
Sinta hanya bisa menatap suaminya yang memasang wajah kusut. Sungguh dia ingin bertanya, tapi setelah itu apa. Dia tak paham soal bisnis, dia juga tak mungkin bisa memberi bantuan. Yang bisa dia lakukan hanya menjadi pendengar yang baik dan pastinya itu tak akan cukup untuk suaminya saat ini.
Lama Sinta memperhatikan suaminya, tapi ekspresi kusut itu masih ada walau sudah berusaha disembunyikan di depan dirinya. Akhirnya dengan bermodalkan kenekatan dan keberanian diri, Sinta mendekat, menanyai suaminya tentang masalah yang pria itu hadapi.
"Bukan apa-apa, kok dek." Selalu, jawaban seperti itu yang dia dengar sejak dulu kalau dia menanyai tentang urusan pekerjaan. Apa memang sebegitu tak bisa diharapkan kah dirinya makanya suaminya malas berbagi masalah pada dirinya.
"Meski aku tak bisa membantu, tapi aku masih bisa mendengarkan apa yang mas pusingkan, mas,"
Satu kata itu membuat Jamal pun luluh, akhirnya dia menceritakan semua yang dia alami akhir-akhir ini. Bagaimana semua rencananya selalu saja mengalami kegagalan di saat-saat terakhir. Pasti rekan bisnisnya menolak semua yang semula mereka sepakati.
__ADS_1
Sinta menghela napas, menatap suaminya dengan tatapan bangga yang bercampur dengan rasa iba. "Karena aku mas jadi menderita, entah aku harus merasa senang dengan semua perjuangan mas ataukah aku harus merasa sedih karena membuat mas bekerja terlalu keras,"
Jamal menggenggam erat tangan istrinya. "Sayang, ini semua aku yang memutuskan. Ini sama sekali gak ada hubungannya sama kamu, jadi kamu gak perlu merasa bersalah. Sejak kita menikah, sudah jadi tanggung jawabku untuk mengurus segala hal yang menyangkut kamu. Termasuk tentang memperjuangkan restu dari kakek aku,"
Sinta tersenyum haru. Wanita itu sungguh merasa bahagia mendapat pendamping seperti suaminya. Sinta sampai tak bisa berkata-kata dan hanya mampu mengangguk sebagai balasan dari ucapan suaminya.
Jamal percaya kalau segalanya akan baik-baik saja. Dia pasti bisa melewatinya, bahkan kalau memang dia gagal memenangkan taruhan yang dia buat dengan sang kakek. Dia masih bisa hidup bersama istrinya di suatu tempat. Uang yang dia kumpulkan selama bekerja tentunya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka selama beberapa tahun ke depan walau tanpa bekerja. Apa lagi dia tak berniat menjadi pengangguran, dia akan melakukan pekerjaan apa pun asalkan pekerjaannya halal dan tak melanggar aturan hukum.
Semua badai pasti akan berlalu, dia pun pasti bisa melakukan apa saja dengan dukungan dari istrinya, Sinta.
__ADS_1
"Tidurlah duluan, aku harus meneliti beberapa dokumen malam ini," tukas Jamal melerai pelukan mereka.
Sinta mengangguk patuh, dia memang tak pernah menentang apa pun yang suaminya katakan. "Jangan terlalu memaksakan diri, mas," ucap wanita itu menatap dengan khawatir.
"Tentu, istriku yang cantik dan baik hati!" pujian dari Jamal sukses membuat wajah Sinta bersemu merah. Meski susah menikah, dia belum terbiasa dipuji seperti itu. Dan parahnya, suaminya malah terus memujinya di setiap ada kesempatan.
"Nanti akan aku bawakan air jahe dan makanan ringan untuk mas!" Sinta melarikan diri ke dapur, takut kalau suaminya akan melihat wajahnya yang memerah hanya karena satu kalimat gombalan yang mengandung pujian untuk dirinya.
"Manisnya! Istri siapa, sih?" gumam Jamal gemas sendiri.
__ADS_1