
Hari ini adalah hari paling mendebarkan buat Ifah, karena dia telah resmi menjadi tenaga honorer di sebuah sekolah Negeri di kampungnya. Meskipun gajinya sangat minim, namun semangatnya untuk meraih cita-cita menjadi guru PNS sangat besar. Dia ingin membanggakan keluarganya terutama Bapaknya yang telah berjuang untuk masa depannya. Apa lagi Bapaknya pernah berkata, '' Bapak berharap Ifah bisa menjadi penerus Bapak untuk menjadi tenaga pendidik, apalagi kalau Ifah bisa jadi PNS.'' Ya, itulah predikat tertinggi kalo Ifah rasa di kampungnya. Kalau sudah jadi PNS berarti sudah jadi orang hebat.
Dengan penuh semangat menguatkan hatinya agar tidak terlalu lama terpuruk walaupun tak ada satu orangpun yang tau terkecuali para sahabatnya Hesti dan Weni, Ifah masuk ke gerbang sekolah tempatnya berjuang sekarang ini.
Di sinilah Ifah sekarang, di depan kelas yang akan di ajarnya. '' Asslamu'alaikum semua.'' Ucap Ifah sambil melangkahkan kaki menuju meja guru, dan tak lupa senyum manis sejuta umat yang tidak pernah pudar dari bibir manisnya. Sontak para murid menjawab dengan serentak, ''Wa'alaikumsalam buuukk.'' Dan di ujung kalimat itu ada dua atau tiga orang siswa laki-laki menambahkan,''buuukk...guru cantik.'' Riuhlah kelas itu jadinya dan Ifah pun ikut tertawa. Itulah awal yang indah bagi Ifah dalam memulai aktifitasnya. Ifah bersyukur semua murid yang diajarnya hampir semua bersikap baik, walaupun kadang ada-ada saja ide jahil dari beberapa siswa yang menggodanya bahkan sampai tak segan-segan memberinya hadiah. Namun bukan Ifah namanya kalu tidak bisa mengimbangi jahilnya para muridnya tersebut.
Sejak kejadian di kampus waktu itu, Ifah tak pernah berkomunikasi apalagi bertemu dengan Windu. Baginya sudah cukup untuk tidak lagi berharap akan hubungannya dengan Windu. terlebih lagi yang membuat ifah lebih sakit hati saat mamanya Windu yang pernah datang menemuinya disekolah tempatnya mengajar. ''Assalmmu'alaikum Ma, Mama kok tau Ifah ngajar disini?'' Ucap Ifah sambil mencium takzim tangan Mama Windu, meskipun Mama Windu membiarkan tangannya di cium Ifah namun terlihat jelas raut wajahnya kalau dia sangat tidak senang terhadap Ifah.
Sebernarnya orang tua Windu tepatnya Mamanya memang sejak awal kurang menyukai hubungan Windu dengan Ifah dengan alasan yang tidak jelas. Mama Windu mengajak Ifah ke sebuah kafe yang tidak jauh dari sekolah tempat Ifah mengajar. Ifah yang segan menolak hanya bisa diam mengikut saja.
''Ada yang ingin saya omongin sama kamu! Langsung saja ke intinya, saya harap kamu lepasin Windu dan jangan kasih harapan lagi sama dia. Jangan buat anak saya jadi anak durhaka. Kamu itu seharusnya memberikan contoh yang baik buat anak didik kamu, jangan malah menjadi contoh yang buruk buat mereka!'' Omel Mama Windu dengan nada yang makin naik satu oktaf.
''Maaf maksud tante apa ya?'' Delik Ifah yang menukar panggilannya karena tidak suka dikatakan demikian apalagi semua mata mengarah kepadanya.
''Asal Tante tau, sejak dia memutuskan hubungan kami, sejak itulah saya sudah melepas anak Tante dari hidup saya. Jadi ga ada alasan tante buat ngomong seperti ini sama saya.'' Balas Ifah.
''Kalau kalian udah putus, kenapa Windu belum mau juga nerima perjodohannya hah..kalo bukan itu karna kamu. Dasar ya, kamu kayak wanita ga laku aja mesti kamu harus nahan-nahan anak saya biar tetap sama kamu. Ingat ya, kamu itu cuma guru honorer sedangkan Windu udah PNS. Atau jangan-jangan itu ya yang buat kamu ga mau lepasin Windu iya hah..!!'' Ucap Mama Windu dengan sorot mata tajam dengan telunjuknya yang mengarah ke wajah Ifah. Tidak tahan dengan perkataan Mama Windu yang yerus memojokannya, Ifah berlalu pergi tanpa menghiraukan teriakan Mama Windu yang terus meneriakinya. Sekuat hati Ifah tahan air matanya agar tidak menetes di depan Mama Windu. Namun baru selangkah kakinya berjalan, cairan bening itu mengalir tanpa permisi seperti dia yang meninggalkan Mama Windu tanpa pamit. Begitu sakit hati Ifah, dia yang tidak tahu apa-apa disalahkan dengan kasar oleh Mama Windu. Dada Ifah terasa sesak, tidak terbayang olehnya perkataan kasar apalagi yang akan dilontarkan oleh Mama Windu jika dia masih berlama-lama di sana.
