Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
10. Rumah baru.


__ADS_3

Tiga hari kemudian, rumah yang diinginkan Jamal pun akhirnya bisa didapatkan. Kini keduanya, Laras dan Jamal, sedang mengecek lokasi. Melihat semua fasilitas hingga tata letak ruangan. Seberapa luas tamannya, juga seberapa luas halaman serta ruang tamunya. Tak perlu pikir panjang, tak perlu juga bersikap seperti orang susah yang harus mikir-mikir dulu sebelum memutuskan. Jamal segera menandatangani kontrak jual-beli, rumah yang tadinya milik agen properti, kini berpindah hak milik dalam hitungan detik. Tak ada tawar-menawar, tak ada juga pertanyaan soal harga. Jamal membeli langsung karena hatinya merasa istrinya akan suka dengan rumah baru mereka.


Ah, sebenarnya ada satu alasan lagi yang membuat Jamal cepat-cepat membeli rumah ini. Bukannya karena ini rumah yang paling bagus, bukan juga ini rumah yang paling laris dilirik oleh pengincar rumah. Tapi karena pria itu ingin segera pindah dari rumahnya saja. Dia kesal karena sudah tiga hari ini berbagai tamu tak diundang mendatangi istrinya. Jamal pun tahu kalau itu orang-orang suruhan kakeknya, para bawahan pengikut keluarga mereka. Ingin melabrak satu-satu, sang istri jelas tak setuju. Yah, jalan terakhir yang dipilih adalah pindah secepatnya menggunakan jasa pengangkutan. Pokoknya besok mereka harus sudah tinggal di sini. Masalah barang-barang dari rumah lama biar pelayan yang mengurus.


Tak berhenti sampai di situ, Jamal juga menyewa bodyguard untuk menjaga istrinya di rumah. Ke mana pun istrinya pergi, bodyguard yang disewanya harus selalu ikut. Sengaja dia memilih bodyguard perempuan agar istrinya tak merasa risih dan bisa berteman.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Kita mau ke mana, mas?" tanya Sinta yang diajak pergi tanpa diberitahu ke mana tujuan mereka yang sebenarnya.


"Nanti kamu akan tahu," tukas Jamal masih menyembunyikan tujuan mereka.


Sinta memutar tubuhnya, kini dia melihat ke samping, tepat di mana suaminya sedang mengemudi. "Jangan bilang kita bakal ketemu keluarganya mas sekarang?" tercampur nada panik, khawatir, dan juga tak siap di suara Sinta. Itu yang tertangkap oleh pendengaran Jamal barusan.


"Buat apa?" tukas Jamal mendengus pelan. Kalau sampai istrinya mendengar dia mendengus, bisa dipastikan kalau Jamal akan ditegur karena bersikap tak sopan saat membicarakan tentang keluarganya sendiri. "Kita tak akan bertemu kakek sampai pria tua itu mengubah pikirannya," tambah Jamal.


"Bukannya malah kita harus membujuk kakek, mas? Mungkin kakek bisa berubah pikiran kalau kita melakukan itu,"


"Aku lebih percaya kalau mimpi bisa jadi kenyataan dari pada kakekku yang mengubah pendiriannya. Kakek sangat-sangat keras kepala dan tak mau menerima kekalahan!"

__ADS_1


Sinta tersenyum kecil mendengar ucapan suaminya. "Bukannya mas juga sama? Mas kan juga keras kepala?" kekeh wanita itu terlihat semakin cantik di mata Jamal. Ah, dia bisa menukar segala yang dia miliki di dunia ini untuk membuat istrinya terus tersenyum cantik seperti ini.


"Anggap saja itu faktor genetik keturunan," balas Jamal mengangkat bahu ringan. Tak menampik kalau dia juga keras kepala dan terkadang tak bisa mengalah.


"Kita sudah sampai," tukas Jamal menghentikan laju mobilnya di salah satu rumah besar yang bernuansa sederhana. Sederhana hanya di perkataannya saja, nyatanya semua yang terbaik yang digunakan untuk memenuhi isi rumah yang akan menjadi tempat tinggal keduanya di masa depan ini.


