Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
11. Pagi pertama di rumah baru


__ADS_3

Selesai berkeliling, tak terasa hari hampir siang. Jamal mengajak istrinya makan di luar. Dia mengatakan mereka tak akan pulang karena hari ini mereka langsung pindahan ke rumah baru. Jelas saja Sinta terkejut, mereka belum mengepak barang. Tak ada satu pun barang-barang yang dikemas. Semua baju mereka bahkan masih tergantung di lemari pakaian.


Jamal hanya mengangguk sambil tersenyum, mengatakan bahwa istrinya tak perlu repot tentang itu. Dia sudah menyewa jasa kepindahan yang sangat ahli. Mereka akan mengurus semuanya, bahkan mungkin kalau mereka di suruh memindahkan rumahnya sekalian, mereka akan melakukannya kalau bayarannya sesuai dengan perintah yang diberikan.


Dan benar saja. Selesai makan, Sinta dan Jamal kembali ke rumah baru mereka. Di sana sudah terlihat mobil angkutan yang membawa barang-barang mereka. Semua bajunya masih tersusun rapi tanpa tersentuh sama sekali. Sungguh, Sinta baru menyadari betapa kuatnya kekuatan uang yang sebenarnya. Oh, jangan lupakan. Karena uang dan latar belakang juga dirinya tak diterima oleh keluarga suaminya. Sungguh hal yang aneh tapi sudah sering terjadi. Banyak contoh dari drama-drama, tapi untuk mengalaminya sendiri, Sinta tak pernah membayangkan hal itu sama sekali.


"Lagi mikir apa?" suara suaminya membuyarkan lamunan Sinta.


"Oh, gak ada, mas," balas Sinta cepat. Jelas tadi dia terkejut, meski hanya sesaat. Tak sampai hitungan detik, raut wajah wanita itu langsung dihiasi senyuman. Sinta hanya tak mau suaminya merasa bersalah kalau tahu apa yang dia pikirkan barusan. Pasti suaminya akan kembali meminta maaf dan merasa bersalah pada dirinya (Sinta). Padahal bukan salah Jamal kalau keluarganya tak menerima Sinta, dan juga pastinya bukan salah wanita itu kalau tak bisa masuk dengan mudanya ke keluarga kelas atas. Yang salah, hanyalah takdir yang membuat cerita ini mengalir seperti ini.


Hanya butuh beberapa jam dan kepindahan mereka sudah beres semuanya. Barang-barang dari rumah lama sudah diangkut dan ditata dengan rapi sesuai instruksi dari Jamal dan juga Sinta.


"Aku gak tahu kalau pindahan akan semudah ini, mas?!" tukas Sinta masih tak percaya kalau mereka sudah beralih ke rumah yang baru.


Jamal mengangkat bahu singkat. "Sebenarnya kita tak perlu menyuruh ini-itu tadi. Harusnya mereka yang mengurus semua tanpa perlu campur tangan kita,"


"Tapi aku suka begini. Serasa aku sendiri yang menaruh setiap barang pada tempatnya," balas wanita itu memberi alasan.


"Lakukan sesukamu dan aku berharap keluargaku tak lagi datang berkunjung," ucap Jamal menghela napas panjang. Dia yakin pasti semua gerak-geriknya sudah sampai ke telinga sang kakek. Tentu saja kepindahannya pun pasti diketahui oleh orang tua kolot yang satu itu.


"Kita kan baru pindah, mas. Masa iya mereka bisa datang secepat ini?" kekeh Sinta yang tak tahu betapa menakutkannya kekuatan dari informasi yang dimiliki kakek suaminya.

__ADS_1


"Aku harap aku hanya khawatir berlebihan. Ayo, kita tidur saja. Besok mas harus berangkat lebih awal soalnya ada rapat,"


Sinta mengangguk, segera bergabung bersama suaminya berbaring di sisi ranjang yang lainnya. Jamal mendekat, memeluk istrinya dengan erat. Kebiasaan sebelum tidur yang selalu dia lakukan. Memberikan kecupan singkat dan ucapan selamat malam. Kadang keduanya tetap tertidur dalam keadaan yang sama tanpa melepa pelukan mereka.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Pagi menjelang, Jamal sudah berangkat sejak tadi. Tak lupa dirinya menyuruh bodyguard yang disewanya untuk menjaga istrinya dengan benar. Keduanya mengangguk mengiyakan, berjanji akan melakukan apa pun untuk melindungi atasan sementara mereka, yaitu Sinta.