Sebenarnya Hesti dan Weni tidak tahu kalau Ifah putus dengan Windu, mengingat begitu romantisnya hubungan mereka. Namun karena pada saat acara Wisuda Ifah, Windu tak nampak batang hidung. Jadilah para sahabatnya itu bertanya-tanya dan akhirnya Ifah pun menceritakan semuanya. Hanya kata sabar dan semangat yang dapat mereka ucapkan untuk sahabat karibnya itu. Kalau untuk Bapak dan kakaknya Ridwan, Ifah tak perlu menjelaskan apa-apa mengingat Windu tidak pernah meminang Ifah secara langsung, apalagi Windu juga sangat jarang bertemu langsung dengan Bapak Ifah.
Waktu berlalu begitu cepat, satu tahun sudah Ifah menjadi tenaga honore dan sekarang sedang libur panjang akhir semester setelah kenaikan kelas bertepatan dengan lebaran Idul Fitri. Saat ini Ifah sedang melakukan video call dengan Hesti dan Weni secara bersamaan.
'' Ifaaah.., gimana kabar Lo? Sombong ya mentang-mentang udah sarjana Lo lupain kita yang mau jadi calon mahasiswa abadi ni.'' Kata Weni tanpa aba-aba.
''Kita? Lo aja kali..'' Imbuh Hesti. ''Denger ya, proposal gue udah diterima dan sebentar lagi gue mau ujian proposal, jadi gue ga termasuk tuh calon mahasiswa abadi.'' Tambah Hesti sambil menjulurkan lidahnya mengolok Weni.
''Ya ya..Gue bukan Lo. Betewe gimana nih kabar cikgu cantik nan seksi kita yang satu nih? Jangan-jangan udah punya brondong lagi hahaa...'' Merekapun tertawa lepas bebas hambatan seperti jalan tol.
'' Kalian yah, bukanya minnal aidin wal faizin malah nyerocos aja kayak kran bocor.'' Ucap Weni. Kembali Ifah dan Hesti tertawa.
'' Alhamdulillah kabar gue baik, makin baik malahan''. Ucap Ifah.
''Gue kangen tau kita ngumpul-ngumpul lagi kayak dulu, apa lagi sekarang jadwal Hesti yang batal jadi CMA (Calon Mahasiswa Abadi) ini sibuk banget, jadi gue kesepian deh.'' Ungkap Weni sambil membuat raut sendu diwajahnya.
''Ha haha..gimana lagi, gue udah bosen jadi mahasiswa, pengen cepet kerja gue biar ngga gantung terus sama bokap nyokap.'' Balas Hesti.
__ADS_1
jadilah mereka bernostalgia dengan ifah hanya menjadi pendengar yang setia dengan sesekali menimpali.
Tiba-tiba hesti meberanikan diri bertanya tentan hubungan ifah dengan windu selepas dari apa yang pernah ifah ceritakan. '' giman hubungan lo sama kak windu fah?''
Ifah menarik nafas dalam dan melepaskannya pelan. ''Yah gitulah, memang semua harus berakhir. Buat apa memperjuangkan orang yang tidak mau memperjuangkan kita. Sekarang gue udah ikhlas dan ngelupain semuanya. Bagi gue dia cuma masa lalu, dan gue anggap dia bukan yang terbaik dari Tuhan buat gue.'' Walaupun senyum terbit di wajah Ifah, namun rasa sakit itu masih tetap ada. Tapi Ifah harus kuat karena dia tau hidup bukan hanya kemaren atau sekarang, tapi ada masa depan.
'' Kapanpun Lo butuh kita, kita siap denger cerita Lo, meski jarak dan waktu memisahkan kita, ga akan ngurangin kasih sayang kita buat Lo.'' Ucap Weni.
'' Lebay Loh..!'' Balas Ifah dan Hesti bersamaan sambil di iringi tawa renyah mereka bersama.
Tak beselang lama terdengar suara Bapak Ifah memanggil. '' Ifah, ada Nning tu di depan. Dari tadi dia ngucapin salam masa ga denger sih.'' Kata Bapaknya penuh selidik.
''Hehe.. maaf Pak, ga denger Ifah lagi video call sama Jesti dan Weni.'' Jawab Ifah sambil nyengir kuda.
'' Ya sudah, temui gih Niningnya kasian dari tadi panggilin kamu.''Ujar abapaknya berlalu.
''Iya Pak.'' Jawab Ifah. '' Gaes gue udahin dulu yah, itu lagi ada tamu di depan. Ntar kapa-kapan kita ngerumpi lagi ok.'' Ucap ifah dengan mengacungkan satu jempol tangannya.
