
Meski sudah berjanji tak akan ikut campur, bukan Jamal namanya kalau tak mendatangi kakeknya untuk bertanya secara langsung.
Sebelum berangkat ke kantor, Jamal minta di antar ke rumah utama. Dengan wajah datar bak orang yang akan menghadapi musuh bebuyutannya, Jamal masuk tanpa mengucapkan apa-apa.
"Anda datang, tuan muda," sambut sang kepala pelayan dengan sopan. "Bisakah saya yang rendahan ini mengetahui urusan anda datang sepagi ini, tuan muda?" lanjutnya bertanya dengan sopan.
"Di mana kakek?" tanya Jamal malas berbasa-basi.
"Tuan besar sedang berjemur di halaman belakang,"
Jamal mengangguk, bergegas ke halaman belakang untuk menemui kakeknya. Dapat pria itu lihat kalau sang kakek sedang berjemur di bawah matahari sambil berolahraga ringan.
"Tuan besar! Tuan muda datang berkunjung," tukas si kepala pelayan yang rupanya mengikuti Jamal. Pria itu bahkan menyampaikan kehadiran Jamal sambil tersenyum formal. Senyum yang dituntut semua pelayan miliki apa pun yang mereka rasakan di hati, mereka harus tetap memasang senyum itu di wajah mereka.
"Biarkan dia masuk!"
Jamal masuk dengan segera, tanpa basa-basi dan juga mengucapkan salam pada kakeknya. Pria itu langsung mengatakan apa yang ingin dia katakan. "Jangan berharap bisa bertemu dengan istriku karena anda sudah melanggar janji duluan, tuan besar!"
Arman menatap murka, sesaat kemudian pria tua itu mendengus kesal. "Dasar rendahan! Begitu saja mengadu?!" tukasnya sengaja menyumpahi Sinta di depan cucunya.
"Istri saya bukannya mengadu. Tetapi kami memang berjanji untuk saling menceritakan apa yang terjadi," tukas Jamal tetap tenang, tak mau terpancing emosi.
"Dan kamu tak pernah menceritakan tentang keluarga mu? Bahkan setelah membuat janji seperti itu?" pria tua yang merupakan kakeknya sendiri itu pun terkekeh mengejek cucunya. "Entah kamu yang bodoh atau kamu memang sudah tertipu. Bisa saja perempuan itu sudah mengetahui semuanya dan menunggu kamu membawa dia ke rumah besar ini?!" lanjutnya merasa kalau Sinta hanya berpura-pura tak tahu selama ini. Nyatanya inilah yang paling diincar wanita rendahan yang tak memiliki apa pun.
"Anda bisa menghina saya sebanyak yang anda inginkan, tuan. Tetapi tolong jangan hina istri saya yang baik hati. Istri saya tak akan pernah bisa memainkan trik licik dan murahan seperti itu!" sanggah Jamal dengan lancar. Kepercayaannya pada istrinya melebihi rasa percaya pada dirinya sendiri. Dia yakin mereka menikah karena saling menyukai, bukannya karena alasan harta seperti yang kakeknya kira.
"Bodoh! Kamu sudah dibutakan oleh yang namanya cinta?! Coba buka matamu dan lihat saja sendiri, kamu akan tahu kalau apa yang kakekmu ini katakan adalah kebenaran!!!"
__ADS_1
"Saya tak perlu repot mencari tahu. Jawabannya sudah saya dapatkan dan saya percaya dengan apa yang hati saya katakan, tuan besar!" tukas Jamal sampai akhir memanggil kakeknya dengan sebutan tuan.
"Kamu ingin membuang keluargamu sendiri hanya karena rengekan wanita jahat itu? Dari tadi kamu terus memanggilku tuan, tuan, dan tuan! Padahal aku kakekmu sendiri?!" decih Arman mulai kesal dipanggil tuan oleh cucunya sendiri. Satu-satunya keluarga sedarah yang dia miliki.
"Seperti istri saya yang memanggil anda tuan, seperti itu juga saya harus memanggil anda. Kalau begitu saya permisi, tuan!" Jamal berbalik malas berbicara panjang lebar pada kakeknya yang hatinya lebih keras dari pada batu.
"Dasar cucu durhaka! Berhenti di sana!!! Kamu sudah dibutakan oleh penyihir jahat, bodoh! Sadar! Wanita rendahan itu tak sebaik yang kamu kira!!!"
