
Duaarr...
Dirga mulai panik..
''Ya tuhan, i iifah..ya tuhan ya tuhan jangan sampai Ifah salah paham. Ya tuhan tolong jangan salah paham sayang''. Batin Dirga penuh kecemasan.
Seperti petir disiang bolong, melihat Ifah yang tengah menatapnya dengan derai air mata sontak membuat Dirga langsung berdiri dan berjalan cepat ke arah Ifah. Elsa yang kaget langsung menatap Dirga yang sedang berjalan cepat menuju sesorang.
''Sa sayang, kamu di sini? Ini mas lagi makan siang sama temen mas,.ja jadi..''. Dirga sangat gugup karena takut kemarahan Ifah bertambah menjadi benci.
''Jadi..jadi begitu cara kamu berteman mas? Kasian temannya di tinggal, sana gih..aku juga lagi lagi makan sama temen aku''. Jawab Ifah santai dengan senyum dan mengelap lembut pipinya yang basah.
''Sayang, kamu jangan salah paham. aku sama Elsa ga ada hubungan apa-apa''. Jelas Dirga.
''Ga da hubungan tapi pakai suap-suapan, peluk-pelukkan, romantis banget''. sela Yudha yang sudah geram dengan ulah Dirga.
''Eh diam lo, lo ga usah ikut campur urusan rumah tangga gue''. hardik Dirga marah sambil menunjuk-nunjuk Yudha.
''Eh lo tu seharusnya sadar, udah punya istri lagi hamil lagi. bukannya berubah malah makin menjadi''. Yudha mulai tersulut emosi dan hampir memukul wajah Dirga. Namun Dirga malah langsung memberi bogem mentah ke wajah Yudah.
''Kak yudha''. Ifah teriak dan langsung mendekat ke arah Yudha.'' kakak ga apa-apa?''. ucap Ifah sambil memegang tangan yudha karena hampir terduduk di kursi.
Melihat tindakan Dirga, membuat Ifah bergegas membawa Yudha keluar dari restoran karena malu menjadi tontonan pengunjung restoran. Ifah pergi tanpa memperdulikan Dirga yang tengah panas melihat Ifah yang begitu perhatian dengan Yudha.
''Ifah tunggu..'' Dirga berusaha mengejar Ifah dan yudha. Elsa yang tadi hanya melihat dari tempat duduknya langsung berdiri dan mengikuti Dirga keluar.
Pada saat Ifah akan membuka pintu mobil Yudha tiba-tiba tangannya ditarik kasar oleh Dirga.
''Ifah tunggu''. bentak Dirga.
''Lepas mas, sakiiit... apa belum cukup kamu menyakiti hatiku hah''. Air mata Ifah yang sudah kering mulai mengalir lagi.
''Apa-apaan kamu. kamu marah karena aku makan sama wanita lain? dan kamu? apa ini..kamu juga makan sama laki-laki lain. apa bedanya kita hah?''. bentak Dirga.
__ADS_1
''Istri macam apa yang pergi bersama pria lain, pergi tanpa izin suami. Kamu tu seharusnya juga sadar dengan posisi kamu, jangan hanya menyalahkan aku!''. Dirga yang tersulut cemburu menghujam Ifah dengan kata-kata kasar yang tanpa dia sadari memberi luka yang sangat sakit di hati Ifah.
Mendengar perkataan Dirga yang sangat melukainya, Ifah menutup matanya dan memegang dadanya yang sangat sesak. Namun Ifah berusaha untuk tenang.
'' Kamu tanya apa bedanya mas? apa kamu liat kami suap-suapan? apa kamu liat kami peluk-pelukkan? apa kamu liat mas''. ucap Ifah dengan bibir yang bergetar.
Degg
Dirga mulai mencerna setiap perkataan Ifah, ucapan Ifah menyadarkannya dengan apa yang telah dia lakukan. Dia lupa akan ada hati yang terluka dengan sikapnya bersama Elsa yang hanya sabatas teman biasa.
Elsa yang mendapat celah, kemudian mendekat.
''Beb, siapa wanita ini?''. tanya Elsa dengan santainya menggandeng tangan Dirga. Elsa padahal sudah tahu kalo Ifah adalah istri Dirga. Dia tidak suka karena dia diam-diam sejak dulu telah mencintai Dirga.
Dirga yang menyadari tindakan Elsa, langsung melepaskan tangan Elsa.
'' Dia Ifah Elsa, istriku''. jawab Dirga yang masih menatap Ifah.
''Tapi kok jalan sama cowok?''. pancing Elsa.
''Maksud kamu apa hah!!''. bentak Yudha yang tidak mau Ifah disudutkan.
''Dia kayaknya sengaja mencari alasan buat pisah dari kamu beb, kalo dia memang cinta sama kamu dia ga akan bisa jauh-jauh dari kamu beb, kan biasanya wanita hamil itu pengen manja-manja terus sama suaminya''. Elsa semakin gencar memanasi melihat reaksi Dirga yang mulai terpancing. Tangannya mengepal dengan kuat sehingga buku-buku tangannya memutih.
''Masa sama suami sendiri ga mau dekat, tapi sama pria lain malah jalan bareng''. tambah Elsa makin memojokkan Ifah.
''Eh diam kamu, apa yang kamu tau tentang Ifah hah. kalo ngomong jangan asal ya!!''. yudha sangat marah dengan perkataan Elsa.
