
Laras mendatangi ruangan kawannya untuk mencari solusi dari masalah yang mereka ciptakan. Belum kelar satu masalah, malah muncul masalah lain yang mereka ketahui. Orang yang menerima telepon dari Laras semalam bukannya Jamal seperti yang wanita itu kira, tapi bisa jadi itu malah Sinta. Orang yang sama sekali tak boleh tahu soal sandiwara mereka sedikit pun.
Keduanya mengumpat bersamaan, merasa pusing bahkan sebelum mencoba memikirkan cara untuk keluar dari masalah yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri.
Jamal meminta Laras untuk menceritakan apa saja yang dia katakan melalui telepon yang mungkin didengar oleh istrinya.
"Aku bilang kalau keluarga aku udah tahu soal hubungan kira, jadi kamu harus mikirin cara untuk mengakhiri semuanya! Aku bilang gitu ke kamu di telepon semalam," cicit Laras mengaku jujur. "Tapi habis itu sambungan telepon kita terputus, aku yang kesel malas untuk menelepon lagi."
Jamal mengusap wajahnya kasar. Oh, sekarang dia tak tahu apa yang harus dia lakukan saat pulang nanti. "Apa kamu bisa bayangin kalau kamu yang nerima telepon kayak gitu, apa yang akan kamu pikirin, Ras?" tanya Jamal menghempaskan tubuhnya yang terasa sejuta kali lebih lelah dari pada saat mengurus tumpukan dokumen yang tak ada habisnya.
"Pasangan aku selingkuh dan selingkuhannya minta untuk segera menyelesaikan semua ikatan yang membuat mereka gak bisa bersatu!" balas Laras membuang muka. Si*l dia malah harus mengatakan itu dengan bibirnya sendiri. Tapi sungguh itu yang dia rasakan kalau misalnya dihadapkan dengan hal yang sama seperti saat ini.
Jamal terkekeh pelan, membuat Laras merinding mendengarnya. "Lo belum gila, kan kawan?" tanya wanita itu hati-hati.
Jamal menggeleng pelan. "Belum, tapi mungkin sebentar lagi aku akan jadi gila!" katanya sambil tersenyum sangat manis. "Kamu bisa ke luar sekarang, Ras. Biar aku yang urus masalah ini seperti yang kita sepakati," lanjut Jamal memutar kursinya, sekarang pria itu menghadap ke luar jendela. Dia tampak berpikir dengan sangat dalam.
"Aku bisa membantu kalau kamu butuh bicara sama istri kamu, Mal!"
"Oke, thanks,"
Sepeninggalan Laras, Jamal pun menghela napas super panjang. Oh, belum apa-apa dia sudah lelah duluan. Ini semua terjadi karena kakeknya. Kalau saja sang kakek tak menentang, Jamal tak akan sampai menjalankan rencana berbahaya seperti ini.
__ADS_1
"Menyesal pun tak ada gunanya, semua sudah terjadi, bukan?!" desah pria itu. "Sebaiknya aku pulang sekarang dan mengurus melihat bagaimana reaksi Sinta. Masih ada kemungkinan kecil kalau dia hanya menerima panggilan telepon saat masih setengah tidur, jadi mungkin saja dia tak mendengar apa yang Laras katakan semalam."
"Pertemuan dengan klien hari ini masih sekitar dua jam lagi, pak." Laras berdiri tegak begitu bosnya ke luar ruangan. Inginnya bertanya ke mana kawannya itu akan pergi, tetapi dia sedang dalam mode sekretaris bukan teman yang bisa bicara sesukanya sekarang. Makanya dia menyiratkan pertanyaan dengan pernyataan seperti barusan.
"Batalkan pertemuan itu. Ada hal penting yang harus aku lakukan sekarang!"
Laras mengangguk sambil tersenyum formal, bibirnya berkedut kesal karena Jamal bersikap seenaknya lagi. Sungguh dalam hati ingin rasanya dia menghajar bolak-balik kawannya itu agar sadar mana yang benar-benar penting untuk saat ini.
"Baik, pak," ucap wanita itu pada akhirnya. Dia hanya pegawai yang mengurus jadwal atasannya, bukan seseorang yang mengatur apa yang harus kawannya itu lakukan. Ingat, hanya menyusun dan bukan mengatur. Semua terserah Jamal di akhirnya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Tuan?" Lea dan Eve bersikap siap begitu melihat kedatangan majikan mereka.
