Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
28. Rencana dibuat


__ADS_3

Selepas Jamal pergi, Ardi segera masuk dengan alasan mengantarkan dokumen. "Ini saya, tuan." Ardi segera masuk setelah diperbolehkan.


"Ini dokumen yang anda perlukan, tuan." dokumen-dokumen itu segera berpindah tangan. Arman mengangguk menerima berkas tersebut.


"Kamu bisa pergi," tukasnya memberi titah.


Ardi tetap berdiri, tak beranjak sedikit pun dari tempatnya. "Ada apa? Ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Arman mendongak.


Ardi membungkuk dalam. "Maafkan saya, tuan. Saya telah lancang melarang tuan muda menemui anda," ucap Ardi memancing pembicaraan. Dia berharap pak tua di depannya ini segera buka mulut dan mengatakan apa keperluan Jamal menemui dirinya tanpa membuat janji terlebih dahulu.


"Lupakan, aku akan pergi sekarang." Ardi menyipitkan mata kesal, dia tak bisa mengorek informasi dari tuannya. Pria tua itu jelas memilih menutup mulut dan tak lagi membicarakan tentang perihal kedatangan Jamal. Sepertinya Ardi harus mengambil langkah hati-hati ke depannya.


Laras dan Jamal mengambil gerakan diam-diam, menghubungi klien penting yang tersisa. Kali ini semua berjalan dengan baik, kerja sama yang ditawarkan diterima saat itu juga. Kontrak dibuat, kesepakatan segera dilakukan saat jabatan tangan saling bertaut.

__ADS_1


Jamal tersenyum senang, firasatnya rupanya tak salah. Ada mata-mata di perusahaan mereka dan hal itu yang patut dicari tahu. Orang itu bisa saja membahayakan


"Selamat, anda menang, bos." tukas Laras dalam mode sekretaris.


"Aku harus membuat laporan untuk kakek dan membuat rencana menemukan orang itu," ucap Jamal mengganti kata petunjuk untuk mata-mata menjadi kata orang itu.


"Selamat sekali lagi,"


"Itulah gunanya saya menjadi sekretaris anda,"


Keduanya terkekeh bersama setelahnya, mereka langsung bersikap informal saat sudah masuk ke mobil.


"Kapan-kapan mampirlah ke rumah. Biar Sinta ada teman bicara," tukas Jamal. Ah, baru berapa jam berpisah dari sang istri, Jamal sudah sangat merindukan wanita itu.

__ADS_1


"Aku? Gak salah? Emang boleh?" tanya Laras tak percaya. Mau bagaimana pun pasti Sinta masih kepikiran dengan rumor yang beredar tentang dia dan Jamal beberapa saat yang lalu.


"Iya, kamu. Kamu kan temen aku, bodoh?!" kekeh pria itu mengejek sahabatnya.


"Oi, aku gak bodoh, ya?!" tukas Laras tak terima dikatai bodoh. "Buktinya aku keterima jadi sekretaris dan bekerja untuk kamu!" sebuah pukulan ringan mendarat di bahu Jamal. Hal biasa yang mereka lakukan sejak awal mereka memutuskan untuk bersahabat.


Jamal tertawa renyah, merasa senang sudah berhasil membuat kawannya kesal. "Ha-ha-ha, maaf, maaf. Aku bercanda, aku bercanda, oke?!"


Jamal kemudian berdehem pelan, melirik singkat ke arah kawannya yang masih cemberut. "Aku sudah menjelaskan semua pada Sinta. Kamu pasti tahu sebaik apa hati wanita itu, bukan? Jadi semua masalah tentang yang kemarin sudah terselesaikan tanpa sisa."


Laras menarik napas lega. Dia tak ingin membuat dosa karena telah menorehkan luka untuk wanita sebaik Sinta. Makanya dari awal Laras sudah menolak itu gila kawannya itu, sayangnya nih sahabat Bangs*t malah gak mau dengerin apa pun yang dia katakan. Dengan alasan cuma itu cara yang dia miliki untuk mengalihkan semua perhatian, akhirnya Laras setuju walau dengan terpaksa.


Kalau di pihak Jamal sedang bersuka. cita, di pihak Tias saat ini sedang sangat kesal. Hal yang harusnya dia dapatkan digagalkan hanya dengan satu gerakan. Sungguh menjengkelkan, seolah semua yang mereka lakukan sia-sia saja.

__ADS_1


__ADS_2