Sahabat Pelangi Untukmu

Sahabat Pelangi Untukmu
Bab 6. Seandainya


__ADS_3

Ya, sejak tiga bulan yang lalu, di semester tiga tepatnya, Vania pertama kalinya sekelas dengan Tiara dan Gadis. Mereka bertiga bertemu dan berkenalan pula.


"Maaf, disini kosong nggak?" tanya Vania kepada Tiara.


Vania yang baru masuk ke kelas saat itu menanyakan bangku yang ada di depan Tiara.


"Oh iya, kosong kok. Silahkan.. silahkan.. Duduk di sini aja..."  jawab Tiara mempersilahkan sambil tersenyum ramah kepada Vania.


Kala itu pula Vania membalas senyum ramah Tiara, kemudian langsung duduk dan meletakkan tasnya. Ia pun mengajak Tiara berkenalan, menjabat tangan Tiara dan tak lupa pula dengan seorang wanita lainnya yang duduk di belakang Tiara, yaitu Gadis.


Baru beberapa menit saja berkenalan, suasana sudah sangat mencair dengan keakraban mereka bertiga. Mereka asyik bercengkerama. Ditambah lagi Gadis yang suka menceritakan hal-hal lucu, maka bertambah cair pula suasana perkenalan pertama mereka saat itu.


Vania yang sangat mudah menyesuaikan diri, mulai menjalin persahabatan dengan Tiara dan Gadis.


Sejak saat itu, mereka bertiga selalu menghabiskan waktu bersama. Tiara, si polos yang baik hatinya, tentu saja ia begitu bahagia karena mendapatkan satu sahabat lagi. Tak sungkan pula, Tiara mengenalkan Kelvin, kekasihnya, kepada Vania. Dan sejak perkenalan itu, mereka berempat sering terlihat bersama. Akrab sekali.


Saat itu, sama sekali tidak ada hal yang terlihat mencurigakan. Hanya perkenalan dengan sahabat baru. Itu saja.


Namun... seiring waktu persahabatan mereka, barulah terlihat ada yang aneh. Yang mengherankan adalah, sempat beberapa kali Gadis menjadi melihat Kelvin dan Vania berduaan. Bukan hanya di kampus, bahkan Gadis pernah melihat mereka bertemu di luar, seperti di mall, restoran, toko buku, dan di taman kota.


Saat itu, saat berulang kali dengan tanpa sengaja Gadis melihat mereka berdua, Gadis mencoba untuk berpikir logis, mungkin saja mereka tidak sengaja bertemu dan tidaklah mungkin mereka berdua mengkhianati Tiara. Namun Gadis tidak dapat mengelak kalau dirinya sendiripun, setelah beberapa kali sempat melihat Kelvin dan Vania berduaan di luar sana, mulai menaruh curiga pada mereka berdua.


Tapi, walau bagaimanapun berkecamuknya rasa penasaran Gadis pada Kelvin dan Vania, tetap saja hal semacam itu masih sanggup ia rahasiakan dari Tiara. Bahkan sampai saat ini pun ia masih mencoba ber-positive thingking untuk percaya pada Kelvin dan Vania bahwa tidak ada hal yang mencurigakan dari tiap pertemuan mereka, walaupun tetap saja itu terasa aneh. Karena hal itu bukan hanya sekali.


Gadis masih merahasiakan kecurigaannya kepada Kelvin dan Vania dari Tiara sebab ia selalu memikirkan apa yang akan terjadi pada Tiara jika apa yang ada di benaknya benar-benar terjadi? Ia tidak sampai hati melihat Tiara terluka.


Kemudian, Gadis yang masih terduduk bersila kaki di tempat tidurnya, dengan cepat langsung mengambil handphone-nya lalu menulis pesan:


Guys,


Besok, pulang kuliah kita makan bareng, yuk.


Aku yang traktir deh.


Maklum, baru dapat rezeki.

__ADS_1


Hehehe...


Lalu ia kirim pesan itu pada Tiara, Vania dan Kelvin. Ia mempunyai rencana untuk memastikan kebenaran dari keanehan-keanehan yang ada di benaknya selama ini.


***


Gadis, Tiara, Vania serta Kelvin telah berkumpul di salah satu kafe yang tidak jauh dari kampus mereka. Kafe tempat mereka biasa nongkrong bareng. Dan kali ini untuk kesekian kalinya, mereka berkumpul di tempat itu lagi.


Seperti yang di janjikan Gadis, ia ingin mentraktir teman-temannya.


Tiara yang paling antusias. Ia membaca satu persatu menu yang ada. Rasanya ingin sekali ia memesan banyak makanan dan membuat Gadis bangkrut. Tiara tertawa sendiri membayangkan jika Gadis sampai harus menghabiskan uangnya.


"Eh, Tiara! Ngapai kamu ketawa sendiri?  Awas kamu ya kalau macam-macam,"  Gadis memberi peringatan.


"Ih, kalau mau traktir itu jangan ngancam dong, wekkk..." balas Tiara dengan menjulurkan lidah kecilnya pertanda ejekan pada Gadis.


Pelayan yang sedari tadi menunggu sudah kelihatan kesal melihat tingkah mereka yang kerjanya hanya bercanda saja.


Lama banget sih pesannya! Nggak tahu apa, aku udah capek! Cepetan kali pesannya! kata Pelayan itu dalam hati.


Rasanya ia ingin teriak tapi sayang itu melanggar peraturan. Bisa-bisa dia di pites sama bosnya.


