
''Ifaaah...sayaaaaaang!''. Dirga berteriak histeris melihat ifah yang sudah terbaring tak sadarkan diri di lantai kamar.
''sayanhg..bangun sayaang..sayaang...
ya tuhan tolong hambumu ya Allah..''. gumam dirga penuh kecemasan.
*****
Sekarang Dirga yang tengah menggendong Ifah berlari masuk ke ruang UGD sebuah rumah sakit swasta di kota J, dia berteriak meminta tolong dengan memanggil-manggil dokter dan suster yang ada di ruang UGD.
''dokter.. suster...tolong dok..tolong istri saya.. tolong sus..suster..''. uacap dirga dengan berteriak.
''iya pak ..ini pasien kenapa pak? ayo pak langsung baringkan di bangkar saja pak, saya panggilkan dokter dulu''. ujar seorang perawat yang berlari menghampiri mereka.
''baik suss..tolong cepat sus, istri saya pingsan, saya baru pulang kerja tau-tau istri saya sudah pingsan dikamar''. jelas dirga.
''baik--baik pak, tapi maaf pak, bapak tunggu di luar ya. biar dokter periksa pasien dulu. nama pasien siapa pak?''. ujar suster.
''iya suss, nama istri saya Ifah. tolong cepat sus..istri saya sedang hamil muda''. jelas dirga lagi.
''iya pak..iya pak''. jawab suster.
Beberapa menit kememudian...
''keluarga pasien atas nama nyonya Ifah?''. panggil suster.
'' a iya suster, saya suaminya. gimana keadaan istri saya sus?''. tanya Dirga.
''mari pak silahkan masuk, di dalam dokter akan menjelaskan''. jawab suster.
Betapa remuk dada Dirga saat melihat wanita yang sangat dicintainya tengah terbaring tak berdaya, wajah putih ifah yang terlihat pucat dan tubuh mungil ifah yang napak begitu kurus. Sungguh Dirga tak dapat lagi membendung air matanya, Dirga menagis tergugu di samping Ifah yang tengah terbaring dengan selang infus yang menancap di pergelangan tangan kirinya.
''Begini pak, sekarang keadaan pasien sudah stabil. Tapi berhubung kandungan nyonya ifah sedang lemah, jadi kami anjurkan pasien untuk di opnam sampi 3 hari kedepan''. ucap dokter mulai menjelaskan.
''Dari hasil pemeriksaan kami, sepertinya istri anda kekurangan asupan gizi serta pola makan yang tidak teratur. hal itu bisa terjadi salah satunya karena stres. Sebaiknya untuk beban pikiran di hindari dulu dari nyonya. jadi untuk sentara kita rawat inap dulu agar kami bisa memantau kondisi pasien dengan intensif''. tambah dokter.
''Baik dok, kalo itu yang terbaik saya ikut anjuram dokter saja''. jawan dirga lemah.
__ADS_1
''Baiklah, sebaiknya bapak urus dulu administrasinya agar pasien bisa segera kita masuk ruang rawat. kalo begitu saya permisi dulu''. pamit dokter.
''iya dok, terimakasih''. Jawab Dirga.
Setelah selesai dengan semua urusan administrasinya, akhirnya sekarang Ifah telah berada dalam ruang rawat yang terlihat mewah. Ya, Dirga sengaja mengambil ruang VVVIP agar Ifah nyaman terasa seperti dalam kamar pribadi.
Sudah 30 menit berlalu setelah Ifah berada dalam ruang rawat, namun Ifah tak kunjung sadarkan diri. Hal itu membuat Dirga tambah kuwatir, ketika Dirga akan berdiri untuk menekan tombol bantuan tiba-tiba terdengar suara Ifah meringis.
''iss..uggh..''. suara desis Ifah pelan.
''Alhamdulillah, sayang kamu udah bangun''. ucap Dirga sumbringah dan langsung menggenggam tangan Ifa. Namun saat itu juga Ifah melepaskan genggaman Dirga.
''sayaang, gimana keadaan kamu, apa perlu mas panggilakan dokter? sebentar ya mas pang..''. ucapan Dirga terpotong.
''ga usah mas, aku baik-baik aja''. potong Ifah sambil memposisikan tubuhnya untuk duduk di kasur. Saat Dirga hendak memegangnya, dengan sigap Ifah menepis tangan Dirga. Namun Dirga tetap berusaha untuk tenang.
''apa kamu butuh sesuatu? mas ambilkan minum ya, kamu harus minum dulu. sekalian mas suapkan makan ya. kata dokter kamu harus banyak makan, kasian dedek bayi kita di dalam kelaparan. yah sayaang''. bujuk Dirga.
''aku mau kita cerai mas''. ucap Ifah penuh penekanan dengan wajahnya yang masih menunduk.
Inilah hal terbesar yang paling di takuti Dirga, permintaan cerai dari ifah. Sebisa mungkin Dirga bersikap tenang, dia tidak mau memancing emosi Ifah. Seperti kata dokter, Ifah harus happy dan tidak stres. Kemudian Dirga mendekat ke samping Ifah dan mengarahkan sendok berisi bubur ke mulut Ifah.
''aa aa sayaang, ayo makan dulu sayang, dedek bayinya juga lapar''. ucap Dirga sambil menyuapkan Ifah bubur. Dengan keras Ifah tepis sendok yang dipegang Dirga hingga terjatuh kelantai.
''CERAIKAN AKU,,!". Teriak Ifah dengan mata yang menatap tajam Dirga penuh amarah.
