
Deg! Jantung Gadis terasa copot mendengar pertanyaan itu. Ia diam seribu bahasa. Hatinya bertanya-tanya, apakah Tiara hilang ingatan??
“Kamu...., kamu nggak ingat sama aku, Ra? Ini aku, Gadis. Sahabat kamu!” kata Gadis mencoba meyakinkan.
Tiara tampak sangat bingung. Ia mengerutkan dahinya lagi, seperti sedang berusaha dengan keras untuk mengingat sesuatu.
“Kamu benar-benar nggak ingat sama aku?” tanya Gadis sedih.
Wajah Gadis berubah menjadi sedih. Hatinya begitu terluka jika benar adanya bahwa sahabatnya ini tidak lagi mengingatnya sama sekali.
“Hi.. Hi.. Hi..” tawa kecil Tiara.
Badannya terlihat bergetar karena tidak bisa menahan tawanya. Tapi, Gadis masih bingung dengan sikap Tiara. Wajahnya masih terheran-heran dengan tertawaan itu. Lama-kelamaan Gadis tersadar, bahwa dirinya telah tertipu oleh Tiara.
“Tiaraaaaaaaaa! Kamu nipuin aku ya?” tanya Gadis kesal.
“Hahaaha.. Lucu.. Lucu banget!” tawa Tiara.
“Ih, kamu tega banget sih! Aku khawatir, tahu!” jawab Gadis lirih. “Aku ini nggak bisa lupain kejadian waktu kamu kecelakaan dulu, aku takut kamu kayak gitu lagi, kok kamu malah becanda sih iiiih..” omel Gadis pada Tiara.
“Yah, tapi kan karena kejadian itu kita jadi sahabat!” jawab Tiara enteng.
“Kamu bodoh banget ya! Kamu itu udah membahayakan diri kamu sendiri! Please, Ra... jangan ulangi lagi. Apa pun masalah kamu, aku selalu ada buat ngebantu kamu,” oceh Gadis.
“Dis, kamu sahabatan sama aku karena berhutang nyawa sama aku?” sambung Tiara yang kemudian menghentikan ocehan Gadis yang panjang itu.
“Bukannya gitu, Ra. Tapi aku....” jawab Gadis.
“Kalau gitu, aku mohon lupain kejadian-kejadian yang pernah aku alami dulu. Waktu selalu berputar ke depan. Nggak bisa kembali lagi,” kata Tiara memotong pembicaraan Gadis sambil melempar senyum.
Gadis menganggukkan kepalanya sambil menghapus air mata di pipinya.
“Em... Dis, kamu nggak bilang sama orang tuaku, kan?” tanya Tiara.
“A... Soal itu....” jawab Gadis khawatir.
__ADS_1
“Halo sayang....” sapa orang tua Tiara berbarengan yang tiba-tiba datang.
Tiara terkejut melihat kedatangan orang tuanya. Tiara langsung memelototi Gadis. Sementara Gadis hanya tertunduk manyun saja saat dipelototi Tiara seperti itu.
“Ya ampun... Anak mama udah kayak mumi... Hahaha,” ledek mamanya.
“Mama....” jawab Tiara kesal.
“Udah, jangan dengerin mama kamu. Nih, Papa bawain oleh-oleh. Ada baju, sepatu, tas, topi, bando, pakaian dalam...” kata ayahnya sambil mengeluarkan satu-persatu barang yang dibawanya.
Tiara mendengar suara cekikikan. Ternyata suara itu berasal dari Gadis. Tiara langsung memelototi Gadis lagi. Dan Gadis pun meredam tawanya.
“Papa, aku tuh lagi sakit, bukan mau pindahan..,” kata Tiara merengek.
“Papa!” bentak istrinya. Sang ayah pun jadi tertunduk karena dimarahi dan menyusun kembali barang-barang yang dibawanya itu.
“Ma,Pa, kalian nggak perlu ke sini. Tiara baik-baik aja kok. Tiara tahu kalian pasti lagi sibuk banget,” ucap Tiara cemas.
“Gak apa-apa, sayang. Mama sama Papa bisa tinggalin pekerjaan demi kamu kok, Nak.” jawab ibunya.
“Jangan, Ma. Tiara gak apa-apa kok. Lagian di sini kan ada Gadis,” kata Tiara sambil melihat ke arah Gadis.
Tiba-tiba dokter pria itu datang lagi ke ruangan Tiara. Ia ingin memeriksa kondisi Tiara.
“Wah... Ada dokter ganteng. Namanya siapa, Dok?” kata ibunya Tiara sambil mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan.
“Saya, Haris,” jawab dokter sambil tersenyum ramah dan menyambut jabat tangan dari ibunya Tiara.
