Dokter Haris yang terus memegangnya sejak tadi. Tiara mendengar suara deritan pintu yang dibuka. Ada angin sejuk yang berhembus mengenai tubuhnya.
Tiara merasakan ada yang aneh, kenapa ada angin... pikirnya. Ia pun membuka matanya perlahan. Ternyata mereka sudah berada di rooftop gedung rumah sakit.
Tiara dapat melihat keindahan dari sana. Mulutnya terbuka lebar mengagumi keindahan malam yang di selimuti kerlap-kerlip lampu kota.
Perlahan Tiara berjalan ke sisi tepi gedung sambil menunjukan rasa kagumnya.
__ADS_1
“Ra...” panggil Dokter Haris.
“Ya?” jawab Tiara yang masih melihat pemandangan malam.
Lalu, Tiara tidak lagi mendengar suara Dokter Haris. Ia berbalik dan mendapati pria itu sedang bersandar pada dinding sambil memejamkan matanya.
“Apa dia tidur?” gumam Tiara.
Ia mendekati Dokter Haris dan berlutut di sebelahnya. Ia memperhatikan Dokter Haris yang sedang terlelap. Wajah yang lembut itu semakin indah dipandang saat tertidur. Tiara sangat suka melihatnya.
Tiara ikut bersandar pada dinding itu. Kemudian ia melihat ke atas, ke langit yang terlihat cerah bertabur bintang. Matanya begitu takjub melihat semua keindahan ini. Sudah lama sekali ia menginginkan tempat seperti ini.
Tiba-tiba Dokter Haris menjatuhkan kepalanya pada bahu Tiara. Ia melihat Dokter Haris yang telah bersandar padanya. Tercium aroma wangi dari rambut Dokter Haris. Dan tanpa disadarinya ia pun mencium kepala Dokter Haris cukup lama.
Dokter Haris membuka matanya. Ia merasakan apa yang telah dilakukan Tiara padanya. Ia pun menikmati sentuhan itu. Ingin rasanya lebih lama seperti itu.
Ia menjatukan lagi kepalanya di paha Tiara. Tentu saja membuat Tiara tersadar dari lamunannya kemudian gugup.
Wajahnya memerah mengingat hal yang telah ia lakukan pada Dokter Haris. Di tambah Dokter Haris yang sekarang berada dipangkuannya sambil menatap lembut padanya.
“M... Maaf,” ucap Tiara gugup.
“Maaf untuk apa?” tanya Dokter Haris dari pangkuan Tiara dengan memandang tepat pada wajah canggung Tiara.
“Duh.... Pakai nanya lagi! Gimana jawabnya nih? Aku kan malu...” ucap Tiara dalam hati.
Ia merasa gelisah dengan pertanyaan yang diajukan oleh Dokter Haris. Pria itu tahu betul, bahwa Tiara sedang cemas dengan pertanyaannya. Tapi, ia memang ingin mendengarnya langsung dari mulut Tiara.
“Kok kamu diam? Aku tanya maaf untuk apa?” ucap Dokter Haris lagi.
Tiara bingung harus menyembunyikan wajah yang cemas itu dimana. Karena Dokter Haris dapat dengan mudah melihat wajahnya dari bawah.
Ia pun mengambil napas untuk mempersiapkan diri.
“Maaf karena udah nyium kamu tadi!” ucap Tiara dengan cepat.
“Apa? Kamu tadi nyium aku?” tanya Dokter Haris berpura-pura dengan tujuan untuk menggoda Tiara agar semakin gugup. Dokter itu merasa bahwa Tiara menjadi sangat menggemaskan jika sedang gugup dengan wajah yang memerah seperti saat ini.
Wajah Tiara tampak bingung. Ia celingukan, berusaha memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Kapan kamu cium aku? Kok aku nggak terasa?” goda Dokter Haris lagi, kali ini bukan hanya dengan senyum saja, tapi dengan eksprsi setengah tertawa.
Melihat ekspresi Dokter Haris, Tiara tampak kesal bercampur malu. Kalau ia tahu Dokter Haris tidak merasakannya, ia tidak akan mengatakan hal sekonyol itu. Hal yang membuatnya measa sangat malu, terutama pada Dokter Haris.
“Kayaknya kamu harus cium aku sekali lagi deh. Biar lebih berasa..,” ledek Dokter Haris yang masih tergolek di pangkuan Tiara sambil mencubit kecil pipi gadis manis yang sedang malu-malu kesal itu.
Perlakuan Dokter Haris yang dirasa semakin romantis itu sontak membuat Tiara menjadi semakin salah tingkah, “Ih... Apaan sih! Kalau itu maunya kamu, ‘kan? Ya kan? Ngaku deh!” ucap Tiara geram sambil mencubit perut Dokter Haris.
“Loh, emangnya aku pernah bilang kalau aku nggak mau dicium sama kamu?” ledek Dokter Haris lagi.
