Salahkah Aku Memilihmu

Salahkah Aku Memilihmu
22 Kebencian Ifah


__ADS_3

Mentari sudah mulai bangun dari peraduannya, namun tidak bagi Ifah. Dia masih setia berbaring di atas kasur empuk rumah sakit. Tanpa Ifah sadari, Dirga tengah memandang sendu wajahnya dengan air mata yang sudah menganak di pelupuk matanya.


''maaf kan aku yang bodoh ini Ifah, berlian sepertimu sempat akan ku tukar dengan batu kerikil yang bahkan jika di ijak akan menyakiti kakiku. Aku bersumpah Ifah, aku akan membahagiakanmu sepanjang hidupku. Aku tidak akan melepaskanmu, tidak akan. Dibencimu saja sudah membuat hatiku hancur, bagaimana bisa aku hidup tanpamu sayang. tidak..tidak, membayangkannya saja sudah membuatku gila apalagi kalau sampai itu terjadi''. Batin Dirga dengan penuh penyesalan. Segera disekanya bulir bening yang sudah menetes dipipinya.


Tak berselang lama terlihat Ifah mulai membuka matanya, saat matanya menangkap sosok Dirga, Ifah langsung membelakangi Dirga. Sebenarnya dia ingin mengusir Dirga, namun entah mengapa mulutnya tiba-tiba tidak bisa bicara. Dia memilih diam agar emosinya bisa stabil, dia lakukan hanya untuk keselamatan Janinnya.


''Sayang, ini mas udah bawakan pakaian ganti buat kamu. mau bersih-bersih sekarang atau mau sarapan dulu?''. Dirga mulai mendekati Ifah. Namun yang ditanya diam membisu.


Sebelumnya Dirga pagi sekali sudah pulang ke apartemennya untuk mengambil segala keperluannya dengan Ifah selama di rumah sakit nanti. Dan tak lupa dia memberi tahu duo sahabatnya untuk datang nanti ke rumah sakit tempat Ifah di rawat. apalagi kalau bukan untuk membantunya menjelaskan ke Ifah dengan barang bukti cctv yang sudah di tangan mereka.


''ya sudah, mas tunggu di luar ya sayang. Jangan lama-lama, kalo mas masuk belum juga selesai, terpaksa mas bantuin bersih-bersihnya''. ucap Dirga sambil berlalu keluar kamar.


Ifah yang mendengar itu langsung memelototkan matanya, bisa-bisanya Dirga mengancamnya dalam kondisi seperti ini.


''Apa-apaan sih, dia pikir marahku bercanda apa!. memangnya aku panci peke dibantu bersihin segala. Jangan harap kamu bisa nyentuh-nyentuh aku mas, cukup dulu aku yang bucin tapi tidak untuk sekarang''. Bisik Ifah dalam hati.


Di luar terlihat Dirga tengah melakukan panggilan dengan seseorang diseberang telepon.


''Jam berapa lo bisa datang?


.................''


''Ok gue tunggu''. Jawab Dirga.


*****


Di rumah sakit yang sama terlihat seorang wanita yang tengah menuju loket pengambilan nomor antrian untuk pemeriksaan dokter kandungan.


''Maaf suster permisi, saya mau periksa kandungan. Langsung masuk atau ambil antrian dulu?''. Nadira bertanya kepada seorang Perawat wanita.


Ya, dia adalah Nadira. Sekarang dia berencana akan memeriksakan kehamilannya, dengan adanya USG itu akan dia jadikan alat untuk membujuk Dirga. Menurutnya Dirga akan semakin luluh melihat janin yang ada dalam perutnya. Nadira kini semakin kuwatir, karena sudah beberapa hari ini Dirga selalu menghindar darinya. Ketakutan akan kegagalan mendapatkan Dirga semakin besar melihat sekarang Ifah juga tengah hamil.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya nama Nadira di panggil juga.


''atas nama nona Nadira''. seru perawat yang jaga.


''iya, saya sendiri''. jawab nadira sembari mengikuti perawat tersebut masuk ke dalam ruangan dokter.


''selamat pagi mba Nadira, perkenalkan saya dokter Ana. ada yang bisa saya bantu?''. kata dokter Ana ramah.


