Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
23. Rencana jahat


__ADS_3

Rumah tangga Jamal dan Sinta kembali membaik dan damai seperti semula. Meski tak ada lagi yang menggangu mereka, tetapi Jamal masih menggunakan jasa pengawal untuk istrinya. Dia takut saat dirinya tak ada, mungkin saja ada penjahat kesasar yang masuk ke rumahnya. Bukankah ada juga pribahasa yang mengatakan lebih baik mencegah dari pada mengobati. Makanya dari pada kecolongan, Jamal bersiap lebih dulu untuk segala kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang. Sinta telah menata hatinya dan memilih untuk mempercayai apa yang suaminya katakan padanya.


"Mas mau bawa bekal?" tanya wanita itu menatap khawatir pada suaminya yang terus pulang terlambat beberapa hari ini.


"Gak usah. Mas gak mau kamu kerepotan buatin mas bekal."


"Tapi aku gak merasa direpotkan, kok," tukas Sinta dengan cepat.


Jamal tersenyum tipis seraya mengusak pelan rambut istrinya. "Ayo kita sarapan saja, akan mas usahakan pulang lebih cepat hari ini,"


Sinta mengangguk, tak ada gunanya kalau dia terus memaksa. Kalau sudah seperti ini artinya suaminya memang tak mau merepotkan dia untuk membuat bekal di jam segini. Mungkin besok Sinta harus bangun lebih awal biar dia bisa menyiapkan bekal untuk suaminya lebih cepat.


"Aku berangkat, ya!" Sinta mengangguk, wanita itu kemudian mengerjakan pekerjaan rumah yang harus dia kerjakan hari ini.


Begitulah keseharian Jamal setelah dia membuat kesepakatan dengan kakeknya. Dia bekerja berkali-kali lipat lebih keras dari pada sebelumnya. Semua itu dia lakukan guna memenangkan taruhan yang mereka sepakati.

__ADS_1


Yang tak Jamal ketahui, di balik bayangan sudah menunggu rencana-rencana busuk yang dibuat oleh pihak ketiga yang mengharapkan Jamal menghilang agar mereka bisa menempati posisi yang pria itu tinggalkan. Tias salah satu dari sekian banyak nama yang memilih melanggar peringatan dari tuan besar mereka. Arman sudah mengatakan agar membiarkan cucunya dan juga Sinta yang dia anggap sebagai wanita rendah atau pendamping yang tak pantas untuk Jamal. Sayangnya titah itu tak digubris. Tias dan yang lainnya malah bergandengan tangan menyatukan kekuatan untuk membuat Jamal kalah taruhan.


Posisi kosong yang Jamal tinggalkan terlalu megah untuk tak diraih dengan cara apa pun. Akhirnya mereka bekerja sama guna membuat Jamal pergi tanpa bisa kembali lagi.


"Apa yang harus kita lakukan?" tukas mereka membuat rencana.


"Hanya ada satu posisi, sedangkan kita memiliki empat kuda hitam untuk menggantikan dia!" ucap yang lain menimpali.


"Buat dia kalah dulu, saat dia sudah pergi baru kita bersaing untuk mendapatkan posisi yang dia tinggalkan!"


"Tapi kita tak boleh ketahuan oleh Tuan Arman!"


"Kalau itu kita juga tahu?!"


"siapa yang mau mengambil resiko memperlihatkan kebusukan mereka?" tukasnya meremehkan. Mereka semua memasang topeng di wajah mereka. Tak ada yang tahu air muka asli dari sifat mereka.

__ADS_1


"Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk saat ini?"


Keempat wanita tersebut saling berbisik bertukar pendapat. Mereka menambahkan rencana masing-masing guna menyempurnakan rencana yang sudah ada.


Tentu saja bukan mereka yang akan melakukan rencana akhir. Keempatnya akan memberikan uang pada pihak lain agar tak ketahuan kalau mereka lah dalang yang sebenarnya dalam hal ini.


"Oke, begitu saja!"


"Aku yakin kali ini pasti berhasil!"


"Akhirnya kita bisa merangkak naik tingkat dan tak menjadi kaki tangan yang hanya bisa digunakan saat dibutuhkan saja!"


"Siapa pun yang mendapatkan tempat itu, ingat janji kita. Apa yang kita lakukan di sini, hari ini, tak boleh bocor ke luar sama sekali!"


Keempatnya mengangguk serempak, mata mereka berkilat penuh ambisi. Tak sabar membuat Jamal pergi dan membuat salah satu dari anak-anak mereka yang menggantikan posisi pria itu. Siapa yang tahu keberuntungan mungkin akan datang setelahnya. Anak mereka bisa diangkat sebagai pewaris menggantikan cucu yang istrinya tak disukai oleh keluarganya sendiri itu.

__ADS_1


__ADS_2