Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
14. Memulai sandiwara


__ADS_3

Sudah diputuskan, mulai hari ini, detik ini, Jamal dan Laras resmi.menjadi pasangan kekasih palsu. Jamal meminta kawannya untuk bermain peran bersama dengannya, menipu mata sang kakek dan keluarga yang lainnya. Agar mereka tak lagi menggangu Sinta karena melihat Jamal bermain bersama Laras, sahabatnya sendiri.


Jelas di awal Laras tak setuju, dia takut kalau istri kawannya itu tahu dan sakit hati nantinya. Semua akan hancur dan berujung rumit kalau sampai itu terjadi. Tapi Jamal tetap keras kepala, dia membujuk Laras dengan sangat. Mengatakan dia butuh pengalihan dengan cepat dan hanya ide ini satu-satunya yang dia pikirkan untuk saat ini. Akhirnya mereka sepakat bekerja sama, dengan catatan Jamal harus memikirkan cara lain sambil mereka memainkan peran sebagai pasangan kekasih di depan keluarga Jamal. Kalau sudah ada ide yang lebih baik dari pada yang sekarang, mereka akan mengakhiri permainan sandiwara ini dan meneruskannya dengan ide yang lain yang lebih aman.


Meski masih meragu. Sebagai kawan, Laras pun mengangguk. Bersedia membantu kawannya dan mengatakan kalau semua masalah yang ditimbulkan adalah tanggung jawab Jamal sebagai pemilik ide gila ini.


Dan diputuskanlah keduanya memulai berakting sebagai pasangan kekasih di depan keluarga Jamal. Pria itu yakin kalau kakeknya tak akan menentang Laras karena mereka sudah lama saling kenal. Keluarga mereka juga bisa dibilang hampir setara, memiliki bisnis yang sama, dan belum lagi Laras yang sangat dekat dengan semua orang di keluarga Jamal. Mereka saling mengenal dengan baik, sehingga seluruh perhatian pasti akan tertuju pada kisah percintaan palsu mereka bukan.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Tiga hari sudah berlalu, sejak ide gila Jamal dijalankan. Keduanya tampak begitu akrab dan semakin lengket, Jamal memperlakukan Laras lebih lembut dari biasanya kalau bertemu dengan orang-orang yang berpihak pada kakeknya. Laras juga ikut beradu akting, tak ada rasa canggung karena keduanya memang sudah kenal sejak dulu, bahkan sejak masih sama-sama bocah ingusan.


Seperti saat ini, Jamal dan Laras sedang asik bercanda di ruangan Jamal. Sengaja wanita itu tertawa sedikit dikeraskan agar bisa terdengar oleh orang yang menguping di balik pintu. "Kapan kamu bakalan bilang sama kakek tentang kita, hmm?" suara manja mengalun, kedekatan intim yang tak bisa disangkal kalau memang keduanya memiliki hubungan. "Lalu kapan kamu akan mengusir nyonya palsu itu?" kali ini ada sedikit nada merajuk di suara Laras.

__ADS_1


"Sabar, belum saatnya. Aku masih ingin bermain-main sedikit lebih lama. Anggap saja kita sedang menyiapkan kejutan untuk kakek, sayangku!"


Orang di balik pintu bergegas kabur secepatnya, dengan wajah senang dia mencari tempat sunyi untuk melapor pada tuannya. Pasti dia akan mendapatkan imbalan karena sudah membuat tuan tua itu senang dengan kabar yang dia dapatkan. Memang tak salah mengikuti tuan mudanya saat mereka berpapasan tadi, akhirnya dia bisa mendapatkan bahan laporan yang menguntungkan seperti ini.


Jamal dan Laras mengangguk serempak, kemudian keduanya menjauh secepat kilat lalu menepis kotoran-kotoran yang mungkin saja menempel saat mereka saling berdekatan.


"Kalau tidak demi Sinta aku gak akan mau ngelakuin ini semua!" desis Jamal setengah kesal harus berakting mencintai wanita lain selain istrinya. Oh, dia bahkan harus membayangkan berbicara dengan Sinta dulu agar bisa mengucapkan rayuannya dengan lancar.