"Uh, itu ...," Eve merasa ragu untuk berbicara.
"Nyonya ada di dalam, tuan. Sedang ada tamu bersama beliau," sahut Lea memasang tampang poker. Baginya dia hanya harus menjawab apa yang ditanyakan oleh orang yang memberikan gaji padanya.
"Tamu?" kening Jamal bertaut heran. Tak biasanya istrinya menerima tamu, siapa sebenarnya yang datang. "Aku akan ke dalam,"
Lea dan Eve mengangguk, yah siapa yang bisa mencegah pemilik rumah untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri.
__ADS_1
"Apa yang anda lakukan di sini?" Jamal datang menyela pembicaraan antara Tias dan istrinya. Dia yakin kalau pembicaraan ini tak akan berakhir baik untuk hubungan mereka.
"Oh, Jamal, keponakan ku tersayang." suara lembut yang dibuat-buat, senyum kelewat manis yang sebatas kepalsuan. Tak mungkin wanita gila ini akan memanggilnya seramah itu kalau dia bukan keturunan langsung dari Keluarga Sanjaya.
"Kita tak memiliki hubungan seperti itu. Saya bukan keponakan anda dan anda hanyalah salah satu keluarga cabang yang bernaung di bawah nama besar Sanjaya!" Jamal mendekat, mengambil tempat di sisi istrinya. "Jadi, apa yang membawa anda kemari? Jangan bilang anda di sini untuk menyapa Sinta, istri kesayangan saya?" Jamal melirik sinis. Mana mungkin orang yang selalu mengibaskan ekornya di depan Arman malah duduk di depan istrinya dan bersikap ramah. Pasti ada alasan mengapa wanita itu datang ke sini.
"Oh, ayolah. Tante akan sedih kalau kamu berbicara seperti ini terus, sayang. Kita masih keluarga, setidaknya karena itulah tante mampir ke sini. Untuk melihat bagaimana kehidupan pernikahan keponakan tante yang paling berharga ini." Tias melambaikan tangan sambil terkekeh pelan. Ekor matanya melirik Sinta dengan tatapan meremehkan.
"Sepertinya tante hanya mengganggu di sini, kalau begitu tante pergi dulu, ya. Semoga hari kalian menyenangkan,"
Keheningan menggantung saat Jamal dan Sinta ditinggal berduaan. Sinta yang sibuk dengan pikirannya dan Jamal yang sedang menata penjelasan seperti apa yang harus dia ucapkan pada istrinya. Kalau dia salah bicara, semuanya akan berakhir saat itu juga.
"Aku akan kembali ke kamar, mas," tukas Sinta memilih menyendiri agar bisa berpikir dengan kepala dingin.
"Sayang ... ada yang harus aku katakan," tukas Jamal dengan cepat menangkap pergelangan tangan istrinya sebelum wanita itu benar-benar pergi.
"Nanti, ya mas. Nanti. Sekarang aku sangat lelah, plis,"
Di bawah tatapan memelas sang istri, Jamal tak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk mengiyakan. Memenuhi apa yang diinginkan istrinya. Mereka bisa bicara nanti, masih banyak waktu yang mereka miliki karena mereka berjanji akan hidup bersama hingga kehidupan mereka berakhir.
Jamal memaksakan senyumnya, menyakinkan dalam hati kalau semua akan baik-baik saja. "Baiklah, kamu bisa istirahat. Mas balik ke kantor lagi, ya,"
__ADS_1
Sinta mengunci rapat bibirnya. Dia hanya menatap suaminya sambil menganggukkan kepala. Terlalu banyak yang dia pikirkan dan semua itu rasanya ingin dia muntahkan saat ini juga. Namun, Sinta tak ingin memulai perkelahian di antara mereka. Dia ingin rumah tangganya damai tanpa adanya pertengkaran yang tak diperlukan.
"Jaga istriku dengan baik. Temani dia sebanyak mungkin," tukas Jamal mempercayakan semuanya pada kedua bodyguard yang dia sewa. Dia sadar kalau Sinta sedang menghindar, dia juga tak bisa memaksa wanitanya untuk bicara saat istrinya tak mau melakukan itu. Biarlah waktu yang mengatasi semuanya, saat waktunya tiba, mereka akan bisa bicara dengan jujur tentang segalanya seperti sebelum-sebelumnya.