Belum apa-apa, sudah ada wajah baru yang membuat keributan di depan rumah Sinta dan Jamal. Kali ini pria dengan banyak tindikan yang datang, Sinta pun mendekat karena mendengar suara bising yang mengganggu pagi hari yang sangat indah.


"Ada apa ini?" tanya Sinta memperhatikan tamu lain yang datang kali ini. Tak mungkin kan apa yang suaminya katakan semalam menjadi kenyataan. Kalau iya, bisa-bisa makanan yang dia makan saat sarapan akan keluar kembali karena masalah yang datang meski mereka sudah pindahan.


"Nyonya, sebaiknya anda tidak keluar. Kami bisa menangani ini," ucap salah satu pengawal yang menjaga Sinta.


"Itu tak akan terjadi, nyonya. Tak akan ada masalah yang timbul hanya karena satu orang anak nakal yang mampir dan membuat keributan di depan rumah orang lain. Kalau masih tak cukup, saya bisa memanggil pihak berwajib agar anda merasa lebih tenang!"


Tawa keras terdengar memekakkan telinga, suara itu datangnya dari pria urakan yang telinganya penuh dengan tindikan. "Ya, ya, ya. Panggil saja, panggil sana! Panggil polisi atau apa pun yang kalian mau. Penjara sudah seperti rumah kedua bagiku!"


"Apa mau kamu? Kita tak saling kenal?!" pekik Sinta menepis ketakutannya. Baru kali ini dia melihat pria urakan seperti itu, cukup berisik dan sangat menakutkan setiap dia membuka mulutnya.


"Yang aku mau?" pria tadi nampak berpikir setelah dia bertanya seperti barusan. "Kamu menghilang untuk selamanya!!!" lanjutnya terkekeh jahat.

__ADS_1


"Sebaiknya anda segera masuk, nyonya. Jangan dengarkan orang yang sakit jiwa seperti ini?!" ucap si pengawal.


"Mari ikut saya, nyonya. Anda bisa tetap di dalam bersama saya. Eve saja sudah cukup mengurus bocah nakal sekelas anak itu," imbuh yang lain mengajak Sinta masuk.


"Berhati-hatilah," tukas Sinta sebelum pergi. Eve, nama bodyguard yang ditinggalkan berdua saja dengan pria bertindak banyak itu pun mengangguk mengiyakan ucapan nyonyanya.


"Minum ini agar anda merasa lebih tenang, nyonya,"


Sinta mengangguk, meneguk satu tegukan air yang diberikan pengawalnya padanya. "Apa dia tak apa? Eve?" tanya Sinta tak mempu menyembunyikan rasa khawatirnya.


"Jangan khawatir, Eve tak akan kalah hanya dengan preman sekelas anak itu," tukasnya membalas.


"Apa tak sebaiknya anda menghubungi tuan, nyonya?"


Sinta menggeleng pelan. "Jangan. Mas Jamal sedang ada rapat penting pagi ini. Aku tak mau mengganggu pekerjaannya,"


Si pengawal mengangguk paham. "Kalau begitu saya akan kembali ke tempat saya jika anda sudah merasa lebih tenang, nyonya!"


Sinta mengizinkan pengawalnya kembali, bagaimana pun dia masih khawatir pada pengawal yang satunya. Makanya dia dengan cepat mengiyakan saat pengawal yang menemaninya ingin kembali.


"Lama-lama aku bisa gila," keluh Sinta menarik napas panjang. Dia lelah menghadapi pertarungan urat saraf seperti ini setiap harinya. Rasanya semua energinya habis terkikis dan tak tersisa karena harus terus menghadapi kroco-kroco yang dikirim oleh kakek suaminya.

__ADS_1


"Berikan aku kekuatan agar bisa bertahan, ya Tuhan!" ucap wanita itu penuh pengharapan. "Ubah pula hati kakek suamiku agar mau menerima aku meski sedikit saja," lanjutnya meminta dengan sangat.


__ADS_2