
Dia adalah seorang mahasiswa keguruan di sebuah universitas negeri di kota Surabaya. Saat ini umurnya menginjak 22 tahun, oh tidak sebentar lagi akan masuk 23 tahun tepatnya dua bulan lagi. Diumurnya yg segitu seharusnya dia sudah tamat kuliah, tapi kenyataannya dia masih kuliah meskipun sudah semester akhir. Hal itu terjadi bukan karena kehendaknya, nasibnyalah yang kurang beruntung.
Namanya adalah Latifah Rasyidin biasa dipanggil Ifah, gadis cantik berkulit putih dengan tinggi badan 160 cm, berambut panjang melewati bahu yang hitam agak bergelombang. Dia memiliki seorang kakak laki2 namanya Ridwan, alhamdulillah sekrang dia sudah bekerja sebagai TKI di Jepang setelah lulus kuliah arsitek di salah satu Universitas Swasta di kota Surabaya juga. Hal itulah yg membuat Ifah harus menunggu antrian untuk bisa masuk kuliah, yah.. karena keterbatasan biaya jadi dia harus nganggur dua tahun setelah tamat SMA. Bapak Ifah bernama Rasyidin Altaf, dia hanyalah seorang guru sekolah dasar dan saat Ridwan dan Ifah kuliah Bapaknya pensiun dari mengajar. Tapi mereka masih bersyukur karena walaupun Ibuknya sudah lebih dulu meninggalkan mereka, Bapaknya tidak pernah kurang dalam mendidik dan menyayangi mereka serta selalu memenuhi kebutuhan termasuk pendidikan bagi kakak beradik itu. Jarak kampung Ifah ke Kampus sangat jauh, hampir 3 jam jarak tempuh yang harus Dia lalui. Jadilah Ifah harus ngekost untuk menghemat pengeluarannya serta untuk memudahkannya untuk kuliah.
Sejak Ridwan bekerja Ifah selalu dapat kiriman uang untuk nambah-nambah biaya kuliah dan uang jajan, walaupun tidak banyak tapi untuknya itu sudah sangat cukup. Kalau untuk bayar kost Bapaknyalah yg selalu kirimkan. Bapaknya tidak bisa mengirim banyak karena di kampung bapaknya juga harus memenuhi kebutuhannya. Ditambah lagi Bapaknya terlilit hutang di bank untuk biaya kuliah Ifah dan Kakaknya, makanya uang pensiun Bapaknya tidak seberapa karena terpotong cicilan Bank.
Hari ini adalah sidang skripsi Ifah, ujian penentu kelulusannya. Dengan bismilah Ifah masuk ruang sidang skripsi, ruangan kantor Dosen yang disulap menjadi tempat sidang di disain sedemikian rupa layaknya tempat interogasi tersangka. Tiga buah kusi berderetan untuk tiga orang Dosen penguji dengan masing-masing meja yang dialas dengan taplak warna hijau tua dan dua kursi untuk sang mahasiswa yang didampingi seorang Dosen pembimbing. di sinilah Ifah sekarang, bak tersangka yang harus menjawab setiap pertanyan yg dilemparkan atas tuduhannya. Namun bersyukur bagi Ifah, ujiannya kali ini berjalan dengan mudah dan lancar dikarenakan skripsinya adalah hasil karya dan totalitasnya sendiri dan tentunya berkat bimbingan Dosen pembimbingnya Pak Ihkwan yg selalu membantunya. Akhirnya Ifah lulus ujian skripsi dengan predikat A.
__ADS_1
Dengan segera Ifah keluar dari rungan mencekam itu, ketika membuka pintu dia sudah disambut oleh para sahabanya Hesti dan Weni. Sahabat tempat berbagi segalanya sampai uang jajan, karena hanya Ifah yang jadi anak kost, Hesti dan Weni tinggal dengan orang tuannya dan termasuk orang berada.''Ifah gimana ujian lo Fah lulus ga? Lancar ga, trus Dosen-Dosen penguji babat habis lo pasti yah...'' Begitulah deretan pertanyaan yang dilemparkan para sohibnyanya itu dengan antusiasnya. Bergegas Ifah menyeret sahabat-sahabatnya itu untuk menjauh dari depan ruangan ujian itu karena sangat berisik sekali.''duh berisik banget sih, yok sana dulu baru gue jelasin.'' Omel Ifah.
Di sini lah mereka sekarang, dibawah pohon rindang di samping gedung fakultasnya, tempat favorit mereka buat bertukar cerita berkeluh kesah. ''Jadi giman ceritanya Fah, gue udah ga sabar nih.'' Sergah Hesti tepat saat mereka telah duduk. ''Iya nih Fah, ceritain dong biar ntar klo kita ujian juga kan tau tuh gimana-gimananya.'' Balas Weni. Dengan penuh semangat Ifah menceritakan setiap detil yang dilaluinya saat menjalankan ujian skripsinya tadi. Ceritanya tiba-tiba berhenti ketika satu buket bunga berada tepat di depan wajahnya. Diiringi dengan suara ucapan selamat dari seorang laki-laki. ''Selamat ya sayang, akhirnya perjuanganmu terselesaikan tepat waktu.''
