Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
19. Kencan dadakan


__ADS_3

Jamal yang mengetahui kalau istrinya pergi tidur tanpa memakan apa pun, bergegas masuk ke dalam. Pria itu segera membuka pintu kamar dengan kunci duplikat yang dia miliki. Dirinya begitu takut kalau Sinta kenapa-napa. Mungkin saja istrinya saat ini bukannya tidur, tapi sedang kesakitan karena tak menyentuh nasi sedikit pun.


"Sayang! Sin! Sinta," bisik Jamal mencoba membangunkan istrinya.


Lenguhan terdengar, Sinta mengedipkan mata guna menyesuaikan penglihatan. "Oh, sudah pulang? Masih ingat rumah, mas?" ucap Sinta dengan suara serak.


Dapat Jamal lihat dengan jelas jejak air mata di pipi istrinya. Dia pun segera menghapus sisa-sisa air mata yang belum menetes. "Kamu menangis?" tukas Jamal hati-hati.


"Maaf, mas banyak kerjaan dan gak sempat hubungin kamu sama sekali. Mas bahkan sangat sulit untuk minum air, dek," lanjut pria itu mencoba menjelaskan dengan benar agar istrinya tak salah paham.


"Ya," balas Sinta singkat.


"Sayang ..., tolong jangan marah, hmm?" bujuk Jamal dengan tatapan memohon.


Sinta membuang muka, tak ingin terperdaya oleh tatapan yang sama. Dirinya tak siap kalau harus kembali dibodohi. Jadi dia membuat dinding pertahanan tak kasat mata agar tak mudah dibodohi. Yah, Sinta sepenuhnya mengira kalau dirinya sudah ditipu oleh Jamal berulang kali. Hanya saja baru kali ini dia menyadari hal tersebut.


"Aku capek, mas. Mari lanjutkan ini besok saja," tukas Sinta kembali memejamkan matanya.

__ADS_1


"Setidaknya ayo makan dulu, hmm. Aku dengar kamu belum makan apa-apa dan terus menunggu mas aja," bujuk pria itu dengan suara lembut.


"Plis, jangan ganggu aku, mas. Aku gak lapar! Aku cuma ngantuk." Sinta menggigit bibirnya, wanita itu tak ingin memulai perkelahian, makanya dia lebih memilih untuk tidur dari pada terus berdebat seperti sekarang.


Jamal menghela napas panjang, mengelus sayang pucuk kepala istrinya. "Mimpi indah, sayang," tukasnya sembari melayangkan kecupan singkat. Setelahnya Jamal memilih ke luar dari kamar. Dia yakin istrinya sedang menghindar darinya dan tak ada apa pun yang bisa dia lakukan kalau istrinya memang menginginkan hal itu.


"Apa anda ingin dibuatkan teh, tuan?" ucap pelayan yang melihat Jamal termenung sendirian di teras rumahnya.


Jamal tersenyum tipis sembari mengangguk kecil. "Tolong, ya," katanya.


"Tunggu sebentar, tuan. Saya ke dapur dulu,"


"Awas saja kalau pernikahanku tak berjalan baik, akan aku buat kakek menyesal memiliki cucu seperti diriku!" desisnya dengan mata berkilat kesal.


"Tuan, ini teh anda,"


"Oh, terima kasih. Kamu bisa beristirahat sekarang,"

__ADS_1


Jamal kembali merenung sendirian, berharap waktu cepat berlalu dan semuanya kembali seperti semula. Hubungannya dan istrinya kembali hangat seperti sebelum sang kakek mengetahui tentang pernikahan mereka.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Pagi menjelang, Sinta melirik sisi tempat tidur di sebelahnya yang masih rapi. Jelas tak ada yang tidur di sana semalam. Ah, apa sekarang suaminya bahkan tak ingin tidur seranjang dengan dirinya.


Menepis semua perasaan buruk di hatinya, Sinta pun bergegas ke kamar mandi dan mengguyur kepalanya dengan air dingin. Setelahnya Sinta pun ke dapur untuk membuat sarapan.


Hati wanita itu sedikit terenyuh saat melihat suaminya tertidur meringkuk di sofa. Rasa kesal sudah membuatnya bertindak kelewatan dengan tak menghiraukan suaminya sejak semalam.


"Mas, bangun,"


Jamal melenguh pelan, sedetik kemudian pria itu tersenyum menatap wajah istrinya. "Pagi, cantik," sapanya penuh gombalan.


"Mandi sana," usir Sinta kembali menegakkan tubuhnya. Oh, bagaimana pun rasa kesal itu tetap ada meski dia mencoba untuk menampiknya.


"Oke, setelahnya ayo kita berkencan!"

__ADS_1


Sinta melongo mendengarnya, sedangkan Jamal sudah kabur ke kamar mandi tanpa mau mendengar tanggapan istrinya. Bagiamana pun caranya mereka harus berbaikan.


__ADS_2