''a iya dok, begini saya mau periksa kehamilan saya. satu minggu yang lalu saya tes pakai tespek hasilnya positif. jadi sekarang saya mau cek langsung sama dokter''.jelas Nadira bohong. pada hal sudah sebulan yang lebih dia tahu kalau dia tengah hamil.

__ADS_1


''ok baiklah, silahkan nona berbaring dulu di sana, kita periksa langsung ya''.jawab dokter Ana.


Hanya beberapa saat akhirnya pemeriksaan kandungan Nadira selesai. Dari hasil pemeriksaan dokter, sekarang usia kandungan Nadira hampir memasuki usia sepuluh minggu. tidak terlalu jauh dari usia kandungan Ifah yang menginjak usia tiga minggu. Sekarang Nadira tengah duduk bersama ibu-ibu hamil lainnya untuk mengantri pengambilan obat dan vitamin.


*****


Setelah selesai dengan bersih-bersihnya, Ifah kembali berbaring di tempat tidurnya. Walaupun kepalanya masih terasa berat dan tenaganya masih lemah, Ifah tetap memaksakan dirinya agar tidak bergantung lagi kepada Dirga.


Dring dring dring...


Ponsel Ifah berbunyi.''Ya Assalammu'alaikum ma''. jawab Ifah.


''wa'alaiukumsalam sayang, maaf mama ganggu kamu pagi-pagi. mama kangen sama kamu sayang''. ucap buk Mirna.


''Apa sih ma, ya ga ganggu lah. malahan Ifah juga kangen tau sama mama. mama gimana sama papa sehat?''. ujar Ifah.


''maaf sayang, mama baru cerita sekarang. kamu jangan panik ya, sebenarnya papa lagi sakit sayang. Sekarang mama lagi temanin papa berobat di negara S, kemaren mendadak sayang jadi baru sekarang mama kabari kamu''. Jelas buk Mirna.


''Ya Allah mah, jadi kondisi papa sekrang gimana ma? maaf ma, Ifah ga sering tanya kabar sama mama dan papa. Papa ga apa-apa kan ma?''. ucap Ifah merasa tidak enak hati.


Jadilah anak dan menantu saling melepas kangen. Namun dua hal yang tidak Ifah ceritakan, yaitu tentang kondisinya sekarang dan masalah rumah tangganya. Ya, mengingat kondisi mertuanya yang tidak mungkin ditambah beban olehnya. Mungkin sebaiknya disembunyikan dulu sampai kondisi mertuanya pulih.


''Baiklah sayang, mama sudahi dulu ya. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Jaga kesehatan baik- baik ya sayang, peluk cium mama untuk mantu mama dan calon cucu mama''. ucap buk Mirna.


''Iya sayang, Assalammu'alaikum''. kata buk Mirna.


''Wa'alilaikumsalam''. jawab Ifah.


Tepat saat panggilan buk Mirna terputus, muncul Dirga dengan wajah penuh damba menatap Ifah dari arah pintu. Namun yang ditatap langsung membuang muka ke arah lain. Sabar dan sabar, hanya itu yang bisa Dirga lakukan sampai Ifah luluh akan penyesalannya pada Ifah.


Melihat kedatangan Dirga, Ifah yang tengah duduk langsung hendak membaringkan tubuhnya namun ditahan Dirga.


''Tunggu sayang, jangan bebaring dulu. ayo sarapannya di makan, jangan sampai sisa. Kasian dedek bayinya udah kelaparan. Karena ini menyangkut anaknya, akhirnya Ifah menurut saja.


'' Mas suapin ya sayang?!''. pinta Dirga.


''Ga usah, tangan aku masih berfungsi''. jawab Ifah ketus.


''Oh ya sayang, ntar temen mas datang mau jenguk kamu. Ga pa-pa kan?''. ucap Dirga.


''Terserah''. jawab Ifah ketus.

__ADS_1


Kemudian Ifah mulai mengaduk-ngaduk sarapannya, dan menyendokannya ke dalam mulutnya. Dirga yang melihat itu mulai tersenyum, akhirnya Ifah makan juga. Namun tiba-tiba Ifah menghentikan suapannya, lalu meletakkan kembali piring di atas meja.


''Sayang, kok ga dihabisin sih? tinggal dikit lagi, habisin ya biar mas suapin..a aaa..''. ucap Dirga akan menyuapkan Ifah.