''Liat betapa sayangnya dia beb sama istri kamu''. Sindir Elsa.
''cukuuup!!..''. Dirga yang sudah tersulut emosi langsung menarik paksa tangan Ifah menuju mobilnya. Ifah yang sudah pasrah hanya mengikuti langkah Dirga dengan terseok-seok.
Elsa dan Yudha hanya mampu menatap kepergian sepasang suami istri itu.
__ADS_1
''Apa lo liat''. ucap Elsa saat Yudha sudah menatapnya.
''ish..dasar ular siluman''. ketus Yudha sambil membanting keras pintu mobilnya.
''Eeh..kurang ajar lo monyet hutan''. teriak Elsa menyoraki Yudha yang sudah berlalu dengan mobil sedannya.
Didalam perjalan menuju apartemennya, Dirga dan Ifah diam seribu bahasa. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing. Kadang terlihat Dirga mencengkram keras stir mobilnya. Ifah tidak peduli, karena hatinya jauh lebih sakit apa lagi kata-kata Dirga yang menusuk jantungnya.
Tidak lama, hanya 30 menit Ifah dan Dirga telah sampai di gedung apartemennya karena Dirga melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Setelah Ifah turun dari mobil, Dirga kembali menarik tangan Ifah dengan kasar. Ifah hanya bisa diam dan menangis menahan sakit di tangan dan dihatinya. Setelah masuk Dirga sedikit menyentak Ifah agar duduk di sofa ruang tv nya.
''Sekarang kata kan, apa benar semua yang dikatakan Elsa?''. bentak Dirga.
Hal itu sontak membuat Ifah tersenyum sakit, karena Dirga meragukan cintanya dan lebih percaya kepada temannya itu.
''Apa yang harus aku jelaskan mas? kamu mungkin lebih tahu bagaimana perasaanku padamu''. jawab Ifah sambil menahan air matanya.
''Jawab saja, iya atau tidak?''. Suara Dirga mulai menggelegar. Ini kali pertama Ifah melihat Dirga dengan amarah yang sangat menakutkan. Ifah sangat kaget bukan main. Sontak Ifah memegang dadanya karena bentakan Dirga.
''Apa kamu pikir aku serendah itu mas?''. ucap Ifah dengan bibir yang sudah bergetar.
''Apa aku sehina itu dimata kamu mas?, kenapa kamu begitu percaya dengan perkataan temanmu itu di bandingkan aku istrimu? hiks...hikss..''. Akhirnya bendungan air mata Ifah bobol juga, bulir-bulir bening itu mengalir deras di pipih merah Ifah yang sudah panas karena menahan amarahnya.
''Aku tidak menghinamu, aku melihat sendiri buktinya. Kamu pojokkan aku, kamu salahkan aku hanya untuk menutupi perselingkuhan kalian kan.. sekarang aku baru sadar, kamu dengan laki-laki brengs*k itu telah lama menjalin hubungan kan? buktinya dia bersamamu saat kamu pingsan dulu''. ucap Dirga dengan tatapan tajam ke arah Ifah.
''nnghh..bodohnya aku bisa tertipu oleh cinta palsumu. Sekarang pergilah, berbahagialah kamu bersamanya''. kata Dirga yang sebenarnya dia begitu berat untuk mengucapkannya.
''A aa apaa maksud kamu mas? Apa kamu tidak mau mendengarkan penjelasanku mas??''. Ucap Ifah dengan derai air matanya.
''Bukankah itu yang kamu inginkan sejak dulu, ingin berpisah dariku. Sekarang aku sudah tidak peduli lagi, aku sudah muak!!''. Bentak Dirga dan langsung masuk ke kamarnya dengan membanting keras pintu kamarnya.
Ifah merasa sakit dan sesak sekali dengan apa yang sudah dilakukan Dirga padanya. Padahal rencananya malam ini dia ingin memperbaiki semua dan memulai dari awal lagi dengan Dirga. Bukannya makin baik, malah makin hancur.
Tidak ingin berlama-lama akhirnya Ifah menguatkan hatinya. Dia akan pergi saat ini juga dari apartemen Dirga, untuk apa mempertahan orang yang tidak menginginkannya lagi. Dengan derai air mata Ifah mengemasi beberapa pakaiannya dan beberapa barang berharga yang dibawanya saat dari kampung, termasuk ijazah dan buku nikahnya karena untuk keperluan saat anaknya lahir nanti.
__ADS_1
''Sayang bunda, kamu baik-baik ya di dalam. Bunda akan selalu jaga kamu nak, bunda ga akan sia-siakan kamu. Mulai sekarang kita berjuang ya nak, semua akan bunda lakukan untuk kebahagian kamu sayang''. lirih Ifah sambil mengelus perut buncitnya dengan isakan yang sangat menyayat hati.
Pada saat keluar dari kamarnya, Ifah berhenti sejenak menatap lurus pintu kamar Dirga yang tertutup rapat. '' Ternyata tidak sebesar itu cinta kamu sama aku mas, kamu sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasanku. kami pergi mas, berbahagialah karena kami yang menyusahkanmu tidak akan pernah mengganggumu lagi. akan ku jaga anak kita mas, akan kurawat dengan penuh kasih dan cinta, maafkan aku yang tidak bisa membahagiakanmu, maafkan aku yang terlalu mencintaimu. Selamat tingggal mas''. ucap Ifah dalam hati dengan derai air mata dan dengan hati yang sudah hancur.