Salahkah Aku Memilihmu

Salahkah Aku Memilihmu
08 Rumah Baru Keluarga Baru


__ADS_3

Akhirnya Ifah dan Dirga sampai dibandara, walaupun sedikit telat namun mereka tidak ketinggalan pesawat.


''Maksih ya Mang ujang, ini untuk nambah isi bensin''. Ucap Girga sambil mengulurkan beberapa lembar uang kertas merah.


''Iya Den, sama-sama.. tapi ini kebanyakan Den, buat ngisi bensin pul pun masih banyak sisa.''tutur mang ujang sopan.


''ya ga pa-pa mang, biar sekalian nambah uang saku manh ujang.'' jawab dirga


''iya mang terima ajah, rejeki buat mang ujang. dan nanti jangan lupa sampein makasi ifah ya mang sama buk narti, udah pinjami mobil hehe..''. tambah ifah.


''Alhamdulillah.. iya iya nanti mamang sampaikan yang neng. kalo soal bapak neng ifah jangan kuatir, mamang bakalan jagain mas rasyid. jadi neng ifah ga usah kuwatir''. balas mang ujang.


''iya mang, makasih ya mang. nanti kalo ada apa-apa langsung telpon ifah ya mang''. pinta ifah.


''iya neng, siap''. lagak mang ujang bak hormat upacara bendera.


Setelah mang ujang pamit, dirga menarik dua koper yaitu miliknya dan milik ifah. sedangkan ifah juga membawa satu koper kecil yang juga miliknya.


''kayaknya kita ga sempat makan deh mas, udah telat kitanya''. ucap ifah sambil berjalan disamping dirga.


''iya juga, tapi kamu ga laper? kalo laper mas beliin roti dulu yah''. jawab dirga.


''ga juga kok, kasih kenyang mas. kita langsung masuk aja, ntar kita ditinggal pesawat lagi. gimana ngejarnya coba''. sontak dirga pun tertawa dan di ikuti senyum manis ifah yang sangat memukau bagi dirga.


''inilah yang aku suka dari kamu ifah, kamu selalu tersenyum disaat apapun. apakah senyum itu akan terus ada untukku ifah saat kamu tau semua yang aku sembunyikan??.. ah mengapa kamu hadir lagi dira..kenapa?? maafkan mas ifah..maaf''. batin dirga.


''mas..mas kok bengong sih, ayok ntar telat kita''. ajak ifah menarik lengan dirga. '' a a..iya iya''. ucap dirga sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Hampir dua jam lebih ifah dan dirga berada dalam pesawat, kalau ifah mungkin tidak terasa karena dari awal duduk sampai pesawat parkir juga ifah masih molor. entah ngantuk karena lelah di gempur dirga sejak malam itu bahkan sampai pagi mau berangkat, atau karena keenakan tidur bersandar dibahu suaminya. yang jelas dirga merasakan badannya kaku semua karena menopang kepala ifah yang tidur begitu nyenyak.


''sayaang..sayaang..hei hei bangun, kita udah samapai''. bisik dirga pelan sambil penepuk-nepuk pipi ifah.


''mmmm...kok cepet yah mas, perasaan tadi masih nangkring pesawatnya''. ucap polos ifah.

__ADS_1


''yah sekarang pesawatnya masih nangkring juga tapi beda tempat. sekarang kita udah sampai di kota J. tu lihat orang-orang udah pada keluar semua, tinggal kita aja lagi''. jawab dirga.


''aah..iya iya. yuk mas, ntar kita dibawa balik ke lota S lagi nih''. ucap ifah polos.


Dirga hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan konyol ifah. dan akhirnya mereka telah berada sekarang dalam taxi menuju ke kediaman orang tua dirga. Setibanya di dalam perkarang rumah dirga, sungguh ifah sangat takjub dengan kemewahan rumah dirga. rumah besar berlantai dua dengan gaya minimalis eropa, dengan dilapisi banyak kaca sebagai dinding-dindingnya menambah kesan mewah rumah tersebut.


Ifah tidak menyangka jikalau keluarga suaminya sekaya ini, yang dia tau memang keluarg suaminy orang berada karena memiliki bebera bisnis. namu di luar dugaan ifah kalau mereka sangat kaya menurut ifah. ini adalah kali pertama ifah datang ke rumah mertuanya, karena bukan tidak diajak dirga. tetapi karena ifah yang menolak dengan alasan tidak enak atau sungkan.


Sekarang ifah benar-benar merasa minder terhadap mertuanya, ifah menundukan kepala karena merasa kecil satatus sosialnya. dia takut mertuanya merasa malu memiliki menantu dari kalangan bawah sepertinya. Tau dengan apa uang dirasakan istrinya, dirga langsung menggenggam tangan ifah sambil melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah. semua barang-barang mereka sudah terlebih dahulu dibawa oleh para pekerja dirumah mertuanya.


Tepat saat mereka mencapai pintu utama, muncul bersamaan pak Rudi dan buk Mirna dengan senyum yang merekah diwajah keduanya. '' assalammu'alaikum mama papa''. ucap ifah sambil mencium takzim kedua mertuanya itu.


'' Wa'alaikumsalam..aduuh sayaaang..menantu mama yang cantik selamat datang di rumah kita sayang. kamu pasti capek yah dan lapar juga pastinya.. ayok masuk sayang, mama udah masakin masakan terbaik, masakan terenak buat menyambut kedatangan mantu kesayangan mama''. tutur buk Mirna tanpa jeda sambil memeluk ifah dan mengajaknya masuk langsung menuju meja makan.


