Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
22. Kesepakatan


__ADS_3

Di sinilah Jamal berada, di depan rumah Laras. Pria itu sudah mengantongi izin dari istrinya untuk menyelesaikan masalah yang dia timbulkan karena ide gila yang dia buat.


Kini Jamal duduk di ruang tamu rumah Laras. Di depannya sudah ada seorang paman yang sejak kecil dia kenal, seorang yang merupakan ayah dari kawannya, Laras.


"Ada keperluan apa kamu ke sini?" nada dingin yang seakan membeku seluruh urat nadi. Jamal tahu kalau dirinya tak disukai di sini. Mungkin karena dia pria beristri yang mendekati anak gadis orang. Yah, walau pun semua hanya tipuan yang dia lakukan untuk mengalihkan mata sang kakek dari istrinya.


"Saya di sini untuk menjelaskan sesuatu, om," tukas Jamal dengan berani. Dia memang salah, tapi dirinya tak ada niat mempermainkan wanita dalam hidupnya.


"Katakan!"


"Ini soal Laras dan rumor yang beredar tentang kami berdua. Sebenarnya itu salah saya, om,"

__ADS_1


"Tentu saja salah kamu, masa salah anak saya?! Kamu kan pria sudah beristri, kenapa malah deketin anak gadis saya, hah?!"


Jamal Menarik napas panjang. Ini katanya bakalan didengerin, tapi kenapa udah ngegas duluan kayak gini.


"Semua cuma sandiwara, om. Saya mau ngasih kejutan buat Sinta, istri saya. Saya pengen buat Sinta cemburu, terus nangis-nangis dikit, marah dan kecewa, habis itu baru saya bilang kalau itu semua kejutan buat dia," tukas Jamal menjelaskan. Tentu saja ini alasan bohongan yang sudah dia karang bersama dengan Laras, dan alasan ini sudah mendapatkan izin dari Sinta selaku pihak yang bersangkutan.


"Benar hanya begitu?" mata si om menyipit tak percaya.


"Beneran, om. Saya dan Laras udah setuju buat ngasih kejutan yang agak beda sama istri saya. Laras sendiri juga semangat karena dia dan Sinta cukup akrab. Saya bukan lelaki serakah yang ingin memiliki dua wanita untuk diri saya sendiri, om."


Jamal mengangguk sambil tersenyum kecut. Kenapa dia malah merasa kalau dirinya sedang dihina ya. Tapi tak apalah, yang penting masalah kali ini sudah beres.

__ADS_1


Habis dari tempat papanya Laras, kini Jamal berpindah ke rumah utama keluarganya. Dia masuk ke ruangan sang kakek tanpa permisi seperti biasanya.


"Mari buat kesepakatan dengan saya, kek!"


Arman mendelik mendengar usulan dari cucu kurang ajarnya ini. "Kesepakatan apa yang bisa kamu berikan padaku, ha?!"


"Bertaruh dengan saya satu kali ini saja, kek. Kalau kakek menang saya akan menghilang bersama dengan Sinta untuk selamanya. Tapi kalau saya yang menang, tolong jangan ganggu Sinta dan rumah tangga kami!"


"Omong kosong! Tak ada satu pun dari kesepakatan itu yang menguntungkan buatku!" hardik Arman tak terima.


"Saya akan membuat perusahaan kita masuk ke pasaran luar negeri, kek. Tahun ini batasnya. Apa itu sudah bisa dianggap menguntungkan kakek?"

__ADS_1


Arman menatap cucunya yang berani mempertaruhkan segalanya hanya untuk satu orang wanita biasa. Sungguh sikap yang menjengkelkan yang sayangnya di dapat dari anaknya sendiri dan tentu saja anaknya mendapatkan sifat itu dari dirinya.


"Ardi! Buatkan kontrak kesepakatan untuk kami berdua!" putus Arman menerima penawaran dari cucunya. Jamal tersenyum tipis, kakeknya bukan orang yang akan mengingkari apa yang sudah beliau janjikan. Bahkan tanpa membuat surat kontrak pun, Jamal akan mempercayai kakeknya sepenuhnya.


__ADS_2