Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
16. Sinta dalam mood buruk


__ADS_3

Pagi itu, Jamal mengernyit heran saat melihat wajah sembab sang istri. Belum lagi tak ada sapaan hangat serta kecupan ringan yang istrinya biasa lakukan setiap pagi. Apa istrinya mengalami mimpi buruk.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Jamal seraya duduk di kursinya. Dia memakan sarapan yang disiapkan istrinya dengan perasaan tak karuan. Khawatir kalau istrinya sakit atau hal semacam itulah.


"Memangnya aku bisa kenapa?" tukas Sinta balik bertanya. "Aku gak kenapa-napa!" lanjutnya penuh penekanan tanpa mau menatap suaminya. Dia takut kalau tak sanggup menyimpan semuanya dan mengamuk di pagi yang damai ini. Hanya karena satu telepon yang dia angkat dan dirinya jadi merasa buruk. Bahkan lebih buruk dari pada didatangi setiap hari oleh keluarga dari pihak suaminya dulu.


"Kamu gak lagi sakit, kan? Ayo kita ke dokter. Aku khawatir, sayang."


Sinta memejamkan matanya. Kalau biasanya dia akan merasa terharu dengan sedikit saja perhatian suaminya, tetapi sekarang rasanya seperti pisau yang mengiris hatinya. Sinta membayangkan kata sayang itu bukan hanya untuk dirinya saja. Perhatian itu hanya kepalsuan yang dikemas sedemikian rupa dan membuatnya terlena selama ini.


"Aku gak sakit! Mas bisa ke kantor aja dan gak usah pedulikan aku?!" ketus Sinta meninggalkan meja makan dengan langkah kesal.


Jamal semakin mengernyit, tetapi sedetik kemudian dia mengangguk seolah paham. "Ah, mungkin tamu bulanannya datang. Makanya dia emosian kayak gitu,"


Jamal pun lanjut makan dan pergi bekerja setelahnya. Tak lupa dia menyuruh dua pengawal istrinya untuk lebih memperhatikan Sinta yang sedang dalam mood buruk. Jamal juga minta dihubungi langsung kalau ada sesuatu yang terjadi pada istrinya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Ada apa dengan nyonya, ya?" tanya Eve yang kebetulan bertugas berjaga hari ini.


Lea mengangkat bahu tak peduli. "Bukan urusan kita. Kita di sini hanya untuk menjaga beliau, bukan mengurusi kehidupan pribadi atau suasana hatinya!"


"Kalau itu aku juga tahu. Tapi aneh aja ngeliat beliau yang biasanya penuh semangat dan selalu tersenyum ceria malah melamun dan banyak menghela napas. Seperti ada masalah yang dipikirkan," bisik Eve hapal dengan pembawaan majikannya yang sangat enerjik. Tapi hari ini, awan mendung seperti menutupi kelincahan dari majikan mereka itu.


"Aku tak mau ikut campur urusan mereka. Aku di sini digaji hanya untuk bekerja sesuai dengan apa yang diperintahkan. Kita pengawal, bukan baby sitter yang harus memperhatikan mood majikan kita," tukas Lea dengan tegas.

__ADS_1


Eve berpikir sesaat, setelahnya dia mengangguk setuju. Ucapan kawannya memang benar, tapi tetap saja rasanya ada yang tak beres kalau tuannya langsung berubah mood hanya dalam sehari. "Kamu di sini saja, biar aku yang menghampiri beliau dan bertanya. Siapa tahu beliau butuh teman bicara,"


"Terserah!" tukas Lea malas ikut campur. Terserah rekannya mau berbuat apa, yang jelas dia tak ingin terseret masalah para majikan. Dia di sini hanya untuk bekerja sesuai dengan gaji yang dia terima. Bukannya berteman dengan mereka yang menggaji dirinya.


"Apa ada tanaman yang mati karena hama, nyonya?" tukas Eve memulai percakapan.


Sinta tersentak kaget sesaat, setelahnya wanita itu menggeleng sambil tersenyum dengan paksa. "Oh, tidak. Semua baik-baik saja," ucapnya dengan nada menggantung.


"Lalu mengapa anda menghela napas sebanyak itu sejak beberapa saat lalu, nyonya? Apa ada yang anda pikirkan? Saya bisa menjadi pendengar yang baik agar hati nyonya merasa lebih ringan," tukas Eve mempersilakan tuannya untuk berbicara padanya kalau memang ada masalah yang dipikirkan. Mungkin dia tak bisa membantu atau memberikan solusi, tapi dia bisa menjadi pendengar yang baik yang akan menutup mulut rapatnya setelah itu.


