
Dengan susah payah akhirnya Eve bisa mengusir tamu tak diundang yang datang di pagi hari. Sungguh tamu yang menjengkelkan dan merusak kedamaian saja. Belum lagi mulutnya yang tanpa filter, sungguh ingin rasanya Eve menendang orang seperti itu hingga mencapai kerak bumi. Sayangnya dia tak memiliki kekuatan super untuk membuat semua itu menjadi nyata.
"Bagaimana dengan nyonya?" tanya Eve. Meski ini hari pertama mereka resmi bekerja, dia sudah jatuh hati pada wanita yang begitu perhatian pada pekerja yang dibayar seperti mereka.
"Beliau mengkhawatirkan kamu dengan sangat," tukas Lea menjawab.
Eve menutup mulutnya agar tak berteriak gemas. "Bukankah nyonya wanita yang sangat-sangat baik hati, Lea?"
"Aku tak tahu. Mungkin ini hanya di awal," tukas Lea dingin. Dia tak mau berharap karena tahu bagaimana rasanya kalau harapan itu dipatahkan.
"Oh, ayolah. Majikan mana yang mengkhawatirkan pekerja seperti kita? Menanyakan kabar kita? Dan menyuruh kita berhati-hati?"
""Mungkin itu karena beliau membutuhkan kita?" ucap Lea tak mau goyah.
"Aku percaya itu karena nyonya orang yang sangat baik,"
"Mari bekerja saja tanpa menilai majikan kita,"
Keduanya berhenti membahas tentang Sinta. Eve tak mau mengatakan apa-apa lagi. Biar kawannya itu sadar sendiri dan melihat bagaimana baik hatinya majikan baru mereka kali ini.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Saat makan siang, Sinta mengajak kedua pengawalnya untuk makan bersama. Lea dan eve menolak, tak sopan kata mereka. Tapi bukan Sinta namanya kalau menyerah begitu saja, wanita itu memasang wajah memelas, mengatakan kalau tak enak jika harus makan sendirian. Akhirnya Lea dan Eve pun ikut makan bersama majikannya di halaman depan. Sengaja Sinta mengajak makan di sana karena keduanya tak mau meninggalkan tugas meski sesaat.
Sinta mengatakan ini dan itu sembari makan, keceriaan wanita itu membuat suasana semakin menyenangkan. Tak ada rasa canggung lagi di antara mereka.
Saat waktu menunjukkan pukul empat kurang, Jamal yang pekerjaannya sudah beres pun bergegas untuk pulang. Jarak rumahnya dan kantor hanya sekitar lima sampai sepuluh menit, pria itu semakin merasa senang karena hari ini bisa pulang lebih cepat dan menghabiskan banyak waktu di rumah lebih banyak bersama istri tersayangnya.
"Selamat datang, tuan!" sapa Lea dan Eve serempak begitu melihat mobil tuannya.
__ADS_1
"Kerja bagus, tak ada masalah, kan?" tanya pria itu setelah dia turun dari mobilnya.
Eva dan Lea saling lirik, keduanya mengangguk bersamaan. "Sebenarnya tadi ada seseorang yang datang dan membuat keributan, tuan," tukas Eve melapor.
"Seorang pria yang cukup tinggi dengan banyak tindikan di telinganya," sambung Lea memberitahukan ciri-ciri dari si tamu tak diundang.
"Istri saya tak kenapa-napa, kan? Kenapa kalian tak menghubungi saya?!"
"Mas? Kenapa teriak-teriak?" sebuah suara menghilangkan kemarahan Jamal.
"Ah, mas hanya kaget saat mendengar ada yang datang dan membuat keributan lagi di sini. Mas kira kamu terluka," jelas pria itu menghela napas lega melihat istrinya baik-baik saja.
"Aku gak apa-apa, kok mas. Ada mereka yang melindungi aku hari ini," tukas Sinta lembut. "Ayo, masuk. Tumben mas pulang cepat,"
Melupakan percakapannya dengan kedua pengawal yang disewanya, Jamal segera masuk ke dalam rumah seperti ajakan istrinya.
