Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
6. Saling bicara


__ADS_3

Sinta mencoba tersenyum meski sebenarnya dia pun tetap terkejut mendengar semua ucapan suaminya. Wanita itu pun memutuskan untuk jujur mengenai masalah pertemuannya dengan kakek dari suaminya hari ini.


"Aku juga ingin mengatakan sesuatu, mas,"


Jamal mengangguk, siap mendengar apa pun yang akan diucapkan suaminya. "Akan aku dengarkan, tetapi tolong jangan ucapkan kata perpisahan, ya?" pinta Jamal dengan wajah memelas.


Sinta mengangguk sambil terkekeh geli, hal itu tak mungkin terjadi. Mereka tak akan berpisah dengan perceraian, hanya umur yang bisa memisahkan pernikahan mereka.


"Hari ini aku dijemput seseorang. Orang itu mengatakan kalau tuannya ingin bertemu denganku. Dan orang itu adalah kakeknya mas," aku Sinta jujur.


"Apa? Kenapa kamu gak hubungin mas dulu kalau ada orang yang gak dikenal datang dan meminta kamu ikut sama dia? Gimana kalau kamu diculik? Bisa aja mereka orang jahat, kan?"


Sinta balas menggenggam tangan suaminya yang terlihat panik. "Lihat aku, mas. Aku baik-baik saja! Aku juga tadi sudah meninggalkan pesan di memo. Jadi kalau aku belum pulang pas mas sudah sampai, mas pasti bisa mencari keberadaan diriku dengan memo yang aku tinggalkan." Sinta mencoba menenangkan suaminya yang terlalu panik. Padahal itu sudah berlalu dan di telah kembali ke rumah, berada di sini, di sisi suaminya sendiri.


"Lalu apa kata kakek tua itu?" jelas wajah Jamal menunjukkan kalau dia merasa bersalah dan juga sekaligus khawatir. Apa saja yang istrinya dengan dari pria tua yang kolot dan keras kepala itu. Berapa banyak kata-kata kasar yang diterima oleh wanitanya hanya karena kebodohannya yang tak bisa jujur dari awal.


"Maaf, semua gara-gara mas. Andai saja mas hanya orang biasa, kita pasti bisa hidup dengan damai seperti yang kita impikan selama ini," tukas pria itu lagi.


"Bukan salah, mas. Mungkin ini karena aku yang tak pernah menanyakan tentang keluarga mas sama sekali sejak kita menikah," timpal Sinta tersenyum lembut. Dia tak ingin menyalahkan siapa pun. Kalau memang harus ada yang disalahkan, maka dirinya sendirilah orang yang tepat menanggung kesalahan itu.

__ADS_1


"Tapi kamu belum menjawab pertanyaan mas. Apa yang dikatakan oleh pria tua itu?" Jamal bertanya sekali lagi untuk memastikan apa saja yang istrinya dengar.


"Kami berkenalan. Beliau memberikan banyak uang dan menyuruh aku pergi. Hampir saja aku mengambilnya, tapi tak jadi," kekeh Sinta bercanda agar suaminya tak terlalu tegang.


"Jangan bercanda untuk hal seperti ini, sayang," ucap Jamal cepat. "Meski hanya sekedar candaan, aku tetap tak suka mendengarnya!" timpal Jamal cepat dengan wajah gusar, takut kalau ucapan istrinya menjadi do'a dan bisa saja terjadi di masa yang akan datang.


"Maaf, mas. Aku hanya sedikit bercanda agar mas tak berwajah masam seperti ini,"


Jamal mengangguk, mencoba bersikap lebih tenang. "Apa kakek tua itu mengancam kamu?" tanya pria itu. Setelahnya dia sendiri yang menggeleng cepat. "Tanpa perlu dijawab pun aku tahu kalau pria tua yang keras kepala itu pasti melakukannya," lanjutnya sambil membuang muka. Dia sudah sangat hapal dengan kelakuan kakeknya itu.