''Iya deh, kita udahin dulu. Tapi janji ya kita ga boleh putus komunikasi. Kalo nomer ponsel tukar langsung kabari.'' Kata Hesti.
''Asyaaap..'' Balas Weni dan Ifah serentak.
'' Ada apa Ning, maaf tadi aku lagi video call sama temen-temen, udah lama ya?'' Ungkap Ifah sambil mempersilahkan Nining duduk lagi.
''Ga , baru juga sebentar. Oh iya Fah, gini nanti malam kita pergi ke pasar malam yuk. Ada acara musiknya juga, artisnya dari kota lagi.'' Bujuk Nining.
''Mmm..gimana ya Ning?'' Terlihat Ifah tengah bingung.
''Udah ikut aja, ngapain sih dirumah terus. Sesekali keluar biar sekalian refreshing gitu.'' Bujuk Nining lagi.
Sebenarnya Ifah malas buat keluar apa lagi pergi kepasar malam. Karena tidak enak sama Nining jadilah dia menganggukan kepala.
'' Tapi janji ya, jangan malam kali pulangnya, takut Bapak marah hehe...'' Ucap Ifah.
'' Iya iya, tenang aja aman. Kalo gitu nanti kita ketemu di ujung jalan depan yah, jam tujuh. Jangan sampe ga datang yah..'' Kata Nining dengan semangatnya. Kembali Ifah menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Selepas nining pamit, ''Kok aku ngerasa aneh ya sama Nining? ngotot banget dia, tapi ya sudah lah, sekalian cuci mata ga apa lah.'' Monolog Ifah dalam hati.
Nining adalah teman SMP dan SMA Ifah, walaupun tidak berkawan dekat tetapi mereka cukup akrab karena rumah Ifah hanya beda empat rumah dari rumah Nining. Sesuai janjinya sama Nining, di sinilah mereka sekarang di pasar malam dekat kampung mereka.
''Wah Fah, lihat rame banget yang datang. Tu kan apa aku bilang ga bakalan nyesel kita datang malam ni ke sini.'' Ujar Nining sembari menerawang setiap jengkal area pasar malam. Tapi lama kelamaan Nining lebih terlihat seperti mencari seseorang.
''Kamu kok clingak-clinguk gitu sih Ning, kayak lagi nyari orang gituh? Mang ada lagi yang kita tunggu?'' Tanya ifah.
''Ngga ah, aku tu lagi liat-liat mana duluan yang mau kita liat gitu.'' Elak Nining.
''Mereka mana sih, disuruh tunggu di depan malah ga ada. Jadi bingungkan nyarinya, mana rame banget lagi.'' Bisik nining dalam hati.
Tanpa sepengetahuan Ifah dan Nining, dua sorot mata menatap mereka dari pojok sisi kanan gerbang pasar malam itu. Seulas senyum terbit dari wajah pria tersebut, dan dia berjalan berlahan mendekat kearah dimana Ifah dan Nining berdiri.
'' Nining, kok lo lama banget sih..udah jamuran tau Mas nungguin kamu. Mana si Yono lama banget lagi di toiletnya.'' Ucap pria tersebut saat telah berada tepat di belakang Ifah. Mendengar ada orang di belakangnya sontak membuat ifah membalikan badannya dan terjadilah tatap-tatapan ala film india (bayangin aja yah kayak Kajol sama Sharuk Khan gitu hehe).
'' Cantik.'' Batin pria itu.
'' Buset jimmin BTS gue , ada disini.'' Kaget ifah dalam hati.
'' Eh Mas Dirga udah dateng yah hehehe..'' Kaget Nining sambil nyengir.
''Ayang Beb aku mana Mas kok ga ada?'' Tambah Nining saat melihat tidak ada Yono bersama Dirga.
''Nah itu dia.'' Tunjuk Dirga saat melihat Jono berjalan kearah mereka.
''Dari mana sih sayang, ditungguin dari tadi.'' Kata Nining sambil bergelayut manja ditangan Yono.
''Dari toilet Beb, masa dari Hongkong..kejauhan dong.'' Jawab Yono yang diikuti ketawa kunti dari Nining.
Sedari tadi pandangan Dirga tak lepas-lepas dari wajah Ifah, membuat Ifah harus mengalihkan pandangannya kebawah.
''Eh..iya Fah kenalin ini Mas Dirga sepupu aku dari kota, kebetulan Mas Dirga lagi mudik lebaran di sini. Mas kenalin ini Ifah temen Nining, rumahnya deketan loh sama rumah aku cuma beda empat rumah..deket kaan kan hehe..'' Lanjut Nining.
Tanpa aba-aba Dirga mengulurkan tangannya, '' Dirga.'' Disambut langsung oleh Ifah, ''Ifah.''
__ADS_1
''Kok dada gue bergetar kenceng sih, cuma salaman doang sama Jimmin.'' Batin Ifah ngelantur.
''Ga salah lagi, ini pasti dia yang aku cari selama ini. Akhirnya aku menemukanmu.'' Ucap Dirga dalam hati.