Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
15. Sinta mengetahuinya


__ADS_3

"Bukankah beberapa hari ini sangat tenang?" tukas Sinta mengajak pengawalnya berbicara. Kali ini ada Jane dan juga Karen yang mengawalnya.


"Anda benar, nyonya!" balas Jane sopan.


"Tak ada yang membuat keributan selama kurang-lebih tiga hari ini, nyonya!" tambah Karen dengan menambahkan waktunya segala.


"Ini bagus, tapi aku sedikit takut kalau ini hanya masa tenang sebelum badai," aku wanita itu sambil menyirami tanamannya.


Jane menepuk dadanya penuh percaya diri. "Anda tenang saja, nyonya. Kami ada di sini untuk melindungi anda!"


Karen mengangguk setuju. "Benar! Karena itulah kami dipekerjakan oleh tuan?!"


Sinta tersenyum tipis. "Terima kasih, aku tenang karena ada kalian," ucap wanita itu. "Kalau kalian tak ada, aku akan sangat kesepian di rumah sebesar ini," lanjutnya sambil terkekeh kecil.


"Justru kami yang merasa beruntung bisa direkrut bekerja di tempat senyaman ini, nyonya!"


"Kami akan melindungi anda apa pun taruhannya?!"


Kedua pengawal itu pun menjanjikan keselamatan Sinta sebagai prioritas utama dari tugas mereka. Tak akan ada yang bisa menyentuh klien mereka bahkan meski itu hanya sehelai rambut Sinta.


"Terima kasih," tukas Sinta tulus. "Ah, maukah kalian menemani aku makan kue? Tentu saja setelah aku mencuci tangan,"


"Kami akan mengikuti permintaan anda, nyonya!" balas keduanya serempak.

__ADS_1


Ketiga wanita tersebut pun melupakan batas antara atasan dan bawahan. Mereka mengobrol dengan santai seolah sudah berkawan lama.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Malam harinya, saat Jamal sedang fokus mengetik sesuatu di laptopnya. Sang istri menghampiri dengan segelas teh di tangannya. "Banyak kerjaan, mas?" tanya wanita itu. Semenjak suaminya mengatakan kalau dia bukan karyawan biasa, sejak saat itu juga pasangannya itu sering membawa pekerjaannya pulang ke rumah. Apa dulu suaminya tak bisa membawa pulang pekerjaan karena takut ketahuan. Padahal walau Sinta melihat dengan teliti pun, wanita itu belum tentu paham apa yang dia baca.


"Jangan terlalu lelah, mas. Aku gak mau kamu sakit," tukas Sinta mengingatkan dengan lembut.


"Sedikit lagi ini, mas juga gak maksain diri, kok," timpal Jamal dengan cepat. Tak lupa memperlihatkan cengiran bodoh miliknya.


"Gimana harimu hari ini? Gak ada masalah, kan?"


Sinta menggeleng pelan. "Gak ada, aku menghabiskan waktu di rumah kaca setelah urusan rumah selesai, mas. Aku juga ngeteh bareng Jane dan Karen tadi sore,"


"Imutnya yang merajuk," tukas Sinta malah menggoda suaminya yang merajuk kesal. Wanita itu bahkan menoel-noel pipi sang suami saking gemasnya dengan tingkah Jamal. Sudah berumur kok masih cemburuan, belum lagi objek yang jadi sasaran rasa cemburunya itu perempuan. Bagaimana Sinta bisa menahan diri untuk tidak menggoda suaminya kalau begini.


"Tapi, mas ... aku sedikit was-was kalau ini hanya masa tenang sebelum badai menerjang. Bisa aja keluarga kamu cuma mau buat aku lengah, terus mereka akan menyerang lagi saat kesempatan sudah ada, kan?"


Jamal terdiam. Mulutnya terbuka, tetapi dia tak tahu harus mengatakan apa. Dia sendiri yang menyatakan tak akan memberitahukan istrinya pasal sandiwaranya dengan Laras. Jadi mana mungkin dia sendiri yang melanggar hal itu. Lebih baik istrinya tak tahu apa-apa dan hanya hidup bahagia seperti sekarang. Lagi pula permainan ini hanya dia lakukan sementara, hingga semua mata-mata sang kakek ditarik dari tugasnya. Hingga dia yakin kalau keluarganya tak lagi mengganggu Sinta, istrinya.


