Sahabat Pelangi Untukmu

Sahabat Pelangi Untukmu
Bab 26. Sahabat Kamu Bilang?


__ADS_3

“Iih....  Tiara ini... kemana sih dia?” oceh Gadis sambil berulang kali melihat jam tangan yang ia pakai di lengannya.


Sejak satu jam yang lalu ia sudah berada di rumah Tiara. Namun, orang yang di tunggu-tunggu belum juga pulang.


“Mana Hp-nya nggak aktif lagi. Huh...” kata Gadis sambil mencoba menelfon Tiara, hal yang sudah berulang kali pula ia lakukan sejak sejam yang lalu. “Dokter Haris juga, dari tadi nggak ada jawaban. Hmm...” ucap gelisah Gadis.


Gadis menjadi semakin resah, menunggu Tiara yang tanpa kabar dan sama sekali tidak bisa dihubungi. Ia takut kalau saja ada hal buruk yang terjadi pada sahabatnya itu.


Gemuruh dari langit memecah malam yang sunyi. Dibarengi hembusan angin yang cukup kencang, seperti tak mau kalah eksistensinya oleh guruh yang menggelegar.


“Ck.. Kemana sih! Udah mau ujan gini, ya ampun, Raaa,” Gadis semakin cemas.


Ting... Tong.... Suara bel berbunyi. Gadis melebarkan senyumnya, “Nah, itu pasti Tiara!” orang yang di tunggu-tunggu akhirnya pulang juga.


Ia bergegas berlari untuk membukakan pintu.


“Tiara, kamu ini... dari man.... a!” Gadis yang tadinya ingin marah, tiba-tiba menjadi terbata ketika mengetahui bahwa ternyata yang berdiri di depan pintu yang ia bukakan adalah... “Vania??”


Dengan memakai kaos putih yang lengannya digulung menjadi terlihat lebih pendek. Dipadukan dengan celana jeans berwarna biru aqua serta sepatu kets dengan warna yang sama pula, juga tas selempangan kecil berwarna coklat, Vania menebar senyum saat Gadis melihatnya dengan wajah heran.


“Hai, Gadis! Apa kabar?” sapa ramah Vania dari depan pintu rumah itu.


“Ngapain kamu kemari?” tanya Gadis jengkel, kecewa, sekaligus heran atas sosok yang dilihatnya ini.

__ADS_1


Ia heran apa yang ingin dilakukan Vania atas kunjungannya ini, ia juga kecewa sekaligus jengkel bahwa ternyata yang membunyikan bel bukanlah Tiara yang sejak tadi dengan gelisah sedang ditunggunya, tetapi malah Vania orang yang belakangan ini sangat membuatnya jengkel.


“Aku mau ketemu sama Tiara,” jawab ringan Vania.


“Tiara nggak ada di rumah. Lagian Tiara juga nggak bakal sudi ketemu sama kamu. Maaf ya,” ketus Gadis dengan langsung menutup kembali pintu rumah yang dibukanya tadi.


Tapi, belum sempat pintu tertutup rapat, Vania menahannya dengan tangan.


“Wait... wait... wait,” kata Vania sambil menahan pintu lalu mendorongnya perlahan hingga kembali terbuka, “Jangan galak-galak gitu dong. Aku dateng ke sini kan baik-baik.” sambungnya.


Tanpa dipersilahkan oleh Gadis, Vania langsung masuk ke dalam rumah. Kemudian duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya, membuat Gadis menjadi kesal dengan tingkah Vania.


“Kamu bisa sopan sedikit nggak sih!” sentak Gadis.


“Hahaha.. Bukannya kamu yang kurang sopan sama tamu? Tamu itu harus dilayani dengan baik dong,” jawab santai Vania yang masih duduk dengan tenang di sofa ruang tamu rumah Tiara.


“Pfftt... Hhaha... ‘sahabat’ kamu bilang? Ckckck...” tutur Vania dengan sedikit tertawa sinis.