"Sangkamu aku suka begini?!" delik Laras yang dari awal memang terpaksa. "Aku kan sudah bilang untuk cari cara lain, bodoh!" umpat wanita itu mendengus kesal.


"Kalau ada apa-apa, aku gak mau tahu, ya?!" ucap Laras mengingatkan.


"Memangnya apa yang bisa terjadi? Malah sepertinya rencana ini yang paling tepat untuk mengalihkan perhatian kakek dari Sinta,"

__ADS_1


Laras melambaikan tangan tak peduli, dia tak mau berpikir tentang hal lain. Sekarang dia harus kembali ke mejanya dan melakukan pekerjaannya yang masih menumpuk. Salah siapa dia harus berperan ganda tanpa diberi keringanan dalam bekerja. "Pikirkan saja ide lain, tolong. Lama-lama aku bisa muntah kalau harus mendengar gombalanmu terus-menerus!"


"Aku juga gak suka tahu! Aku mengatakan semua kata manis itu sambil memikirkan Sinta. Gak mungkin aku bisa ngomong kayak gitu kalau sama kamu?!" dengus Jamal.


"Bodo! Gue gak nanya!" ejek Laras menjulurkan lidahnya. Wanita itu pun kembali ke mejanya dan berubah ke mode sekretaris profesional lagi.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Di sisi lain, Arman yang mendapatkan kabar tentang hubungan cucunya dan Laras pun tak serta-merta langsung percaya begitu saja. Dia tahu betul kalau cucunya bukan tipe pria yang akan bermain dengan hatinya. Oh, tapi bisa saja celah kecil tercipta. Namanya juga pria, sifat ingin menaklukan jelas merupakan hal dasar yang mereka miliki sebagai makhluk dengan ego yang teramat tinggi. Bisa saja apa yang saat ini terjadi pada cucunya juga sama. Istrinya sekarang hanya sekedar bukti dari egonya untuk memiliki dan yang dia sukai sebenarnya adalah Laras, teman bermainnya sejak dia kecil.


Arman mengetuk-ngetuk mejanya. Otak pria tua itu berputar dengan cepat. "Awasi terus, buat video sebagai bukti kalau bisa. Aku ingin melihat langsung bagaimana mereka saling berbagi kata-kata manis seperti yang kamu laporkan barusan!" titah diturunkan. Si penelpon tak memiliki pilihan lain selain mengikuti perintah dari sang pemimpin.


"Bagus! Kamu akan mendapat imbalan yang bisa membuatmu tetap hidup mewah meski hanya dengan makan tidur kalau kamu melakukan tugasmu dengan benar!" Arman memutuskan sambungan teleponnya. Dia selalu memberi hadiah yang setimpal bagi siapa saja yang mengerjakan perintahnya dengan tepat dan memuaskan. Tak ada juga hukuman kalau memang tak bisa. Yah, mungkin hanya kepercayaan Arman akan berkurang kalau itu terjadi.

__ADS_1


Pria yang tadi mencuri dengar percakapan Jamal dan Laras pun tersenyum lebar. Dia membayangkan hari-hari yang dia lewatkan dengan bersantai, tetapi tetap bisa menikmati hidup mewah sepanjang sisa hidupnya. Sungguh, tak ada yang lebih menyenangkan dari pada hal tersebut yang bisa dia dapatkan sebagai hadiah. Pria itu pun semakin termotivasi untuk melakukan tugasnya dengan lebih baik. Jangan satu video,rayuan video pun bisa dia rekam untuk mendapatkan kenyamanan hidup hanya dengan bersantai setiap waktu.


Di sisi lain, di rumah baru Jamal. Sinta kembali menyibukkan diri dengan mengurus taman. Suaminya sudah membuatkan dirinya rumah kaca, jadi dia tak akan merasakan teriknya matahari saat berkebun. Wanita itu banyak tersenyum karena dia mengalami hari yang damai akhir-akhir ini. Meski tak dipungkiri kalau dirinya takut ini merupakan ketenangan sebelum badai menerpa. Bisa saja dia dibiarkan lengah dan nanti masalah seperti tsunami yang akan menerjang rumah mereka. Sinta berharap itu hanya pemikiran yang berlebihan saja, karena dia tak mau kehidupan rumah tangganya dilanda masalah yang rumit.


__ADS_2