Sahabat Pelangi Untukmu

Sahabat Pelangi Untukmu
Bab 16. Bunga yang Terluka


__ADS_3

“Dis, gimana keadaan Tiara?” tanya Kelvin to the point pada Gadis yang baru saja membenarkan duduknya.


“Udah mulai membaik kok. Tadi juga dia baru ngabarin aku, minta aku ke sana temenin dia,” jawab Gadis datar sambil menyuapkan sesendok mie goreng yang tadi dibawanya.


“Oh, syukur kalo gitu. Eum... dia gak nanyain aku, Dis?” tanya Kelvin lagi, kali ini dengan suara pelan.


Mendengar pertanyaan nyeleneh Kelvin, Gadis menghentikan kunyahan mie di mulutnya, kemudian langsung melontarkan pandangan ke Vania.


Sementara Vania yang sejak kedatangan Gadis tadi memasang wajah dengan senyum ramahnya, kali ini, ia menunduk.


Ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan Kelvin pada Gadis tentang Tiara, Vania hanya tertunduk saja sambil memainkan gelas minumannya.


Vania tertunduk dan mendengarkan Kelvin dan Gadis membicarakan Tiara. Hati Vania terganggu lagi suasananya.


Ada nama Tiara yang masih dikhawatirkan oleh Kelvin. Tapi tetap saja Vania tidak ingin memperlihatkan sikap cemburunya. Ia sangat pandai menjaga suasana hatinya agar tetap terlihat baik-baik saja.


Dan Gadis, yang memperhatikan dengan seksama perubahan gerak-gerik dan mimik wajah Vania yang seketika terlihat lesu itu, ia langsung meletakkan sendok mie yang sedang digunakannya, lalu berbicara dengan nada jelas kepada Kelvin...


“Vin, coba pikir baik-baik deh..,” kata Gadis tegas, yang membuat suasana menjadi tegang,


“Setelah kejadian kemarin, kamu masih bisa gitu dengan entengnya nanyain apakah Tiara nanyai kamu atau enggak. Kamu gak mikir kemarin itu ada kejadian sefatal apa yang udah kamu buat ke dia? Terus, kamu gak mikir juga gitu kalo di sebelah kamu ada Vania, pacar kamu kan??” sindir Gadis tegas.


Kali ini, Kelvin yang tertunduk lesu setelah mendengar ketegasan Gadis. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa bersalah dan khawatir kepada Tiara, tapi apa mau dikata... nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin akan dimasak sum-sum lagi.


Sejenak, suasana keduanya membisu... Kelvin dan Vania. Mereka tak saling pandang, tidak saling membela diri, ataupun membela satu sama lain atas pernyataan yang diutarakan Gadis tentang kejadian kemarin.


Vania diam sebab hatinya sedang tersayat karena cemburu atas perilaku Kelvin yang masih saja membahas tentang Tiara bahkan saat sedang bersama dirinya. Sementara Kelvin terdiam karena rasa berdosanya pada Tiara, dan tidak dipikirkannya tentang bagaimana hati Vania.

__ADS_1


“Yaudah deh... aku udah selesai makan. Aku cabut dulu ya, Vin.. Van. Mau ke rumah sakit lagi nih jengukin Tiara,” ucap Gadis dengan senyum.


Seusai menyantap hidangan siangnya, satu porsi mie goreng dan segelas orange juice, kemudian ia merapikan tas dan pakaiannya,bangkit dari tempat duduknya, lalu berpamitan kepada Kelvin dan Vania untuk beranjak dari tempat itu. Ia akan pergi menjenguk Tiara.


“Ia, Dis. Hati-hati ya... titip salam sama Tiara,” ucap Vania dengan nada suara lembut dan tersenyum ramah kepada Gadis. Sementara Kelvin hanya memberi anggukan kecil dan beserta senyum kecut saat Gadis yang berpamitan padanya.


Sepertinya Kelvin masih sedikit terpukul dengan cecaran Gadis kepadanya tadi.


Saat Gadis sudah beberapa langkah menjauh, kini hanya tinggal mereka berdua ditempat itu, Kelvin dan Vania. Dan entah kenapa suasana menjadi canggung sekali rasanya bagi Kelvin.


