Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
18. Kesalahan kedua


__ADS_3

Saat Jamal pulang, dia bertemu dengan Tias yang sedang berbicara berdua dengan Sinta, istrinya. Tias yang ditegur malah bersikap sok kenal dan seolah memiliki hubungan yang hangat dengan Jamal. Wanita licik itu menempatkan diri sebagai tante yang paling menyayangi keponakannya, yaitu Jamal. Tentu saja Jamal tak setuju dengan itu, mereka hanya dua orang yang bisa bertemu karena nama besar Sanjaya. Bukannya karena mereka keluarga sungguhan seperti yang Tias maksudkan.


Saat Tias sudah pergi, Jamal meminta waktu pada istrinya untuk bicara. Dia membulatkan tekad untuk mengatakan semuanya. Termasuk tentang ide gila yang dia rencanakan agar semua perhatian yang tadinya mengganggu istrinya beralih pada dirinya saja. Namun, Sinta menolak. Wanita itu hanya ingin mendinginkan kepalanya. Dan meminta untuk bicara nanti saja kalau dia sudah siap. Jamal mengiyakan, berharap waktu bisa membuat istrinya tenang dan mereka bisa bicara secepatnya. Masalah seperti ini tak boleh dibiarkan berkepanjangan. Kalau tidak, akan berbahaya bagi rumah tangga mereka.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Di perjalanan, Jamal menelepon Laras. Menanyakan apa kawannya itu sudah membatalkan janji temu yang dia miliki. Kebetulan Laras menjawab kalau dia baru saja ingin menghubungi pihak lain dan meminta pertemuan di undur.


"Tak usah, lakukan saja sesuai jadwal semula!"


Panggilan terputus, bahkan sebelum Laras sempat menanggapi perintah dari Jamal. Wanita itu menatap telepon kantor yang dia pegang, pasti kawannya memiliki masalah saat ini. Makanya dia butuh pekerjaan untuk mengalihkan fokusnya.


Laras menghela napas panjang, masalah satu belum selesai. Dan kini ada lagi masalah lain yang Laras tak tahu apa itu masalahnya. Dia hanya berharap kalau semua bisa diselesaikan dengan baik secepatnya.


Di kamar, Sinta menatap rekaman yang diberikan Tias padanya sebelum wanita itu pergi. Sebenarnya dia tak mau mempercayai orang yang memang menginginkan perpisahan antara dirinya dan suaminya. Tapi, bagaimana kalau apa yang dia abaikan justru adalah kebenaran yang selama ini dia cari.


Sinta menarik napas panjang sembari memejamkan matanya. Wanita itu terlihat kalut dengan banyaknya emosi yang menguras jiwanya. Apa yang harus dia percaya saat ini. Suaminya yang mungkin saja memiliki wanita lain, orang yang selalu mengganggu harinya dengan berbagai macam hinaan, atau fakta yang dia dengar melalui sambungan telepon semalam. Yang mana pun yang Sinta pilih, hasilnya akan tetap sama. Dia sendiri yang akan tersakiti, dia yang akan menjadi korban di sini.


"Jangan percaya apa pun sebelum kamu melihatnya langsung, Sinta!" tukas Sinta pada dirinya sendiri. Dia mengangguk lalu membuang rekaman yang tadi diberikan pada Tias. Dia akan percaya apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Dirinya tak mau menyesal di kahir karena telah salah mengambil keputusan dalam keadaan penuh emosi.


"Mari langsung bertanya pada Mas Jamal nanti!" ucap Sinta penuh tekad.


Wanita itu pun kembali bergelung di kasurnya. Di malas melakukan apa pun dan hanya ingin tidur untuk saat ini.

__ADS_1


Sore datang dengan cepat. Sinta yang sudah merasa lebih baik, menyibukkan diri di dapur seperti biasanya. Dia membuat berbagai.jenis hidangan dan beberapa kue kering untuk cemilan.


Waktu terus berlalu, wajah penuh senyum yang tadi menunggu suaminya, kini berubah masam. Perasaannya kembali anjlok saat menatap jam dinding yang menunjukkan waktu pukul sembilan malam lewat sedikit. Suaminya lembur dan ini baru pertama kalinya terjadi. Tak ada pesan yang dikirim, tak ada juga telepon yang masuk ke ponselnya.


Dengan wajah kusut tak karuan, Sinta berdiri dari duduknya. Dia merasa lelah menunggu sejak tadi. Sudah hampir empat jam dia duduk si Meja makan, menunggu kepulangan Jamal yang biasanya pulang tepat waktu. Tapi apa sekarang, pria itu bahkan belum pulang saat waktu sudah hampir menunjukkan pukul sepuluh.


