Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
29. Akhirnya tertangkap.


__ADS_3

Merasa kalau kantor bukan tempat yang tepat untuk membuat rencana. Jamal memutuskan untuk pergi ke rumah utama, dia meminta kakeknya untuk tak mengatakan pada siapa pun tentang rencana yang mereka buat. Bahkan jika itu orang kepercayaan sang kakek.


"Kamu kira mata-mata itu dari pihakku?" tangan Arman mengepal kuat, dia sangat percaya pada para bawahannya.


"Hanya untuk jaga-jaga saja, kek," tukas Jamal tenang.


"Kamu semakin berani setelah kamu memenangkan pertaruhan, ya?!" cibir Arman mengungkit kejelekan sifat cucunya sendiri.


"Demi kemajuan perusahaan, kita harus waspada pada semua orang, kek. Termasuk orang yang paling kita percayai!"


"Apa termasuk Laras, sekretaris kamu?" Arman melontarkan pertanyaan kritis.

__ADS_1


"Tentu saja. Namun, Laras sudah membuktikan kalau dia tak ada hubungan sama sekali dengan kebocoran data yang aku alami beberapa kali, kek.


Arman berpikir sejenak, wajah pria tua itu sedikit melunak setelahnya. "Lalu apa rencananya?"


"Saya menyiapkan satu rencana yang mungkin bisa membantu, kek.


Jamal pun mulai menjelaskan rencananya. Mulai dari kesepakatan bisnisnya yang belum diumumkan, hal itu lah yang akan mereka gunakan. Dia akan berpura-pura belum mendapat satu pun kesepakatan. Lalu melempar umpat pada beberapa orang yang masuk ke jajaran penting dan memungkinkan untuk menjadi mata-mata. Setelahnya, hanya tinggal menunggu waktu untuk menangkap mata-mata tersebut saat dia mulai bergerak.


Dan di sinilah mereka semua. Arman, Jamal, Laras, dan juga Ardi. Arman menatap kecewa ke arah orang kepercayaannya. Jelas dia tak kan percaya kalau tak melihat secara langsung apa yang anak itu lakukan. Ardi menemui Tias dan yang lainnya, menjual info yang dia ketahui hanya dengan beberapa lembar cek.


"Kakek harus tenang, jangan terlalu emosi," bujuk Jamal.

__ADS_1


"Apa sekarang waktunya untuk tenang, bocah nakal? Bagaimana perasaan kamu kalau sekretaris kamu yang tertangkap tangan menjual data kantor, hah?"


Jamal memilih diam, kalau kakeknya sudah marah tak baik melawan dengan keras. Biarkan saja sang kakek melampiaskan kekesalannya. Lagi pula kakeknya tak akan sampai memukul orang.


"Apa yang kurang dari bekerja di bawahku? Kenapa kamu tega berbuat begitu? Kamu tak memikirkan perusahaan ini?"


Ardi mendongak, terkekeh geli atas pertanyaan bodoh Arman padanya. "Memang apa urusannya perusahaan anda dengan saya? Saya hanya berusaha mencari uang sampingan, kok."


"Tak ada yang melarang kalau hal itu dilakukan dengan benar. Tapi kamu melanggar kesepakatan kerja, menjual atau membeberkan data perusahaan kepada orang luar bisa dituntut lewat jalur hukum! Tak mungkin kamu yang pintar tak mengetahui hal itu?!"


"Salahkan cucu anda! Saya merasa kedudukan saya akan segera berakhir karena dia. Dia sudah membuat anda marah, anda juga terlihat seperti akan memutuskan hubungan keluarga. Jadi, lebih baik saya mencari sandaran yang baru dari pada berada di sisi anda yang hanya bisa bertahan mungkin hingga tahun depan saja," cerocos Ardi tanpa takut sama sekali. Saat dia memilih untuk berpaling, dia sudah siap dengan semua resiko yang akan dia hadapi.

__ADS_1


Arman tak banyak bicara, dia mengambil jalur hukum. Selain itu, Arman juga memutuskan hubungan bisnis dengan Tias dan keluarga lainnya yang terlibat. Mereka dilepaskan dari bawah naungan sayap Keluarga Sanjaya.


Tak ada kompromi sama sekali, Arman bahkan tak mendengarkan permintaan maaf dari mereka. Dia tak mau ditipu untuk kedua kalinya.


__ADS_2