Sepertinya ia pun merasa bersalah kepada Vania, seperti yang ia tahu saja bahwa seharusnya dia juga memikirkan perasaan Vania ketika akan menyebutkan nama Tiara, seperti perkataan Gadis tadi.


“Van...” panggil lembut Kelvin kepada wanita yang duduk tepat di sisi kanannya. Ia mencoba memecah keheningan yang terjadi di antara mereka berdua.


“Kamu kesel ya sama aku?” tanya Kelvin sambil memandang Vania dengan tatapan yang sangat dalam.


Vania masih tertunduk. Dengan memasang wajah yang tersenyum kecil, ia tidak menjawab pertanyaan Kelvin. Yang ia lakukan hanya memainkan segelas cappucino di depannya, mengaduk-aduk minumannya tanpa ingin bersuara sedikit pun untuk berbicara sesuatu kepada Kelvin.


Namun genggaman tangannya sama sekali tak bersambut. Vania menampik perlahan jemari Kelvin yang ada dipunggung tangan kanannya.


“Van... kamu kenapa? Marah sama aku? Kamu cemburu ya?” tanya Kelvin memastikan penyebab kediaman Vania ini.


“Vin... pernah nggak, sekali aja... kamu pikirin aku yang sekarang,” ujar Vania.


“Kamu udah nggak sama Tiara lagi, sekarang cuma ada aku, kenapa kayaknya kamu masih khawatir banget sama Tiara?” cecar Vania, yang membuat Kelvin semakin kikuk atas semua kesalahan yang ia perbuat terhadap kedua wanita ini, Vania dan Tiara.


Vania menyelempangkan tas sampingnya, kemudian bangkit dari tempat duduk lalu pergi meninggalkan Kelvin, tanpa sepatah kata apapun lagi.

__ADS_1


Kelvin semakin terdiam.


Tidak dengan sigap ia bertindak sesuatu atas beranjaknya Vania dari tempat itu. Kelvin menyadari kesalahannya sudah teramat besar terhadap Vania yang kini telah menjadi satu-satunya kekasih yang ada di sisinya. Ia amat menyadari kewajaran dari kediaman Vania terhadapnya, ia tahu bahwa sudah pasti hati Vania akan sekesal itu atas dirinya.


Kelvin kini semakin tertunduk.


Menyembunyikan kepalanya di antara ke dua siku tangannya. Memegang kepalanya erat-erat, seolah sangat menyesali semua perbuatannya tadi yang telah membuat hati kekasihnya tersinggung.


Sama sekali tidak ada maksud untuk membuat hati bunganya terluka. Tapi sisi lain, di hatinya masih tersimpan kemanisan bersama Tiara dulu, yang membuatnya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran kepada Tiara, yang justru membuat hati bunganya terluka.


“Maafin aku, Van,” lirih Kelvin kepada jejak bayangan Vania di sisinya.


Vania, bunga keduanya yang sedang terluka...lagi...karena hatinya yang ternyata masih saja terbagi.


***


"Permisi, selamat siang. Ada pasien yang namanya Tiara nggak? Ini nih, ada kiriman apel dari Mang Tatang, tukang buah yang ada di depan kampus.”


Ada yang mengetuk pintu kamar inap Tiara.


“Iya, Mbak..., masuk aja,” sahut Tiara penasaran dengan kepala agak melongok ke arah luar pintu, “Siapa sih...” tanyanya lirih.


“Baaaa!!!!! Hhahahahaha, kaget kan! Ya dooong, pasti kamu kaget kan Ra lihat aku yang datang,” gelak Gadis mengejutkan Tiara.


“Ya ampun, Gadiiiiiiiis.... Ssssstttth... jangan berisik, ini rumah sakit tauuuuuu!” omel Tiara kepada Gadis dengan suara setengah berbisik.


“Pelanin nggak suara ketawa kamu itu, atau aku aduin nih sama dokter Haris, biar kamu kena omel sama dia!” oceh Tiara makin panjang atas tawa Gadis yang jua henti.

__ADS_1


“Eh... eh... apa??? Siapa??? Dokter Haris??? Iya???” tanya Gadis setengah keheranan karena Tiara menyebutkan nama dokter itu.


Sebab setahu Gadis, Tiara sedikit kesal kepada dokter yang bernama Haris itu, dokter yang tidak pernah ramah atau pun senyum pada Tiara.


__ADS_2