''Ga mas, makasih udah kenyang''. tolak Ifah dengan mendorong sendok di tangan Dirga.


Dirga yang melihat Ifah sudah kesal padanya, akhirnya mengikuti permintaan Ifah.


''Nanti jangan ceritain apapun sama mama dan papa tentang semuanya, paling tidak sampai papa sembuh. Biar mereka ga syok kalo kita cerai nanti''. ucap Ifah sambil mengangkat segelas air putih lalu meminumnya.


Dirga yang mendengar perkataan Ifah sontak menatap kaget ke arah Ifah, perkataan yang langsung menghujam jantungnya terdalamnya.


''Kenapa kamu bicara seperti itu sayang, kita tidak akan bercerai. tidak untuk sekarang, besok dan selamanya. Jadi berhentilah bicara kata cerai''. ucap Dirga dengan mata yang sudah memerah.


''Ga usah banyak sandiwara lagi mas, bukankah itu sudah rencana kalian berdua. menceraikan aku dan hidup bahagia bersama anak kalian selamanya. iya kaan?..'' Ucap Ifah tanpa menatap Dirga yang terngah tertunduk.


''Kau nodai hubungan suci pernikahan kita hingga mendapatkan anak dari wanita lain. Sudah cukup kamu buat hatiku sakit mas, kau tawarkan cinta padaku, kau nikahi aku, namun sedikitpun cinta dan hatimu tidak pernah kau berikan padaku. Kau hanya anggap aku pemuas nafsumu. Kau mempertahankanku sekarang hanya karena anak dalam perutku ini, kalau tidak mungkin sekarang kau sudah bersamanya''. Suara Ifah makin bergetar dan naik satu oktaf. Namun tidak ada tangis yang terdengar, hanya amarah dan kebencian yang tersisa bagi Ifah.


''Tidak..tidak sayang, jangan katakan itu lagi. Mas sangat mencintaimu bukan karena janin kita, tapi memang sejak awal kita bersama. Mas memang bodoh yang tidak bisa tegas dengan masa lalu mas. Mas mohon sayang, kamu boleh maki mas, pukul mas, tapi jangan pernah ucapkan kata cerai lagi, mas ga sanggup Ifah. Mas ga akan ninggalin kamu''. ucap Dirga dengan derai air mata yang entah sejak kapan membasahi pipinya. Bahkan Dirga sudah bersujud di kaki Ifah, namun Ifah segera menepisnya.


''Sudahlah mas, aku capek liat sandiwara kamu. Bosen aku, mending nonton drama korea, walaupun sama-sama sandiwara, setidaknya dapat menghiburku. Kalau kamu tidak mau menceraikanku, setidaknya menjauhlah dulu dariku, Kalau kamu tidak mau juga, maka aku yang akan pergi jauh darimu''. tegas Ifah.


''a apa? jangan sayang, mas akan jauh-jauh dari kamu''. ucap Dirga dengan mundur tiga langkah.


''kamu ngapain??''. ujar Ifah.


''menjauh dari kamu''. jawab Dirga polos.


''ckk..kalo itu masih deket namanya!!''. bentak Ifah


Lalu Dirga mundur lagi tiga langkah hingga mentok dinding kamar.''segini cukup sayang''. ucap Dirga.


''ck..aduuh..au ah''. balas Ifah.


Akhirnya Ifah memilih berbaring membelakangi Dirga. Sedangkan Dirga tersenyum geli melihat tingkah Ifah yang sengaja dia kerjai.


*****


Pada saat Leo dan Wahyu melewati sekelompok ibu-ibu yang sedang mengantri obat, Leo berhenti sejenak dan menatap seorang wanita dengan senyum menyeringai penuh makna.


''Pucuk di cinta ulampun tiba, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui''. batin Leo. Dan hal itu membuat Wahyu mengikuti arah mata Leo.

__ADS_1


''Barang bukti dan tersangka sudah ditangan, case selesai''. ujar wahyu dan merekapun langsung mengaitkan kedua telapaktangan mereka seperti orang yang akan adu panco.


''Let show time''. ucap Leo yang mulai melangkah ke arah wanita yang mereka maksud.


__ADS_2