"Sebentar ya, Mbak. Masih milih..." kata Kelvin memohon sambil tersenyum manis.


"Iya, Mas. Nggak apa-apa kok. Silahkan dilihat-lihat dulu." jawab pelayan itu ramah, mungkin karena senyuman manis Kelvin. Hahaha


Sebentar... sebentar.., aku udah nunggu dari tadi kali! Hufft! ucap pelayan itu dalam hati lagi.


Akhirnya satu persatu mereka memesan makanan yang mereka inginkan. Tidak lupa, Tiara dan Gadis memesan cumi-cumi goreng, kesukaan mereka. Selagi menunggu, mereka menyempatkan ber-selfie ria, ya... berfoto bersama, hal itu sering mereka lakukan, dimanapun tempatnya, atau apapun kegiatan yang sedang mereka lakukan, ber-selfie ria itu tak pernah ketinggalan menjadi agenda yang harus mereka lakukan, sama seperti kebiasaan remaja-remaja masa kini. Kebayang dong, siapa yang jadi fotografernya. Yup, satu-satunya pria diantara mereka. Kelvin.


Tidak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun datang. Mereka begitu menikmati hidangan favorit mereka masing-masing. Menikmati hidangan, sambil mengorbrol ringan, itulah yang selalu mereka lakukan.


Tapi, disela santapan dan obrolan ringan mereka, secara diam-diam, Gadis memperhatikan Vania dan Kelvin. Kali ini.... memang tidak ada yang mencurigakan.


Lalu...

__ADS_1


"Ra, gimana pendapat kamu kalau salah satu dari kami mengkhianati kamu?" tanya Gadis dengan tatapan tajam ke Tiara sambil mengaduk segelas cappucino hangat di hadapannya.


Seketika suasana menjadi hening...


Dan secara tiba-tiba, kemudian Gadis melemparkan pandanganya kearah Kelvin dan Vania. Tetap dengan tatapan tajam, senyum kecil, dan kali ini seiring berpindahnya pandangan dari Tiara menuju ke arah Kelvin dan Vania, Gadis menghentikan  adukan sendok kecil di minumannya. Pertanyaan dan pandangannya itu...


Tentu saja mereka bertiga terkejut dengan pertanyaan Gadis.


"Hahaha, kamu ini kenapa, Dis? Tiba-tiba nanya kayak gitu?" sahut Tiara memecah keheningan.


"Hahaha, iya nih... aku jadi ngawur. Eumm.. Mungkin karena sekarang aku sering nonton sinetron kali..." jawab Gadis sambil tertawa juga.


"Wah, Gadis korban sinetron! Hahaha..." sambung Tiara geli menambah pecahnya suasana yangmenghening tadi.


Kevin dan Vania ikut tertawa kecil saja mendengar pembicaraan tersebut. Sebenarnya saat itu jantung mereka berdua terasa mau copot. Mereka pikir Gadis telah mengetahui semuanya.


"Tapi, Ra... kalau seandainya ada yang mengkhianati kamu dan mengambil hati orang yang kamu cinta, gimana?" tanya Tiara lagi, kali ini dengan senyuman biasa, tanpa tatapan tajam apapun atau kepada siapapun.


"Kalau memang seperti itu, aku akan mendekatinya, aku tatap matanya, terus...." tiba-tiba Tiara mengangkat garpunya dan menghentakkannya di atas piring, "Aku hajar tanpa ampun!” Tiara menusukkan garpu itu ke cumi goreng yang terhidang di piring sajinya. Kemudian, “Aku tusuk... Sampai jadi cumi goreng!Kayak gini, nih. Terus aku makan, happp!!!"Tiara mengangkat garpunya berikut cumi goreng yang telah menancap di garpu tersebut, lalu memakannya. “Hahahaha...” tawaan gurau kejam Tiara.


Saat Tiara berceloteh tentang kekejaman yang akan dilakukannya kala itu,Gadis melirik ke arah Vania, raut wajah Vania itu... ia hanya terlihat tertunduk saja, seperti orang yang sangat panik dan ketakutan. Kemudian Gadis mengembalikan perhatiannya ke arah Tiara yang sedari tadi sedang berceloteh dengan cumi goreng di mulutnya.


Dug! Gadis memukul kepala Tiara dengan botol plastik kosong bekas air mineral.


"Serem banget, sih!" ucap Gadis.


“Huh!” Tiara mengeluh kesakitan. Kelvin yang melihat Tiara yang begitu lucu dengan bibir yang ia monyongkan, ikut mengusap-usap kepala Tiara dari bekas pukulan Gadis. Mengusapnya lembut, melakukannya sesuai peran seorang pria yang harus melindungi wanitanya.


"Oh, iya... hampir lupa. Kita ke toko buku, yuk!" ajak Gadis. "Soalnya banyak komik yang baru keluar nih!" lanjutnya.


"Komik?? Beneran?? Aaaaaaaa... ayo kita kesana!" rengek Tiara.


Tetapi Vania terlihat berat hati dengan rencana teman-temannya itu, ia menolak ajakan tersebut secara halus. Ia sampaikan kepada teman-temannya bahwa ia sedang tidak ingin keluar, ia lebih memilih pulang ke rumah saja. Tapi Tiara tidak ingin Vania menolaknya. Tiara, si imut yang lugu ini, dengan segala kata-kata manisnya terus membujuk Vania, dan ya... apa boleh buat, siapa yang tidak luluh oleh rengekan Tiara, yang akhirnya membuat Vania setuju dengan ajakan mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2