"Rumah siapa ini, mas? Kenalannya mas, ya?" tukas Sinta takjub. Dia suka dengan halaman yang luas dan juga kebun bunga yang dipenuhi beraneka warna bunga yang sedang bermekaran.


"Gimana rumahnya?" bisik Jamal merangkul pundak istrinya.


Sinta mengernyit, tapi dia segera mengangguk singkat. "Bagus. Halamannya luas dan banyak bunga bermekaran yang ditanam. Tapi ini rumah siapa, mas? Harusnya kita beli buah di jalan kalau mau mampir ke rumah orang. Kan gak enak datang dengan tangan kosong,"


"Jadi kamu suka yang begini?" tanya Jamal makin terdengar aneh menurut Sinta. Memang apa pentingnya dia suka atau tidak kalau ini rumahnya orang. Dia kan tak tinggal di sini. Tak mungkin suaminya memutuskan pindah rumah tanpa mengatakan apa-apa padanya, atau bahkan hanya sekedar meminta pendapat saja.


"Bagus," balas Sinta singkat. Memang bagus jadi buat apa dia berbohong.


"Baiklah, karena kamu suka. Maka kamu yang akan mengatur sisanya," ucap Jamal sebelum mereka masuk ke dalam.


"Mengatur?" kernyitan di kening Sinta semakin terlihat jelas. "Jangan bilang ...?" Sinta tak berani melanjutkan perkataannya. Entah mengapa dia merasa apa yang ingin dia katakan akan diangguki oleh suaminya ini.

__ADS_1


"Ini rumah kita yang baru. Dekat dengan kantor, akan ada empat penjaga yang berjaga secara bergantian, dan yang lebih penting kalau ada masalah aku bisa langsung berlari pulang untuk membantu!"


"Lalu rumah kita?" tentu saja Sinta suka dengan rumah yang ini, tapi rumah lama mereka masih sangat bagus. Bahkan untuk ditempati selama puluhan tahun ke depan pun rasanya tak akan ada masalah.


"Menurut kamu bagusnya kita apakan? Jual atau sewakan atau suruh orang tinggal di sana yang penting orang itu mau ngerawat dan ngurus pengeluaran bulannya?" yah kalau tinggal gratis saja Jamal juga tak keberatan, tapi semua harus memiliki tanggung jawab untuk membayar air dan listrik yang dipakai sendiri bukan. Kalau dia juga yang bayar, seperti terlalu memanjakan dan malah menambah penyakit malas saja nantinya.


"Mas baru nanya sekarang?" delik Sinta tak suka. Bukan, bukan. Bukannya dia tak suka dengan rumah mereka yang baru, dia sudah bilang tadi kalau rumah ini bagus bukan. Tetapi yang dia tak suka, suaminya memutuskan semuanya sendirian tanpa memberitahukan apa pun padanya.


"Maaf kaki mas terburu-buru, dek. Mas ngelakuin ini semua agar kamu gak lagi diganggu sama keluarga mas setiap mas pergi ke kantor,"


Permintaan maaf yang tulus. Oh, siapa yang bisa tetap marah kalau sudah begini. Mau tak mau, Sinta pun luluh mendengar suaminya meminta maaf sampai menunduk penuh sesal begini.


"Maaf, aku juga emosi sendiri, mas. Padahal harusnya aku gak gitu," tukas Sinta menepuk bahu suaminya.


"Maukah mas mengajak aku berkeliling?" lanjut wanita itu mengubah suasana di antara mereka.


Jamal mengangguk cepat. Keduanya berpegangan tangan sambil berkeliling melihat rumah baru mereka. "Aku juga baru dua kali ini ke sini. Yang pertama sama Laras, dia yang menenin aku ngecek rumah dan segala macam hal lainnya," aku pria itu sambil berkeliling.


"Terus pas mau tanda tangan kontrak jual-beli, Laras malah dikira istri mas. Lucu, bukan?" kekeh Jamal. Sinta mengangguk dia masih merasa risih dengan kedekatan suaminya dan Laras. Namun, wanita itu tak ingin mengekang atau menarik garis batas untuk hubungan pertemanan suaminya. Meski tak enak, dia harus percaya bahwa suaminya tak punya niat mendua. Mereka pasti akan bahagia hingga akhirnya dipertemukan di surga sana.

__ADS_1


__ADS_2