''makasih ma, mama ga usha repot-repot'' jawab ifah.


'' ga repot kok sayang, sekarang ini kami adalah keluarga barumu. dan kamu harus anggap rumah ini juga rumah kamu ya''. tutur buk mirna tersenyum.


''siap-siap saja kamu tersingkirkan''. jawab pak rudi berlalu.


''hebat kamu ifah, tak butuh waktu lama buat mama suka sama kamu. andaikan nadira juga bisa..ah..''. ucap dirga pelan.


Setelah selesai makan dan sebentar bercengkrama bersama di ruang keluarga, dirga pamit bawa ifah untuk istirahat dikamarnya, tidak sekarang kamarnya dengan istrinya ifah.


''kamu tu ya, baru perjalanan jauh udah kebelet mau masuk kamar. tunggu bentar dong, mama belum puas cerita-cerita sama mantu sayang mama''. rengek mama dirga tapi membuat wajah ifah merona malu karena ucapan mama mertuanya yang tak pakai filter.


''betul kata dirga ma, kasian juga ifahnya kan dia juga kecapean habis dari perjalanan jauh''. bujuk pak Rudi.


''ya udah kalo gitu, nanti kita crita-crita lagi ya sayang''. ucap buk mirna.


''iya ma, ifah mau ke kamar dulu''. senyum ifah pamit kepada mama mertuanya.


Kepergian keduanya menuju tangga tak lepas dari tatapan sepasang suami istri itu sampai anak dan mantunya menghilang di balik tembok tangga lantai dua rumahnya.

__ADS_1


''Mama berharap dirga hidup bahagia sama ifah, dan melupakan perempuan itu untuk selamanya''. ucap buk mirna yang masih menatap ke arah tangga rumahnya itu.


'' amiinn, kita do'akan terus ma dan papa akan terus memantau dirga karena papa juga ga mau perempuan murahan itu mengganggu rumah tangga anak kita''. tegas pak Rudi.


Sambil menunggu Dirga keluar dari kamar mandi, ifah duduk ditepi ranjang king size yang sangat empuk diduduki oleh ifah. ifah menyapu seluruh ruangan dengan matanya tanpa ada sisi yang tidak luput dari penglihatannya. Terlihat jelas dari warna biru dan hitam yang dominan di dinding kamar ini bahwa pemiliknya adalah seorang pria. dan aksen-aksen maco dapat dilihat pada pemilihan perabot yang ada dalam ruangan ini. kecuali sebuah meja rias yang terkesan feminim. Tanpa bertanya, ifah sudah tahu kalau itu untuknya. ah..betapa besyukurnya ifah mendapat suami di sertai mertua yang terasa sangat tulus menyayanginya.


''sayang kok melamun, ayo buruan bersih-bersih. ntar keburu habis magribnya''. ucap dirga membuyarkan lamunan ifah.


Bertepatan dengan langkah ifah menuju kamar mandi, terdengar panggilan masuk pada benda pipih canggih milik dirga.'' siapa yang menelpon mas dirga ya? koq aku jadi kepo banget yah''. batin ifah. Setelah masuk ke kamar mandi ifah sengaja memberi jeda untuk menutup pintu untuk mendengar percakapan dirga.


''ya hallo''. jawan dirga


''..............................''


''baiklah, tunggu disana ya aku siap-siap dulu''. ucap dirga sambil menutup panggilan.


Di dalam kamar mandi, ifah terlihat gelisah. bukannya mandi, dia malah melamun sambil menatap cermin di dinding kamar mandi itu. ''apa yang sebenarnya kamu sembunyiin dari aku mas. siapa dia? apakah seorang wanita??..ah tidak tidak, aku ga bolleh gegabah. aku harus selidiki ah..tapi gimana caranya? jangankan keluar jauh, keluar komplek ini saja aku belum hafal. aduuh..


aaaaaaaah...''. ifah reflek tariak.


''ada apa ifah? kamu ga pa-pa?''. cemas dirga di depan pintu kamar mandi yang mendengar teriakan ifah.


''ga mas ga pa-pa kok, cuma kepleset aja. tapi ifah baik-baik aja kok''. jawab ifah dari dalam kamar mandi.


''Ya sudah cepat mandinya, kita shalat jama'ah''. tutur dirga.


''iya mas''. jawab ifah.


Setelah melakukan kewajibannya kepada Tuhan, dirga pamit sama ifah. '' ifah, mas keluar sebentar ya. ga usah nunggu mas, kalau ngantuk langsung tidur saja ya''. ucapa dirga sambil mengecup kening ifah.


''iya mas, tapi jangan malam-malam pulangnya ya''. tutur ifah sambil meraih tangan dirga dan menciumnya takzim. dirga pun menganggukan kepalanya.


Ditatapnya punggung suaminya sampai menghilang dibalik pintu. ''siapa dia mas, sampai tega kamu meninggalkanku sendiri hanya untuk menemuinya''..lirih ifah. jatuh sudah air mata ifah, terasa sesak, perih dan sakit yang ifah rasakan didadanya. dia bingung bagaimana rumah tangganya dengan dirga kedepannya.

__ADS_1


__ADS_2