"Besok aku harus bertukar pikiran dengan Laras," gumam pria itu sebelum ikut menyusul berbaring di sisi istrinya. Mengarungi dunia mimpi bersama untuk menyambut hari esok yang lebih cerah. Kalau gak hujan pastinya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Keesokan harinya, Jamal bergegas ke kantor bahkan tanpa sarapan terlebih dahulu. Alasannya dia terburu-buru karena banyak pekerjaan yang harus diurus hari ini juga. Tentu saja Jamal meninggalkan pesan untuk kedua pengawal yang menjaga istrinya agar menelepon kalau ada seseorang yang datang membuat keributan lagi. Tak peduli kapan pun itu waktunya, langsung saja hubungi dia tanpa banyak pertimbangan.
"Ada masalah apa sampai aku disuruh berangkat pagi buta begini?" tanya Laras duduk di depan Jamal. Kali ini mereka bertemu di kafe depan kantor, mereka perlu bicara.
"Duduk dulu lalu pesan sesuatu,"
Laras mengangguk, memesan minuman dan sarapan dari sana. Oh, ayolah siapa yang masih bisa memakan sarapannya kalau sudah mendapat telepon dari atasannya yang mengatakan kalau ini masalah darurat dan sangat-sangat penting. Jadilah Laras bersiap seperti orang gila yang dikejar deadline untuk bisa sampai lebih cepat ke tempat bosnya menunggu. "Jadi?" tanya wanita itu tak sabar.
"Meski aku sudah pindahan, masih saja ada yang datang dan membuat keributan di rumahku yang baru," keluh Jamal menatap kesal entah kepada siapa.
__ADS_1
"Serius? Terus Sinta gimana?" tanya Laras ikutan kaget mendengar kegigihan keluarga Jamal dalam mengganggu kehidupan rumah tangga kawannya itu.
"Semua baik-baik aja karena aku udah nyewa pengawal. Mereka bisa mengatasi si pembuat onar itu tanpa masalah,"
Laras bernapas lega, entah mengapa dia ikut bersyukur padahal itu bukan masalahnya sama sekali. "Jadi semua udah beres, dong," tukasnya menyimpulkan.
Jamal menggelengkan kepalanya. "Belum! Aku tahu segigih apa kakekku kalau sudah menentukan sesuatu,"
"Lalu gadis bagaimana? Coba bicara lagi dengan kakek. Mungkin kakek akan paham kalau kamu menjelaskan dengan baik, kawan,"
"Percuma, tak ada yang bisa mengalahkan batu!" dengus Jamal mengumpamakan kakeknya seperti batu.
"Tapi batu juga bisa hancur hanya karena tetesan air yang kecil, Mal" timpal Laras membalas.
"Kakekku batu terkhusus yang tak akan pernah hancur meski terkena hujan badai, Ras?!" tukas Jamal yakin.
"Ugh, sayangnya kamu benar soal itu," keluh Laras menghela napas pendek.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan?"
"Berhenti bekerja?"
"Kabur ke luar negeri?"
"Atau apa?"
"Tolong beritahu dulu aku agar aku bisa bersiap!" yah, kalau tuannya kabur, sebagai sekretaris tentu saja Laras harus ikutan kabur meski ke negara yang berbeda dengan atasannya. Dia tak mau panah yang tadinya menargetkan kawannya, malah beralih kepada dirinya sendiri karena dia menetap di sini. Oh, itu sungguh membuat frustasi saat ditanyai ini-itu yang bahkan kita sendiri tak tahu harus menjawab apa dan bagaimana.
"Tolong bantu aku, Ras!" Laras merasa belakang punggungnya dingin, dia mendapat firasat buruk karena melihat senyum kawannya yang menatap dirinya penuh arti. Apapun yang kawannya katakan, pastinya bukan hal yang menyenangkan.
__ADS_1