Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
25. Ardi mulai menunjukkan cakarnya


__ADS_3

Tias dan tiga orang yang lainnya saat ini bisa dikatakan sedang bersenang-senang di atas kegagalan Jamal. Mereka bekerja sama untuk mengetahui apa yang akan Jamal lakukan, setelahnya mereka akan bertindak menghalangi dari semua sisi, membuat semua yang Jamal lakukan berakhir sia-sia.


"Di mana kamu mendapatkan bocoran kegiatan anak itu?"


"Luar biasa, kita bahkan bisa selangkah bergerak di depan untuk menghalangi semua yang anak itu lakukan."


"Jangan lepaskan informan itu. Bayar berapa pun yang dia minta, Tias!"


"Kami bisa membantu untuk menyediakan uang yang dibutuhkan untuk membayar orang itu!"


Tias tersenyum senang. Tak diragukan lagi kalau informan yang dia bayar sangat bisa dipercaya. Buktinya mereka bisa menggagalkan semua kesepakatan yang Jamal buat dengan pihak ketiga.


"Biarkan kami bertemu juga dengan orang itu?!"


Tias tersenyum miring. "Kebetulan sebentar lagi dia datang!"

__ADS_1


"Wah, aku sungguh tak sabar bertemu dengan orang yang membantu kita,"


Tak perlu lama menunggu, suara langkah sepatu terdengar mendekat. "Apa saya boleh bergabung, tuan dan nyonya?"


"Anda, kan ...?" semua menampakkan ekspresi terkejut yang tak bisa ditutupi melihat siapa yang datang. Tentu saja kecuali Tias yang sejak tadi mengulum senyum penuh arti.


"Selamat datang, Ardi. Silakan duduk!"


Ardi tersenyum seraya mengangguk. "Terima kasih, nyonya. Maaf saya ikut bergabung di tengah pembicaraan kalian yang sepertinya penting,"


"Syukurlah, saya kira saya mengganggu percakapan hangat kalian," kata Ardi.


"Jangan bilang ...?" salah satu rekan Tias menunjuk Ardi dengan tatapan tak percaya.


"Dia kan paling setia pada tuan besar!" tukas yang lain menimpali.

__ADS_1


"Apa ini bukan jebakan?" satunya memaparkan kecurigaannya.


Ardi malah tertawa ringan, dia tak tersinggung sama sekali karena dicurigai. "Saya setia pada bayaran yang saya terima. Tapi saat melihat ada kesempatan untuk mendapatkan yang lebih, sudah pasti saya tak bisa melewatkan kesempatan tersebut, bukan?"


"Bukankah kalian sudah melihat hasilnya? Kita selalu berhasil mengambil langkah di depan untuk menutup semua jalan bagi bocah pembangkang itu?!" tukas Tias menyilangkan tangannya.


"Mengapa kalian malah meragukan sumber informasi yang paling bisa dipercaya yang kita miliki sekarang?" wanita itu melirik sinis. Kesal dengan rekannya yang menunjukkan rasa tak percaya pada Ardi. Di awal juga dia sempat memiliki keraguan, tapi Tias tak memperlihatkan sejelas rekan-rekannya ini.


"Maafkan mereka dan tolong jangan tersinggung, Tuan Ardi."


"Tak apa, tak masalah. Wajar kalau saya diragukan karena saya sudah lama tinggal di sisi Tuan Arman. Tetapi saya hanya tak ingin melewatkan kesempatan yang Tuan Jamal buat untuk saya. Saya harus menggunakan kesempatan yang diberikan sebaik mungkin untuk bisa mengeruk banyak sumber daya yang bernilai tinggi.


"Benar, benar! Kesempatan yang terlewat tak akan bisa diambil lagi. Yang tersisa hanya penyesalan karena telah melewatkan apa yang mungkin didapatkan?!"


Suasana kembali kondusif, mereka percaya karena Tias terlihat begitu memercayai Ardi. Bukankah semua informasi yang diberikan oleh pria itu selalu tepat, jadi tak mungkin pria ini membocorkan sesuatu yang sangat penting kalau memang dia tak ingin berkhianat. Rupanya kekayaan bisa membuat orang melupakan kesetiaan yang selama ini dia miliki. Atau mungkin saja sejak dulu Ardi memang tak memiliki kesetiaan seperti yang dia katakan, kesetiaannya hanya berpihak pada bayaran yang dia terima.

__ADS_1


__ADS_2