"Jane! Karen!" panggil Sinta dengan lantang.


"Ya, nyonya!"


"Ada apa, nyonya?"


Karen dan Jane menjawab bersamaan.


"Aku mau istirahat. Terserah kalian mau memakan semua makanan ini atau membuangnya, aku tak akan peduli dan ikut campur!"


"Aku pergi," tukas Sinta malas menunggu tanggapan kedua pengawalnya.


"Selamat malam, nyonya," ucap Jane sopan.


"Semoga anda bermimpi indah," tambah Karen lagi.


Tak mempedulikan apa pun, Sinta bergegas kembali ke kamarnya. Dia kesal. Ralat, dia teramat sangat merasa kesal. Sungguh, dia ingin berteriak dengan keras sekarang. Tetapi ditahannya karena tak ingin membuat keributan.

__ADS_1


"Kenapa jadi begini, ya Tuhan," desah wanita itu menitikkan air mata. Hatinya merasa sakit, di saat dia bertekad untuk berbicara, malah suaminya tak kunjung pulang meski sudah lama ditunggu.


Emosi memuncak, pikiran buruk silih berganti datang bagai roll film yang berputar. Bayangan kalau suaminya sedang bermesraan dengan wanita lain terus muncul membuatnya semakin sakit hati. Di puncak segalanya, Sinta akhirnya berteriak dengan sangat keras. Teriakan yang terendam dengan tebalnya selimut yang membungkus tubuhnya. Wanita itu memilih menangis dalam diam, berusaha mengabarkan hatinya yang jelas terluka.


Mungkin hanya dirinya yang terlalu sensitif, tapi siapa yang bisa menahan semua pikiran buruk kalau semua bukti mengarah ke satu titik yang sama. Percakapan telepon, rekaman yang diberikan yang belum dia lihat isinya, serta suaminya yang belum pulang sampai saat ini. Bagaimana dia tidak merasa yakin kalau suaminya tidak berselingkuh.


Pukul dua belas kurang, Jamal menggeret langkahnya. Memaksakan untuk tetap terjaga meski kantuk begitu melanda. Pria yang baru saja pulang itu pun berniat membuka pintu kamar mereka, tetapi meski berapa kali pun dirinya mencoba, pintu di depannya ini tak mau terbuka. Apa istrinya sengaja mengunci pintu karena marah.


Jamal menghela napas lelah. Dia memilih masuk ke kamar lain. Tubuhnya sangat lelah, terlalu banyak pekerjaan yang ditumpuk entah datang dari mana. Dia harus menyelesaikan semuanya sebelum besok, makanya dia terpaksa tak pulang meski sudah malam.


Jangankan untuk menghubungi, untuk beristirahat sebentar guna meneguk satu atau dua teguk air saja dia sungguh tak bisa. Saking banyaknya pekerjaan yang harus dia tangani dengan segera, Jamal pun harus rela tak bertemu istrinya lebih awal hari ini.


Begitu kelar mandi, Jamal kembali ke luar dari kamar. Dia menuju meja makan. Kening pria itu mengernyit melihat banyaknya makanan di bawah tudung saji. Tak ada yang disentuh satu pun dari semuanya, apa istrinya sengaja membuatkan ini untuk dirinya. Oh, alangkah bagusnya kalau dia bisa menyantap ini sambil berbincang dengan Sinta, istrinya. Dia pasti bisa melihat senyum wanita kesayangannya itu dengan leluasa.


"Kalian sudah makan?" tanya Jamal yang rupanya menanyai pengawal istrinya. Dia saat ini berdiri di depan pintu rumahnya.


"Kami tadi disuruh nyonya makan makanan yang di meja. Tapi kami merasa tak enak kalau memakan itu semua berdua saja," tukas Jane menjawab.


"Tapi kami sudah makan, kok. Jadi tuan tenang saja," sahut Karen cepat.


"Kalau saya boleh lancang untuk melapor, sebenarnya nyonya menyiapkan semuanya dan menunggu tuan untuk waktu yang lama. Tapi anda malah tak kunjung datang hingga akhirnya nyonya memutuskan untuk kembali ke kamar,"


"Jadi, Sinta belum makan?"

__ADS_1


Jane mengangguk mengiyakan. Itulah yang dia lihat, nyonya mereka tak menyentuh satu ujung sendok pun selama menunggu tuan mereka pulang.


"Si*l!!!" umpat Jamal bergegas kembali ke dalam.


__ADS_2