Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
27. Rencana balasan.


__ADS_3

"Aku ingin bertemu kakek!" tukas Jamal berbicara pada Ardi.


"Maafkan saya, tuan. Tuan besar tak bisa ditemui sekarang." Ardi berdiri tegak, menatap lurus Jamal yang merupakan penerus satu-satunya yang mungkin akan menjadi bosnya di masa depan. Dalam hati pria itu menertawakan kebodohan Jamal, hanya karena seorang wanita, dia bahkan sampai rela membuat taruhan gila yang sama sekali menguntungkan dirinya.


"Ada yang harus aku bicarakan pada kakek sebentar saja," decak Jamal mulai kesal. Dia di sini sebagai cucu dari pemilik, bukan untuk bertemu dengan atasan. Tapi kenapa pria kaku ini malah menghalangi dirinya.


"Sekali lagi maaf. Tuan besar memiliki pertemuan yang lebih penting!"


Tak habis akal, Jamal mengangkat telepon genggamnya, mencari sebuah nama dan menelepon pemilik nomor tersebut. "Aku ingin bicara sebentar!" tukas pria itu langsung ke intinya. Dia menatap Ardi dengan tatapan kesal, entah mengapa dia tak menyukai bawahan kakeknya itu akhir-akhir ini. Bukannya apa, Ardi terlihat sedikit meremehkan dirinya. Itu mungkin hanya perasaan Jamal saja, tapi dia tak bisa menampik perasaan tak suka yang berteriak keras setiap kali dirinya bertemu dengan Ardi.


"Kakek ingin bicara padamu." Jamal mengulurkan ponselnya ke arah Ardi.

__ADS_1


Dengan enggan Ardi bicara melalui benda pipih itu. "Baik, tuan," ucap Ardi patuh sambil memejamkan matanya.


Telepon kembali pada pemiliknya, Ardi membungkuk enggan meminta maaf pada Jamal. "Tuan besar berkata anda bisa masuk dan bertemu dengan beliau,"


"Hmm, sungguh buang-buang waktu yang tak perlu?!" dengus Jamal berucap pelan. Pria itu melewati Ardi yang menatap punggungnya dengan tatapan penuh kekesalan. Jamal mungkin seorang tuan muda, penerus satu-satunya dari Keluarga Sanjaya. Namun, itu dulu. Sekarang tuan besarnya sendiri malah tak suka pada cucunya. Jadi bukan kemungkinan yang kecil kalau keluarga ini akan berakhir sebentar lagi. Tak ada salahnya kan kalau dia mengeruk keuntungan sebelum hal buruk itu terjadi. Ardi hanya ingin hidup santai sepanjang sisa hidupnya. Tak perlu bekerja tapi dia juga tak kekurangan uang sedikit pun.


"Ada apa? Aku hanya bisa memberikan waktu sekitar lima menit untuk kamu!" tukas Arman melirik jam tangan mahal yang melingkar di tangannya.


"Di sini aku bukan kakekmu. Aku pemilik tempat kamu bekerja! Pahami itu?!"


Jamal mengangguk mengiyakan ketegasan sang kakek. Tak masalah mereka akan bicara sebagai apa, asal dia bisa mengatakan apa yang ingin dirinya sampaikan. "Sepertinya ada seseorang yang membocorkan setiap langkah yang saya ambil, tuan!" tukas Jamal mengutarakan kecurigaannya.

__ADS_1


"Itu hanya alasan, bukannya itu karena kamu yang kurang kompeten, hah?" sang kakek malah menyudutkan cucunya sendiri. Perasaan kesal karena sang cucu menikah diam-diam masih tak menghilang juga.


"Saya yakin ini bukan sekedar omong kosong. Kalau sekali atau dua kali, saya masih akan percaya kalau itu kesalahan dan kekurangan dari saya. Tapi ini, setiap yang saya lakukan selalu digagalkan entah karena alasan apa. Rekan kerja saya selalu menolak tawaran yang saya berikan."


Arman mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Memang sangat aneh kalau gak seperti itu terjadi berulang kali. "Urus saja sendiri. Buat rencana yang bisa menjebak mata-mata yang kamu maksudkan. Itu pun kalau memang mata-mata itu ada?!"


Jamal menarik sudut bibirnya, ini yang dia tunggu. "Akan saya lakukan, tuan!"


arman melambaikan tangannya ke udara. "Waktu lima menit habis, kamu bisa pergi sekarang."


Di luar, Jamal bertemu pandang dengan Ardi. Dia hanya mengangguk singkat seperti yang Ardi lakukan. Setelahnya dia kembali ke ruangannya dan membuat proposal jebakan untuk menangkap orang busuk yang sudah bermain trik di belakang mereka.

__ADS_1


__ADS_2