Mulut Sinta terbuka. Namun, beberapa detik kemudian wanita itu kembali menutup mulutnya. Dia menelan kembali kata-kata yang akan dia ucapkan hanya karena suasana hatinya yang buruk. "Tidak ada apa-apa, tapi terima kasih sudah mengajukan diri untuk menjadi teman bicaraku, Eve,"


"Sama-sama, nyonya. Saya hanya tak terbiasa melihat anda menghela napas sebanyak itu. Biasanya kan anda sangat bersemangat dan senang setiap kali menghabiskan waktu untuk mengurus taman,"


"Baiklah kalau begitu, nyonya. Saya permisi kembali ke pos jaga dulu. Ingat untuk mencari saya kalau anda butuh teman untuk bercerita, nyonya!"


Sinta mengangguk membiarkan Eve kembali ke tempatnya semula. Tak lama kemudian, wanita itu pun memilih untuk kembali ke kamarnya. Dia hanya harus mengisi waktu dengan berbagai kesibukan agar pikirannya tak semakin liar berimajinasi ke mana-mana. Mungkin saja dia hanya salah paham, pasti suaminya akan menjelaskan kalau dia bertanya kan. Masalahnya, Sinta sama sekali tak ingin mengungkit hal ini. Dia takut mendengar jawaban apa yang akan suaminya berikan kalau dia sampai mempertanyakan hal tersebut. Anggap saja wanita itu takut menghadapi kebenaran yang mungkin bisa menghancurkan istana yang selama ini dia bangun di hatinya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Di kantor, saat jam istirahat. Laras bergegas masuk ke ruangan kawannya. Dia memasang wajah tegang dan terlihat panik luar biasa.


"Apa ada kabar buruk?" tanya Jamal heran dengan kelakukan kawan bermainnya itu. "Tak biasanya kamu masuk dengan terburu-buru seperti ini," lanjut pria itu berkomentar.


"Lalu aku harus apa, ha? Nyantai kayak kamu seolah gak akan ada masalah, gitu?" hardik Laras terlihat sangat kesal.

__ADS_1


"Oi, oi, Ras. Santai, tolong tenang dan jangan marah-marah, oke?!" tukas Jamal berusaha menenangkan sahabatnya. "Minum dulu." Jamal memberikan segelas air putih untuk Laras agar wanita itu semakin tenang.


"Memangnya sekarang waktunya gue tenang???" emosi Laras semakin memuncak. "Bisa-bisanya lo bersikap tenang setelah tahu apa yang terjadi sama gue?" lanjut wanita itu mendelik kesal.


"Hah? Bentar, bentar! Memangnya apa yang terjadi? Aku kok gak ngerti kamu lagi ngomong apaan, sih?!"


Laras mengusap wajahnya kasar. Ingan rasanya dia memaki lalu menerjang sahabatnya itu dengan kepalan tangannya. Tapi sayang mereka masih di kantor. Tak lucu kalau dia jadi bahan tontonan karena menyerang atasannya sendiri bukan.


"Masalah semalam, bodoh! Aku kan udah ngomong di telepon. Jangan bilang kamu gak inget atau malah gak denger karena masih setengah tidur saat menerima telepon dari aku?!" mata Laras menyipit curiga, hal itu bisa saja terjadi.


"Telepon? Telepon yang mana? Kapan? Aku gak ada nerima telepon dari kamu, kok,"


Laras melongo mendengar pernyataan dari kawannya. "Terus ... siapa yang nerima telepon aku semalam?" tentu saja ada satu orang di dalam bayangan Laras. Tapi sungguh, dia tak berani memikirkan kemungkinan hal itu terjadi.


"Jangan-jangan ...?" keduanya saling bertukar pandangan. Sedetik kemudian mereka mengumpat berbarengan.


"Si*l, kenapa bisa sesi*l ini, sih? Apa keberuntungan gue udah kepake semua?!"


"Be*o, kamu ngomong apa aja semalam? Si*l, apa karena ini sikap Sinta sedikit aneh tadi pagi?"


"Gimana pun lo harus mikirin cara buat nyelesain ini! Lo yang punya ide dan gue cuma bantu, jadi lo yang urus semua masalah sesuai perjanjian!"


"Aku tahu, tapi tolong bilang apa aja yang kamu omongin di telepon. Apa aja yang mungkin Sinta dengar dari kamu, Ras?"


Laras pun mengatakan semuanya tanpa ada yang disembunyikan. Bagaimana pun ini salahnya karena tak memastikan siapa yang menerima teleponnya semalam. Tapi sungguh dia tak bermaksud untuk memperburuk semuanya dengan menambah masalah. Dirinya hanya ingin Jamal memikirkan cara lain agar mereka bisa berhenti bersandiwara. Sudah itu saja, tak ada hal lain selain itu.

__ADS_1


__ADS_2