
Setelah memasuki kamarnya, Dirga langsung menuju kamar mandi dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin dengan pakaian yang masih utuh. Beberapa kali Dirga meninju dinding kamar mandi dan berteriak histeris. Teriakan Dirga tidak akan sampai keluar karena kamarnya sudah kedap suara.
Setelah hampir 30 menit Dirga mendinginkan kepalanya yang tadi terasa sangat panas, sekarang hati dan pikirannya sudah mulai tenang. Setiap tetes air yang mengalir di kepalanya membuat Dirga kembali mengingat kejadian yang baru saja dia alami. Mulai dari restoran sampai di apartemennya, Dirga terlihat panik seakan akal sehatnya kembali datang.
''Ya tuhan, apa yang sudah aku lakukan pada Ifah? Aku mengusirnya? tidak-tidak...Ifah tidak mungkin pergi meninggalkan ku, owh..shiitt''. Dirga berbegas mandi bersih dan setelah itu dengan masih memakai handuk Dirga langsung bergegas mencari keberadaan istrinya namun tidak ada.
Diketuknya pintu kamar Ifah beberapa kali, namun hening tak ada jawaban. Kemudian perlahan Dirga memegang handel pintu dan membukanya perlahan. Kamar Ifah terlihat gelap, setelah menghidupkan lampu Dirga tidak melihat Ifah di dalam kamar itu. Tubuh Dirga langsung luruh ke lantai, Dirga benar-benar menyesal telah membuat hati Ifah terluka. Bahkan dia telah membuang istri dan calon anaknya hanya karena cemburu dan emosi yang tak terkendali.
''Tidak sayaang, jangan tinggalkan mas..hiks..hiks mas menyesal sayang, mas hanya mengatakannya saja hiks..hikss kenapa kamu benar-benar pergi Ifah ha aaaa hiks..hiks Ifaaah..sayaaang jangan tinggalkan mas hiks hiks hiks..''. Dirga menagis tersedu-sedu meratapi kepergian Ifah seperti anak kecil yang tidak dibelikan es krim.
Dirga benar-benar seperti orang gila, meracau maratapi kesalahannya sendiri. Kemudian terlintas di pikirannya dua sahabatnya Wahyu dan Alex. Bergegas Dirga menghubungi kedua sahabatnya itu. Pikirannya sudah buntu, bahkan tenaganya untuk berjalanpun sudah sangat lemah.
Bagaimana tidak, separuh jiwanya telah pergi dan entah di mana. Hanya berselang kurang lebih 30 menit bel apartemen Dirga berbunyi, tanpa pikir panjang Dirga langsung membukanya.
''Kalian harus bantu gue, kalian harus bantu gue cari Ifah..sekarang, ayooo''. kata Dirga panik sambil mendorong kedua sahabatnya kembali ke luar.
''E e e...sabar sabar bro, tenang dulu. sekarang kita masuk dulu, kita bicarakan ini dengan tenang ya, ayo kita masuk dulu. ga mungkin kan lo cari Ifah telanjang gini?''. jawab Wahyu sambil merangkul Dirga yang sudah seperti orang linglung masuk kedalam. Wajahnya pucat karena syok di tinggal oleh Ifah.
Setelah tenang, Dirga kembali menceritakan semua rentetan permasalahannya dengan Ifah. sehingga puncaknya tadi siang di restoran dan berakhir di apartemennya.
''Lo bener-bener bro, lo udah buat kesalahan fatal. Fatal banget malahan. Gimana bisa lo nyuruh bini lo pergi hanya karena prasangka yang belum tentu betul''. ucap Wahyu dengan kecewa.
''Betul bro, apa lo ga mikir kalo Ifah pergi mau tidur dimana dia. Kata lo dia ga punya saudara di sini, trus kalo terjadi apa-apa sama Ifah gimana? Lo kan tau ini kota besar bro, penjahat dimana-mana. Lo..lo bener-bener gila bro, apa lo lupa Ifah sedang hamil?..gue kecewa sama lo bro''. ungkap Alex yang tidak habis pikir dengan sifat Dirga yang selalu tidak bisa mengontrol emosinya.
__ADS_1
''Kalian gimana sih, bukannya cari jalan keluar malah bikin aku makin gila''. tutur Driga.
''Habisnya Lo kok bodoh banget sih, harusnya Lo tu pas sadar langsung kejar Ifahnya dong. Bukannya nangis-nangis kayak anak kecil''. Wahyu mulai sewot melihat tingkah bodoh Dirga.
Degg..
''Ya tuhan, kenapa aku lupa?''. ucapa Dirga sambil menepuk keningnya.