“Hhmmm... awas aja kamu..,” Tiara mencoba mengancam sambil melepaskan pandangan dari tatapan Dokter Haris. Membuang pandangan untuk mengalihkan wajahnya dari Dokter Haris, agar merah pipinya karena tersipu itu tidak telalu ketahuan gugupnya oleh Dokter romantis ini.
Sesaat suasana hening.
Tiara mengembalikan tatapannya, mencuri pandang ke arah Dokter Haris, yang ternyata sedang memejamkan mata dan tertidur di pangkuannya.
Melihat Dokter Haris yang sedang terlelap, Tiara mengernyitkan matanya. Ada ide jahil yang melintas di benaknya.
Tiara menyiapkan jemari tangannya. Kemudian, dengan spontan ia menyerbu perut Dokter Haris, menggelitiknya dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
Tapi..., sepertinya Dokter Haris tidak merasakan apa-apa. Tidak ada ekspresi atau pergerakan apapun dari Dokter tampan ini atas serbuan jemari Tiara.
“Hmm... gagal,” pikirnya.
Dan....
Dokter Haris dengan sigap menaruh tangan kanannya di tengkuk Tiara dan menariknya. Keadaan kian memanas. Wajah Tiara memerah ditambah napas yang terengah-engah karena berusaha membuat geli Dokter Haris.
Kini wajah mereka begitu sangat dekat. Mungkin Dokter Haris bisa melakukan hal yang ia inginkan. Tapi, ia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk melakukannya.
Tapi, berbeda dengan Tiara. Ia berpikir Dokter Haris sedang berusaha untuk menciumnya. Ia belum siap menerima hal itu, tapi... sepertinya Tiaralah yang menginginkannya. Ia pun memejamkan matanya dengan tenang, mempersiapkan diri.
“Dengar, percuma kamu buat kayak gitu. Aku bukan orang yang penggeli!” ucap Dokter Haris lembut.
“What?? Loh... jadi, aku bukannya mau di...” pikir Tiara sambil dengan cepat membuka pejaman matanya. Tapi kini Tiara benar-benar bisa melihat wajah Dokter Haris dari dekat.
Karena begitu dekat, mereka sama-sama bisa merasakan hangatnya napas yang mereka keluarkan. Dan saat Dokter Haris berbicara, Tiara bisa merasakan aroma yang segar dari mulut Dokter Haris.
Mereka saling memandang cukup lama. Kemudian Dokter Haris melepaskan tangannya dari tengkuk Tiara. Akhirnya, Tiara bisa bernapas lega kembali sambil menegakkan badannya.
Dokter Haris bangun dari pangkuan Tiara dan duduk seperti posisi awal. Ia meraba saku celananya ingin mengambil sesuatu.
“Ini buat kamu,” ucap Dokter Haris sambil memberi sesuatu pada Tiara.
Sebuah hadiah kecil yang dibungkus dengan kertas merah muda dan pita merah muda pula.
“Apa ini?” ucap Tiara sambil mengambil hadiahnya.
“Kalau mau tau, ya di buka aja.” jawab Doker Haris.
Tiara membuka kado kecil itu. Setelah berhasil menemukannya, ia mengambil sebuah benda dalam kotak tersebut.
Benda yang diberikan Dokter Haris adalah sebuah gantungan kunci. Di sana terdapat sebuah gembok mungil yang ukurannya kurang lebih 1,5 cm beserta kuncinya.
“Gantungan kunci?” tanya Tiara heran.
“Iya. Suka nggak?” Dokter Haris balik bertanya.
“Suka...” ucap Tiara sambil tersenyum, “Tapi, ini buat apa?” menatap Dokter Haris.
Dokter Haris menatap balik ke arah Tiara. Dan sepertinya Tiara memang benar-benar ingin mengetahuinya.
“Gini ya, Ra... waktu kamu beli tas, apa kamu pernah nanya itu tas untuk apa?” tanya Dokter Haris.
“Ya... Nggak pernah lah. Tapi apa hubungannya?” tanya Tiara yang masih tidak mengerti.
Dokter Haris menarik napasnya dalam-dalam. Ia menepuk dahinya sendiri karena kesal dengan Tiara. Sementara Tiara masih tertegun tidak mengerti.
Akhirnya Dokter Haris berdiri dan berjalan hendak meninggalkan Tiara.
“Loh, kok malah ditinggal sih?” kata Tiara semakin bingung.
Tiara pun ikut berdiri dan mengejar Dokter Haris, “Hei... Tunggu!”
Tapi Dokter Haris tidak memperdulikan Tiara. Ia terus saja berjalan masuk ke dalam gedung lagi.
“Ih... Kenapa sih? Tiba-tiba main tinggal aja!” gerutu Tiara. “Emangnya aku ada salah ngomong?”
***
__ADS_1