"Eng, beliau hanya mengatakan kalau aku tak akan diterima. Itu saja, sih mas,"


"Aku tak bisa mengatakan kata lain selain maaf, dek. Mas salah, mas sudah bohong dan menutupi semua. Tapi malah kamu yang harus mendengar perkataan kasar dari kakekku," sesal Jamal merasa sudah menjadi suami yang jahat. Yang membiarkan istrinya dimaki oleh keluarganya sendiri.


"Mari anggap saja Tuan Arman sedikit terkejut karena aku hadir di antara kalian, mas!"


"Tuan Arman?" kening Jamal berkerut mendengar panggilan sang istri pada kakeknya. "Kenapa kamu manggil kakekku seperti itu, dek?" tanya pria itu memastikan. Pasti ada alasan di balik semuanya. Tak mungkin wanita sesopan Sinta akan memanggil kakeknya seperti itu. Tentu ini pasti karena kakeknya yang keras kepala.


Sinta menggaruk pipinya yang tak gatal, dia kelepasan bicara karena sejak bertemu tadi selalu memanggil kakek suaminya seperti itu. Jadi lidahnya sudah terbiasa dan malah mengucapkannya di depan suaminya sendiri. "Beliau yang minta jangan dipanggil dengan sebutan kakek," aku Sinta tanpa menutupi. Wanita itu menatap ke lain arah, tak mau menatap langsung mata suaminya yang pasti menatap penuh sesal dan rasa bersalah ke arahnya.

__ADS_1


"Aku akan bicara langsung sama kakek besok!" tukas Jamal mengambil keputusan. Dia tak bisa diam saja melihat istrinya diperlakukan seperti orang asing. Bagaimana pun wanita inilah yang dia pilih sebagai istrinya. Itu artinya Sinta merupakan cucu menantu di keluarga meraka.


Sinta menggeleng cepat, tak setuju dengan apa yang akan suaminya lakukan. "Jangan, mas! Tolong biarkan saja sampai beliau berubah pikiran sendiri, ya?!"


Jamal tak berdaya melihat keyakinan istrinya. Dia saja yang merupakan cucu kandung Arman sangat tahu kalau pria tua itu tak akan pernah mengubah keputusannya. Apa yang dia ucapkan, itulah yang akan terjadi hingga akhir. Namun, hati kecil Jamal pun juga mengharapkan hal yang sama. Dia berharap kakeknya bisa berubah setelah mengenal wanita yang dia pilih sebagai istrinya.


"Baiklah, mari lakukan seperti yang kamu inginkan," tukas Jamal mengalah. Dia akan mengikuti keinginan istrinya. Belum terlambat untuk bertindak kalau memang tak ada yang berubah setalah menunggu beberapa lama. Dia pasti bisa mengurus semua dan membuat istrinya diterima masuk ke dalam keluarganya sebagai cucu menantu.


"Sudah, kan?" tanya Sinta begitu mereka selesai bicara.


Jamal mengangguk sebagai balasan. "Kalau begitu mas ke depan sana, biar di sini aku yang urus!" tukas Sinta memberi perintah. Dia tak betah melihat piring kotor menumpuk dan belum dibereskan.


Bukannya pergi sepert yang istrinya inginkan. Jamal malah menggulung lengan bajunya seraya berdiri dari duduknya. "Sini mas bantu biar cepat selesai," ucapnya segera membawa piring-piring kotor yang tadi mereka gunakan.


"Aku bisa sendiri, mas!" tukas Sinta menyusul. "Mas ke depan aja, nonton sana. Nanti aku nyusul kalau udah selesai!" lanjut wanita itu.


"Gak apa-apa, ayo kerjakan bersama biar lebih cepat selesai. Trus kita nonton bareng setelahnya,"


Sinta menghela napas panjang. Siapa bilang kalau cuma kakek suaminya yang keras kepala. Suaminya juga sama saja. Apa memang Keluarga Sanjaya isinya orang-orang keras kepala semua ya. Wanita itu menggeleng pelan, dia sudah berpikir ngawur sendiri seenaknya. Keduanya pun mencuci piring bersama sambil sesekali menanyakan tentang ini dan itu.

__ADS_1


__ADS_2