"Mungkin mereka sudah lelah karena kamu begitu kuat dan kita baik-baik saja," ucap Jamal menatap ke lain arah. Dia tak bisa jujur sepenuhnya, jadi dirinya harus memberi alasan yang terdengar masuk akal.


Sinta mengangguk-anggukkan kepalanya, perkataan suaminya juga terdengar masuk akal. Dia pun berharap itulah yang sebenarnya terjadi. "Aku harap begitu, mas,"

__ADS_1


"Sudah malam, kamu tidur saja duluan. Mas akan menyusul setelah menyelesaikan ini," ucap Jamal yang melihat istrinya menguap beberapa kali.


"Maaf, mas. Aku malah ngajak mas ngobrol padahal mas lagi sibuk," tukas Sinta mengucek matanya yang terasa sedikit perih dan berair. Ah, dia sangat mengantuk saat ini.


"Tak masalah, mas suka menghabiskan waktu dengan melakukan apa pun bersama kamu, istriku yang cantik!" pujian terselip menghangatkan hati Sinta yang mendengarnya. "Terima kasih untuk tehnya, nanti akan mas habiskan!" ucap pria itu lagi.


Sinta mengangguk pelan, wanita itu kembali ke kamar mereka dan langsung membaringkan tubuhnya. Dia lelah, dia sangat ingin memejamkan mata dan beristirahat dengan cepat.


Saat sedang tertidur, suara dering ponsel mengusik Sinta. Wanita itu membuka matanya lalu mengangkat panggilan yang masuk ke telepon suaminya. Jamal sendiri yang mengizinkan istrinya untuk menerima panggilan yang dia dapatkan kalau dia sedang tak bisa atau melakukan hal lain. Berhubung suaminya masih di ruang kerja, Sinta pun menerima telepon tersebut dengan niat akan memberikan telepon itu pada suaminya sambil dia menerima panggilan.


Belum mengatakan apa pun, suara panik di seberang sana membuat Sinta menelan kata-kata yang ingin dia ucapkan. Dia menatap layar ponsel milik suaminya dengan tatapan tak percaya. Apa ini kebenaran lain yang suaminya sembunyikan darinya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Di sisi lain sambungan, Laras justru terlihat bingung sekaligus frustasi. Dia ingin kembali menghubungi kawannya tapi tak jadi. Mungkin saja saat ini Jamal sedang bersama istrinya dan tak bisa berbicara di telepon dengan leluasa. Tapi bisa gila dia menghadapi pertanyaan ayah dan ibunya yang menanyakan tentang kebenaran hubungan mereka. Laras harus menjawab seperti apa kalau sudah begini. Alhasil, wanita itu pun melarikan diri dari rumah dan memilih tinggal di hotel untuk sementara.


"Kalau aku gila atau mati dipukuli oleh ayahku, aku akan menghantui kamu, Jamal!" desis Laras dengan tatapan penuh dendam. Ini semua salah kawannya yang hanya bisa memikirkan ide seperti ini. Jadinya dia juga ikut terseret masalah saat orang tuanya mendengar selentingan rumor yang terjadi di kantornya. Maunya sih menjelaskan semua tanpa ada yang ditutupi, tapi bagaimana kalau hal itu sampai didengar oleh pihak kakek kawannya. Pasti intensitas gangguan yang dialami Sinta akan bertambah dan Laras tak mau itu terjadi.


"Tahu, ah! Bodo! Aku mau tidur aja!!!" tukas Laras menggerutu kesal.


Yang Laras tidak tahu, orang yang menerima panggilannya adalah Sinta sendiri. Orang yang paling tak boleh tahu apa yang mereka mainkan di belakang wanita itu.


Kini Sinta hanya bisa menduga-duga, mengira suaminya benar-benar main gila dengan sahabatnya sendiri. Ah, mungkin seperti inilah nasib rumah tangganya dituliskan. Di saat dia merasa bahagia, di saat itu juga dia tahu kalau suaminya memiliki hubungan lebih dengan kawannya sendiri. Wanita malang yang mungkin akan ditinggalkan, apa yang harus dirinya lakukan sekarang.

__ADS_1


__ADS_2