Dia adalah Windu, laki-laki yang berstatus pacar Ifah. Mereka pacaran saat Ifah menginjak semester dua. Sedangkan Windu saat itu sudah masuk semester enam, sekarang Windu telah menyelesaikan kuliahnya dan telah berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil) tepatnya tiga bulan setelah kelulusannya. Yah seperti itulah, berkat kekuasaan yg dimiliki oleh keluarganya yg notabennya pegawai pemerintahan. Jadi mudah baginya untuk mendapat status yang sama. Sekarang Windu telah mengajar di sebuah sekolah tepatnya SMA Negeri di kota tempatnya tinggal yaitu kota Surabaya. Ifah dan Windu pacaran cukup serius dan bahkan hubungan mereka sudah diketahui masing-masing keluarga. pada saat Windu telah berstatus PNS Windu berjanji pada Ifah bahwa ia akan melamar Ifah tepatnya setelah Ifah wisuda.
Seulas senyum terbit dari bibir Ifah seraya mengambil buket bunga dari tangan Windu.''Makasi Win, aku pikir kamu ga datang. Semalam bilangnya lagi ada diklat di luar kota.'' Windu yang sengaja memberi kejutan buat Ifah langsung tertawa.'' Gimana bisa kerja kalo belahan jiwa lagi sedang berjuang, kamu itu nomor satu buat aku yang lain bisa digeser.'' Ucap Winndu sambil menggeser Weni yang tepat di samping kiri Ifah. '' E e eh...apa-apan sih Kak Windu, main nyerobot ajah, Weni hampir jatuh nih.'' Kesel Weni yang hampir jatuh ketanah karen gerakan tiba-tiba Windu.
__ADS_1
Sebenarnya Hesti sudah tau kalau temannya ini mau bicara serius sama kekasihnya itu. Tadi malam Ifah sudah cerita banyak dengan Hesti tentang ke gundahan hatinya tatkala Windu yang beberapa bulan terakhir ini sangat jarang berbagi kabar dengannya, yah alasan yang selalu sama.. sibuk. Tepat sekali Windu datang, jadilah dia memberi ruang buat sahabatnya itu untuk bicara langsung dengan kekasihnya.
''Kamu gimana sih Win, tiap kali ketemu Weni selalu bikin dia kesel.'' Ucap Ifah memulai bicara setelah sekian detik teman-temannya pergi Windu diam seperti memikirkan sesuatu. ''habis temenmu itu jutek terus kalo aku datang pas kalian lagi ngumpul gini.'' Balas Windu seranya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemuadian suasana kembali hening, ntah perasaan Ifah atau benar kalo Windu menyembunyikan sesuatu darinya. Dengan segenap kekuatannya, Ifah beranikan diri membuka suara sambil menatap ke arah Windu. ''Win, kok belakangan ini kamu jarang banget hubungin aku. Apa ada sesuatu yang lagi kamu sembunyiin dari aku? Tanya Ifah dengan penuh selidik. Windu terlihat menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Kemudian tanpa jeda Windu menjawab, ''Maafin aku Fah, hubungan kita ga bisa kita lanjutin lagi.'' Ifah yang sangat kaget sontak berdiri dari duduknya, dengan sigap Windu menarik pelan tangan Ifah dan membawanya duduk kembali. '' Kamu berhak marah sama aku, kamu boleh maki aku, atau bahkan nampar aku Fah. tapi aku ga ada pilihan lain.'' Melihat Ifah yang masih menunduk, membuat Windu kembali berucap, '' Ini semua kehendak orang tuaku, keluargaku sudah memutuskan kalau aku akan dijodohkan dengan anak dari atasan Pamanku, aku ga hisa berbuat apa-apa Fah. kamu tau sendirkan gimana tegasnya Pamanku itu, dan lagi ini adalah balas budi kami atas bantuannya meloloskan Aku jadi PNS".
Ifah yang menunduk langsung mengangkat kepalanya dan menatap lekat manik mata Windu, mencari tempat apakah masih ada harapan untuknya bertahan. Tetapi itu tidak ditemukan oleh Ifah, air matanya mengalir begitu saja tanpa permisi. Sesak didadanya membuat Ifah tak mampu lagi untuk membuka mulutnya. Diremasnya buket bunga yang sedari tadi dalam genggamannya, hanya air mata yang dapat memawakili perasaannya saat ini. Baru beberapa menit yang lalu hatinya dipenuhi kebahagian, tapi sekarang hatinya begitu hancur berkeping-keping karena harapan dan angan-angannya tercabik-cabik karena kata putus dari belahan jiwanya itu.
Begitu banyak kenangan yang menari-nari dalam ingatannya, hati Ifah begitu hancur. Dengan sekuat tenaga yang tersisa Ifah bangkit dari duduknya bahkan buket bunga terjatuh begitu saja dari genggamannya dan kembali Windu menahan tangannya. Namun kali ini Ifah sudah tidak tahan lagi, dihempaskannya tanga Windu dan melangkah cepat menjauh dari orang yang memberi luka pahit dalam hidupnya. Windu hanya bisa menatap sendu punggung wanita yang pernah mengisi hari-harinya.
__ADS_1
Sebernarnya Windu sangat berat untuk mengatakan keputusan ini dengan Ifah, mengingat cintanya yang begitu besar serta janjinya kepada Ifah yang akan melamarnya setelah dia selesai kuliah. Namun apa, malah kata putus yang harus dia berikan untuk wanita yang begitu baik dan sangat dicintainya. Entah bisa atau tidak, yang jelas Ifah sampai saat ini masih tetap merajai hatinya. Tetapi dia tidak bisa melawan keluarganya, karena terikat balas budi tersebut.
Seiring menghilangnya Ifah dari pandanganya, Windu pun beranjak dari tempatnya untuk meninggalkan semua kenangan indahnya dengan Ifah. Entah apa yang akan terjadi dengan wanita itu, Windu menghemmbuskan berat nafasnya dan melangkah pergi menjauh.