
Sinta kembali melewati harinya dengan senyuman. Dia seperti sudah melupakan apa yang dialaminya kemarin. Wanita itu membereskan rumah, memasak, serta mencuci baju seperti biasanya. Kalau masih ada waktu senggang, Sinta memilih mengurus kebun kecil yang dia buat di halaman atau pun menyulam. Meski tak ahli, dia senang membuat sulaman dan memberikannya pada sang suami untuk dikenakan saat musim dingin tiba.
Saat sibuk memindahkan bunga-bunga yang dia tanam ke pot yang lebih besar. Sebuah mobil kembali berhenti di depan rumahnya. Sinta mengernyit, berharap kalau hal seperti kemarin tak terjadi lagi.
"Permisi! Permisi! Hellow!!!" tukas seorang wanita berpakaian glamor turun dari mobil tadi.
"Ada perlu apa, ya bu?" tanya Sinta menghampiri.
"Oh, no! Jangan panggil ibu! Apa saya terlihat seperti ibu-ibu? Panggil NYONYA, oke?!"
Meski tak paham situasi, Sinta tetap tersenyum ramah. "Baik, nyonya,"
"Ck, benar kata Tuan Arman. Kamu tak cocok masuk ke keluarga besar kami!"
Jantung Sinta berdetak menyakitkan mendengar hinaan yang kembali dia dengar. Baru saja dia memutuskan untuk melupakan apa yang terjadi kemarin, tapi kenapa malah seakan dirinya diingatkan dengan kejadian yang sama terulang lagi.
"Maaf, saya juga tak bermaksud menjadi bagian keluarga anda, nyonya," balas Sinta tanpa menghilangkan senyum di bibirnya. "Meski saya menikah dengan Mas Jamal, tetapi saya tak bisa memaksa keluarga Mas Jamal menerima saya dengan tangan terbuka kalau mereka memang tak menyukai saya," lanjutnya dengan tegas. Namun, tetap menjaga kesopanan dan tutur bahasanya.
"Huh, kamu menipu diri sendiri, kan?" dengus wanita yang datang tiba-tiba dan langsung menghina Sinta.
"Saya selalu jujur dengan apa yang saya rasakan dan katakan, nyonya. Saya tak suka bermain kata dan mencoba menipu dengan cara apa pun,"
"Kamu hanya bersikap lemah agar dikasihani dan diterima karena itu, kan?" tuduhnya tak beralasan.
__ADS_1
"Saya tak pernah berpikir seperti itu, nyonya,"
"Huh, susah bicara dengan orang rendahan yang beda level. Bahkan ada orang bertamu pun malah tak dipersilakan masuk?!" katanya penuh sindiran.
"Ah, maaf membuat anda berdiri terlalu lama di luar. Saya tak tahu kalau anda ingin bertamu. Silakan masuk, nyonya,"
"Tidak usah! Sudah telat! Apa yang aku harapkan dari wanita yang tak pernah mendapatkan pendidikan keluarga dengan baik?!" hinanya semakin menjadi.
"Maaf karena saya yang banyak kekurannah ini justru dipilih oleh Mas Jamal sebagai istri, nyonya," tukas Sinta bersungguh-sungguh meminta maaf. Namun, permintaan maaf Sinta malah dianggap sebagai sindiran oleh wanita di depan Sinta ini.
"Kalau kamu tahu diri, harusnya kamu menghilang saat dikasih uang!" hardik si nyonya glamor yang bahkan belum mengenalkan namanya. "Oh, kalau ingin mengadu, mengadu saja sana sambil menangis atau merengek keras. Aku memang sengaja datang untuk mengingatkan anak tak tahu diri seperti kamu. Agar kamu sadar tempat dan segera pergi kalau tahu tak cocok dengan keluarga kami!"
"Selama Mas Jamal masih setia, selama kata talak tak terucap, saya akan tetap tinggal di sisi Mas Jamal. Entah bagaimana pandangan keluarga Mas Jamal sendiri pada saya. Saya juga bukannya mau merepotkan atau membuat hal yang tak menguntungkan."