Tiara sangat kesal dengan tingkah ibunya yang merayu dokter itu. Inilah sebabnya Tiara tidak ingin orang tuanya menjenguknya. Orang tuanya itu sangat banyak bicara saat bersama Tiara. Walaupun begitu, bukan berarti Tiara tidak sayang pada mereka. Hanya saja, Tiara tidak ingin mereka mempermalukan diri sendiri.
“Oh, iya kondisi anak saya gimana, Dok? Bisa pulih dengan cepat nggak? Soalnya kasihan anak saya, Dok... udah kayak mumi,” sambung ayahnya Tiara yang melihat kondisi anaknya yang hampir separuh tubuhnya ditutupi perban.
“Sebentar, Pak. Saya periksa dulu,” jawab dokter Haris.
Dokter ganteng itu langsung memeriksa kondisi Tiara dengan dibantu seorang perawat.
__ADS_1
Tiara terus memperhatikan dokter itu. Tiara masih teringat dengan sosok pria yang telah beberapa kali menolongnya. Terakhir ia melihat sosok itu setelah ia sadarkan diri. Samar-samar ia masih ingat benar bahwa pria yang menolongnya waktu itu mirip sekali seperti ini, seperti dokter Haris ini.
Tiara tidak habis pikir. Mana mungkin dokter Haris yang melakukannya. Karena sebelumnya mereka tidak saling mengenal. Memang benar dokter Haris yang menolong Tiara pada saat kecelakaan sekarang, tapi yang menolongnya di rumah waktu itu, tidak mungkin dia kan.
Apa mungkin orang yang sama?? Ah, masa iya, sih? gumam Tiara dalam hati.
Tiara masih memperhatikan wajah dokter itu. Karena, walaupun terlihat samar Tiara yakin orang yang menolongnya adalah orang yang sama.
Tapi, mungkin bukan Dokter Haris, di benaknya, Tiara menyangkal kalau orang itu adalah dokter Haris.
“Ah... Tiara serius banget sih lihatin dokter. Kamu naksir ya?” celoteh ibunya.
Tiara yang tersadar dari lamunannya terkejut mendengar ibunya berbicara seperti itu. Ditambah lagi cekikikan dari Gadis. Ia kelihatan sangat senang jika Tiara digoda oleh ibunya. Tiara semakin kesal melihatnya. Ia merasa dipermalukan oleh ibunya sendiri.
“Oh, iya... Dokter udah punya pasangan belum? Kalau belum, kayaknya cocok sama anak saya, hahaha...,” goda sang ibu.
“Mamaaaa...!” kata Tiara sambil melotot melihat ibunya.
“Loh... Mama bener, kan? Ya nggak, Pa?” ucap ibunya dan bertanya pada suaminya.
“Iya, sayang, Mama kamu bener. Mama sama Papa nggak bisa jagain kamu tiap hari. Tapi, mungkin kalau punya pasangan, kami bisa lega,” balas sang Papa kepada Tiara.
“Tuh, kan. Apalagi kalau pasangan kamu seorang dokter kayak dokter Haris ini. Gimana, Dok? Mau nggak sama anak saya?” celoteh ibunya lagi.
“Eemm...” Dokter Haris tampak bingung menjawab perkataan dari ibunya Tiara.
Melihat Dokter Haris yang kelihatan bingung,Tiara langsung memarahi ibunya, “Mama apaan sih... Udah-udah... sana keluar. Tiara mau istirahat, nih!” ucap Tiara setengah kikuk di hadapan dokter ganteng itu. Kikuk dan sedikit malu dengan penyataan ibunya tadi.
“Ya udah deh, kalau gitu kita bicarakan di luar aja ya, Dok,” sambung ibunya lagi sambil berjalan menuju pintu keluar ruangan tempat Tiara dirawat.
Mendengarnya celotehan ibunya itu Tiara semakin kesal. Ia tidak habis pikir orang tuanya akan membicarakan itu. Dan yang lebih menyebalkan lagi, Gadis masih saja cekikikan, membuat Tiara semakin manyun dan melotot pada Gadis.
“Gadis apaan sih, ihh!” teriak Tiara manyun.
“Tiara, ternyata orang tua kamu itu punya selera humor yang tinggi juga ya.Udah lama nggak lihat mereka kayak gitu,” ucap Gadis girang.
__ADS_1
“Ya Allah... Kayaknya di sini nggak ada yang peduli sama perasaan aku, deh..,” ratap Tiara sambil mendongakkan kepalanya ke langit-langit ruang rawat inap itu. Kesal dengan godaan ibu, ayah dan sahabatnya.
***