Gadis sangat bingung dengan tingkah aneh Vania. Ia tertawa seolah-olah sedang mengetahui sesuatu. “Keluar kamu sekarang!” usir Gadis. Gadis tidak ingin terlalu ambil pusing dengan apapun perkataan Vania. Yang ia inginkan hanyalah agar wanita ini segera pergi dari hadapannya.


“Gadis... Gadis... Ternyata kamu juga bisa menyembunyikan sesuatu yang besar juga ya? Gimana kalau aku kasih tau sama Tiara? Kira-kira Tiara masih nganggap kamu sahabat nggak ya?” cecar Vania, yang semakin membuat Gadis bingung dengan tingkahnya.


“Dengar ya... aku beneran nggak ngerti maksud kamu apa, dan aku beneran nggak mau tau. Keluar sekarang!” usir Gadis lagi yang benar-benar gerah melihat ketidaksopanan Vania.

__ADS_1


“Heh, Gadis! Kamu itu nggak usah pura-pura polos di depan aku! Aku tau apa yang kamu lakukan di belakang Tiara!” lantang Vania, yang kali ini ia berbicara dengan bangkit dari tempat duduknya.


“Emangnya, apa yang aku lakukan di belakang Tiara, ha?” tanya Gadis geram.


“Hal ini cuma akan aku beri tau sama Tiara, nggak ke kamu,” jawab santai Vania sambil berdiri dan merapikan tas selempangnya lalu memberikan sorot mata liciknya kepada Gadis.


Karena sudah terlalu emosi, Gadis menarik baju Vania dengan kedua tangannya, “Dengar baik-baik ya, kalau kamu ngelakuin hal yang bisa nyakiti Tiara lagi, aku yang akan berurusan sama kamu!” ancam Gadis.


Vania menatap tajam mata Gadis, begitu pula sebaliknya. Rasa benci telah menyelimuti hati mereka berdua. Sepertinya kata persahabatan yang indah milik mereka dahulu sudah tidak lagi tersimpan dalam hati mereka masing-masing. Semua hal tentang kebersamaan yang selalu mereka jalani sebagai sahabat yang solidpun seperti sudah sirna begitu saja, ya... musababnya adalah satu hal, percintaan.


Hati yang tidak dapat dibersihkan lagi dari kebutaan cinta hanya akan menjadi semakin kelabu dan menggelap, hingga memori bahagia apapun tidak akan bisa lagi menjernihkan pemikirannya. Hingga yang terjadi saat ini hanyalah kebencian, kemarahan, dan permusuhan.


Gemuruh malam itu seolah turut menjadi latar belakang bayangan suasana hati mereka berdua, yang sama-sama sudah sangat gelap, penuh suara petir yang menggelegar layaknya emosi yang terlalu memuncak, seperti angin yang akan menjadi badai dan merusak banyak hal, layaknya pertengkaran, yang akan merusak kebersihan hati dan pikiran.


Spontan Vania menampik tangan Gadis untuk membuat Gadis melepaskan genggamannya dari baju yang ia kenakan. Terlihat jelas bias kebencian di wajah mereka berdua. Saling tatap penuh rasa amarah.


Vania kembali merapikan tasnya yang sedikit lengser dari bahunya karena guncangan badan bersebab cengkeraman Gadis kepada Vania tadi. Setelah itu, Vania kembali menatap tajam ke arah Gadis, ia pun memutuskan untuk pergi, meninggalkan rumah itu.


Setelah Vania beranjak, Gadis terduduk lemas di sofa. Ia menarik napas panjang.


“Ada apa dengannya? Untung aja Tiara belum pulang!” Gadis berbicara sendiri.


Ia menyandarkan tengkuk belakang kepalanya ke badan sofa, kemudian menatap langit-langit rumah itu, pikirannya menerawang jauh atas kejadian yang baru saja terjadi di rumah itu. Ia memejamkan mata, kemudian mengusap wajahnya perlahan dengan kedua telapak tangan, sambil menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya lagi perlahan.

__ADS_1


“Apa yang mau wanita itu lakukan? Rahasia apa yang dia maksud? Dia mau membuktikan apa?” pikiran Gadis kembali menerawang jauh kesemua kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya terkait dengan perkataan Vania beberapa saat lalu.


***


__ADS_2