Akhirnya setelah berpakaian, dirga bersama Wahyu dan Leo langsung berpencar menyusuri jalan kota berharap Ifah dapat langsung ditemukan. Namun tak sesuai harapan, sudah sampai jam 2 dini hari Ifah tidak kunjung di temukan. Akhirnya mereka memutuskan kembali ke apartemen Dirga.
''Jadi gimna nih bro, kayaknya agak sulit menemukan Ifah kalau kita ga ada petunjuk''. jelas Alex.
''Lo gimana sih, katanya mafia besar. masa cari seorang Ifah aja lo ga bisa''. Wahyu menimpali.
''Ya tuhan, kok gue tambah bego gini ya. Gue mesti cek cctv dulu. kok bisa ga ke inget sih gue''. ujar Dirga kesal.
m
Dalam cctv terlihat bagaimana Dirga membentak dan mencaci Ifah dengan kasar dan penuh emosi. Bahkan Dirga tidak membiarkan Ifah untuk bicara.
Ifah terlihat sangat tersakiti dan menangis dengan begitu sedihnya saat Dirga meningalkannya sendiri di ruang tv.
Saat Ifah berdiri di depan pintu kamar Dirga, terlihat Ifah menatap penuh kesedihan dan mengusap pintu kamar sambil menangis terisak-isak.
__ADS_1
Dirga tidak dapat lagi membendung air matanya, dadanya begitu sesak melihat Ifah yang menangis penuh kesedihan karena sikapnya. Ingin sekali memeluk wanita yang terlihat sangat rapuh itu.
''Sudah bro, sekarang bukan saatnya lo meratapi kebodohan lo. Kejar Ifah, temukan dia sampai dapat. kalo ga lo pasti akan menyesal seumur hidup lo''. Kata Wahyu.
''Iya bro, lebih cepat lebih baik. Bisa bahaya kalo Ifah sendirian di luar sana. apa lagi Ifah sedang hamil. makan dan min... e tunggu bro, Ifah pergi bawa uang ga? atau kartu kredit gitu?''. Wahyu mulai mengingatkan.
''Ya masak istri seorang Dirga ga punya kartu kredit, ada aja lo''. sela Dirga.
''Udah lo cek di kamar, dia bawa ga?''. tanya Alex menambahkan
Seketika Dirga panik dan berlari ke dalam kamar Ifah. Dan sungguh membuat Dirga makin panik, terlihat jelas sebuah kartu kredit tergelatak di atas tempat tidur. dan yang makin mbuat Dirga hancur, di atas kartu itu terdapat cincin pernikahanya dengan Ifah.
''Sebegitu bencinya kamu sama mas sayang, sampai cincin pernikahan kita kamu tinggalkan juga''. Dirga langsung bersimpuh di samping tempat tidur Ifah.
''Sebaiknya kita cepat periksa cctv di lift dan di lobi apartemen lo. siapa tahu kita dapat petunjuk''. ucap Wahyu sambil menepuk-nepuk bahu Dirga menguatkan.
Saat ini Dirga, wahyu dan Leo tengah memandang denga serius layar monitor yang memperlihatkan seluruh aktifitas penghuni dalam rentang waktu pukul 4 sore sampai pukul 18.30 tepatnya saat dirga tiba di apartemen sampai Ifah meninggalkan lobi apartemen. Mereka bisa mendapat akses karena memang setiap penghuni berhak minta bantuan pihak keamanan selagi dalam batas kewajaran.
Dalam cctv terlihat Ifah berjalan sambil menangis memasuki lift, terlihat beberapa orang di dalam lift bersama Ifah namun terlihat normal-normal saja. kemudian Ifah terlihat di area lobi. Ifah menarik kopernya keluar dari lift dan berjalan sendiri menuju area depan lobi. Tiba-tiba sebuah mobil sedan berhenti tepat di depan Ifah. Terlihat jelas seorang pria turun dari mobil itu, dan berjalan mendekati Ifah yang tengah berdiri sendiri.
Pria itu mengajak Ifah namun terlihat Ifah menolaknya. Terlihat obrolan yang serius antara Ifah degan Pria itu. akhirnya pria itu membukakan pintu mobilnya untuk Ifah, Ifah masuk kedalam mobil sedan itu dan melaju pergi menuju jalan besar.
Seketika Dirga mengepalkan tangannya, saat mengetahui bahwa pria itu orang yang sangat dikenalnya. ''Kurang ajar, ternyata dia benar-benar pergi dengan laki-laki baj*ngan itu''. Dirga begitu murka dengan apa yang baru dilihatnya.
__ADS_1