Sudah cukup. Sangat banyak Sinta menolerir, dia tak harus terus bersabar saat mendengar begitu banyak penghinaan yang ditujukan kepadanya. "Kalau begitu biarkan saya bertanya satu hal, nyonya! Apa anda akan memilih berpisah dari suami anda saat anda diberikan sejumlah uang?" mata Sinta berkilat tegas. Tak ada rasa kesal, dia hanya menanyakan hal yang serupa pada wanita yang sudah banyak menghinanya ini.
Belum sempat nyonya-nyonya glamor itu menjawab. Sinta kembali bersuara. "Kalau anda menerimanya, berarti anda menikahi suami anda bukan karena cinta, tapi karena kebutuhan. Buktinya, anda bisa meninggalkan suami anda dengan begitu mudahnya hanya karena uang yang diberikan sebagai balasan!
"Semoga hari anda menyenangkan, saya akan masuk sekarang. Selamat tinggal, hati-hati di jalan!" Sinta bergegas masuk. Dia mengelus dadanya setelah menutup pintu. Wanita itu berdiri diam di sana cukup lama, menenangkan gemuruh yang dia rasakan kembali di hatinya. Dia sudah berbuat kasar, tetapi bukan niatnya untuk melakukan hal seperti tadi. Dia terpaksa karena terus dihina, tanpa sadar dia pun telah melawan.
Ah, bahkan Sinta juga tak peduli seberapa keras wanita tadi memanggilnya untuk kembali. Mana dia mau kembali ke sana dan berhadapan lagi dengan mulut tajam man berbisa dari wanita tadi. Lebih baik dia masuk dan beristirahat saja di dalam, dari pada menabur benih dosa karena melawan orang yang lebih tua darinya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
__ADS_1
Jamal dan Laras duduk berhadapan. Mereka mengambil rehat lima belas menit untuk melanjutkan percakapan mereka yang sempat ditunda pagi tadi.
"Lalu kamu mau berbuat apa?" tanya Laras memastikan. "Kamu pasti tahu, kan gimana perangai kakek?" tukasnya lagi. Karena kenal sejak kecil, Laras juga memanggil Arman dengan sebutan kakek sama seperti Jamal memanggil kakeknya sendiri.
"Aku belum tahu. Yang jelas aku harus pindah ke dekat sini biar bisa langsung datang kalau ada pihak keluargaku yang berkunjung dengan niatan tak baik," desah Jamal menghela napas panjang.
"Akan aku carikan secepatnya!"
"Thanks, cuma kamu kawan yang bisa aku ajak ngomong!" ucap Jamal dengan mimik serius.
"Ya, iya lah. Cuma aku aja teman kamu satu-satunya, bodoh!" timpal Laras dengan senyum mengejek.
"Temen aku banyak, tapi aku malas berurusan dengan lintah seperti mereka. Mendekat hanya karena ada maunya saja?!" dengus Jamal tak suka dengan kelakuan temannya yang lain.
"Siapa suruh jadi sultan!"
"Memangnya aku bisa request mau dilahirkan di keluarga yang gimana?" Jamal memutar bola matanya. Kalau bisa dia pasti sudah minta dilahirkan dari keluarga yang biasa-biasa aja. Yang gak punya banyak peraturan dan juga gak menuntut dirinya harus nikah sama yang ini atau yang itu.
"Santai, bang! Galak amat jadi cowok?!" Laras malah balas bercanda. "Aku balik dulu, kamu telepon Sinta gih. Ngobrol sana bentaran baru balik kerja lagi abis itu. Sepet liat muka kamu kusut kek lembaran duit lecek!"
"Lecek-lecek gini udah sold out, ya?!"
Hening sejenak, sebelum keduanya tertawa bersama karena merasa geli atas candaan yang mereka lontarkan sendiri. "Aku balik sekarang, ok. Jangan cari aku, banyak kerjaan soalnya!" ucap Laras sebelum benar-benar pergi. Jamal pun segera menghubungi istrinya, ingin bertanya apa saja yang dilakukan wanita itu selama dia tak ada. Apa ada tamu tak diundang lainnya yang datang seperti sebelumnya.
__ADS_1