Jamal terus berjalan, tak mempedulikan teriakan kakeknya yang semakin mengeras setiap kali memaki dirinya dan juga Sinta. Pria itu merasa kalau dia sudah tak punya urusan lagi di sini. Semua yang ingin dia katakan telah dia sampaikan. Meski hasilnya sang kakek berteriak marah seperti sekarang, tetapi Jamal tak peduli akan itu. Sebagai suami sudah menjadi kewajibannya untuk melindungi istrinya dari gangguan kakeknya sendiri.
"Tuan, kemarahan yang berlebihan tak baik untuk kesehatan anda. Anda harus selalu sehat untuk mengurus keluarga ini, tuanku," tukas Ardi yang sejak tadi berdiri di belakang Arman. Dia menyaksikan langsung pertikaian antara tuan muda dan tuan besarnya.
Arman menarik napas panjang berkali-kali. Pria itu mengambil air dan obat yang disodorkan ke arahnya. "Mengapa bukan kamu saja yang jadi cucuku, hah?" gerutu Arman kesal karena cucunya selalu membangkang akhir-akhir ini.
"Tolong jangan bercanda seperti itu, tuan besar. Tuan muda bisa sedih kalau mendengarnya,"
"Seperti kata anda, tuan muda hanya lupa sesaat karena terbuai akan perasaannya. Beliau pasti akan sadar kalau apa yang tuan besar katakan semuanya untuk kebaikan beliau," tukas Ardi enak didengar.
"Semoga saja," desah Arman menatap jauh ke depan. Sebenarnya dia ingin membiarkan cucunya bahagia. Namun, dia tak bisa. Keluarganya yang lain akan mengecam, belum lagi ini semua demi nama besar keluarga. Jadi, tak boleh memilih sembarang orang sebagai nyonya rumah.
"Apa pun yang akan dia lakukan, Jamal tak akan bisa mengalahkan keluarga yang lain."
"Semua akan berjalan sebagaimana yang anda inginkan, tuan!"
Arman menarik napas panjang, dia pun berharap hal yang sama. Tetapi entah mengapa pria tua itu sedikit meragu. Cucunya sangat keras kepala, tak ada yang bisa mengubah keputusannya kalau bukan atas kehendaknya sendiri.
Hal yang luput dari perhatian Arman, pria tua itu tak melihat orang kepercayaannya tersenyum penuh arti saat melihat keresahan dari majikannya. Entah apa yang dipikirkan orang itu, hanya dia sendiri yang tahu.
__ADS_1
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Begitu sampai di kantor, Jamal segera masuk ke ruangannya. Dia memanggil Laras, tangan kanan sekaligus bawahannya.
"Ada apa, pak?" tanya Laras formal. Saat ini dia menghadap sebagai bawahan, bukan sebagai teman.
"Carikan rumah di sekitar kantor. Aku akan pindah dalam waktu dekat ini!"
Laras diam sesaat, sebelum dia mengangguk paham. Bagaimana pun sudah tugasnya mengikuti apa yang tuannya minta. "Ada lagi, pak?" tanya gadis itu memastikan.
"Mari bicara sebagai teman selama beberapa menit ke depan," pinta Jamal menatap serius Laras.
"Jadi?"
Jamal menarik napas panjang sebelum menjawab. "Aku memberitahu kakek tentang Sinta. Pria tua itu memberi waktu untuk membuat janji temu, tapi justru dia sendiri yang sembunyi-sembunyi menemui istriku,"
"Lalu bagaimana dengan Sinta?" tanya Laras khawatir. Dia beberapa kali bertemu dengan istri kawannya itu. Orangnya terlalu penakut untuk bertemu dengan Kakek Arman yang sangat keras pendiriannya.
"Jangan ditanya. Sudah pasti seperti di drama-drama! Kakek menyodorkan uang lalu meminta Sinta untuk menghilang selamanya,"
"Astaga. Pasti Sinta sedih sekali," ucapnya mengerti bagaimana perasaan sesama wanita kalau dihina seperti itu.
"Dan yang lebih parah, kakek malah minta dipanggil tuan. Kamu bisa bayangkan bagaimana kesalnya aku, kan?"
"Sampai segitunya? Aku tahu Kek Arman keras kepala. Tapi aku gak nyangka sampai segininya."
"Mari akhiri ini lalu lanjut lagi nanti. Ini sudah jam kantor," tambah Laras kembali bersikap sebagai sekretaris profesional.
__ADS_1