''sayang, apa yang kamu katakan?''. ucap Dirga menatap Ifah penuh kesedihan.
''berhenti berpura-pura mas. Aku sudah tahu semuanya, dan aku sudah putuskan aku mundur.
Nikahi dia, tapi sebelum itu ceraikan aku.''kata Ifah penuh penekanan sambil menghapus kasar bulir bening di sudut matanya yang sudah siap untuk menetes. Terlihat sorot mata Ifah penuh kebencian saat melihat ke arah Dirga.
''Mulai sekarang jangan pernah menyentuhku lagi, aku jijik sama kamu. Setiap melihat mu, wanita itu selalu membayangiku. Jadi sekarang jangan pernah muncul lagi di hadapanku, karena mulai hari ini aku bukan Ifah mu lagi mas''. ujar Ifah penuh amarah.
Degg..
Sungguh perih berdenyut dada Dirga mendengar setiap perkataan Ifah, tak terbayang baginya akan lebih sesakit ini.
__ADS_1
''Sayang mas tau mas banyak salah sama kamu, tapi mas benar-benar ga ada hubungannya dengan kehamilan Nadira. mas mohon percayalah kali ini sama mas. mas ak..''. penjelasan Dirga terpotong.
''Cukup mas, cukup!..hiks..hiks..cukup kamu jadikan aku pelarian darinya, sekarang lepaskanlah aku. Aku udah ga kuat mas hiks...hiks. Aku benci sama kamu..aku ben..
aaahhh...aawwhh, perutku aaa...''. tiba-tiba Ifah merasakan nyeri diperutnya.
''Sayaang..perut kami kenapa? oh tuhan..ya ampun sayang ada darah..oh tuhan...oh tuhaan..oh tuhaan..''. ucap Dirga panik.
''jangan oh tuhan terus dong, panggil dokter.. aaa aawhh.. aduh mas sakiiit.. aaawh''. Ifah meringis kesakitan.
''oh tuhan...ya ya mas panggil dokter dulu..
dokteeerr...dokteeer..susssteeer''. Dirga mulai berteriak.
Tidak lama dokter dan suster datang dan langsung melakukan peeriksaan. Setelah selesai Dirga kembali disuruh masuk.
''Begini pak, keadaan pasien sangat tidak baik. Hal itu juga kakan berpengaruh terhadap janinnya. Untuk sekarang pendarahnnya memang tidak berpengaruh terhadap kandungannya, tapi jika pendarahan terjadi lagi kami tidak bisa ambil resiko pak. Jadi seperti saran saya, hindarilah pasien dari stres. Jangan memicu emosi pasien, kami harap bapak mengerti''. Dokter menjelaskan.
''Dokter, saya tidak ingin ada dia di sini. kalo dia masih di sini stres saya makin meningkat. Jadi saya minta tolong sama dokter tolong usir dia dan jangan pernah ijinkan dia masuk''. pinta Ifah pada dokter.
Untuk sesaat dokter dan suster terpaku dalam satu tatapan. kemudian serentak menatap ke arah Dirga. Dirga yang merasa di tatap langsung menundukkan kepala.
''Baiklah nyonya Ifah, sebaiknya nyonya istirahat dulu ya. Pak, bisa kita bicara di luar sebentar?''. ujar dokter.
''Baik dok, sayang mas tinggal sebentar ya. suster tolong jaga istri saya sebentar''. ucap Dirga.
Namun saat Dirga bicara kepada Ifah, Ifah langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Hati Dirga kembali berdenyut karena sikap Ifah yang sudah sangat membencinya.
Beberapa menit kemudian, Dirga muncul di balik pintu dengan raut wajah penuh kekecewaan. Melihat itu Ifah langsung mebalikkan badannya memunggungi Dirga. Kemudian suster yang ada di dalam langsung pamit untuk keluar ruangan Ifah.
''sayang, mas ada di luar kalo kamu perlu apa-apa''. kata Dirga.
Melihat Ifah hanya diam, tanpa menunggu jawaban Ifah, Dirga berjalan ke luar dan menutup pintunya kembali. Ya, Dirga putuskan untuk menerima permintaan Ifah untuk malam ini. Karena hari sudah larut, maka diputuskannya besok pagi saja untuk mengambil keperluannya dan keperluan Ifaj ke apartemen. Akhirnya Dirga tidur di atas kursi di depan kamar rawat Ifah, agar memudahkannya untuk menjaga Ifah. Karena rasa lelah dan kantuk yang bercampur, tak butuh waktu lama bagi Dirga untuk tertidur lelap.
Di dalam kamar rawat Ifah, terlihat Ifah tengah menangis tersedu-sedu. punggungnya bergetar hebat, air matanya tak henti-hentinya mengalir meratapi nasibnya yang malang. saat ini dia begitu merindukan sosok ayahnya dan kakaknya Ridwan, namun Ifah tidak ingin membebani mereka dengan masalahnya. Mungkin nanti, tapi tidak untuk sekarang. Yang jelas tekat Ifaj sudah bulat bahwa dia tidak ingin bersama Dirga lagi.
''maafkan bunda nak, maafkan bunda sayang, maafkan bunda kalau egois sama kamu. Tapi bunda tidak sanggup lagi. bunda janji sayang, bunda akan jaga kamu dengan baik. Anak bunda baik-baik ya sayang, bunda sayang sama anak bunda''. ucap Ifah sambil mengelus-elis perut datarnya.
__ADS_1