
Sinta masih terdiam di tempatnya setelah menerima ajakan kencan dari suaminya. Oh, bukan karena mereka tak pernah berkencan setelah menikah. Tapi baru kali ini pria yang dinikahinya itu mengajak pergi kencan semendadak ini.
"Mas, gak ngantor?" tanya Sinta melihat suaminya yang kembali hanya dengan memakai pakaian santai.
"Cuti. Kamu lebih penting dari semua pekerjaan yang ada di dunia ini!"
Sinta terdiam, apa suaminya juga merayu wanita lain dengan kata-kata yang sama yang baru saja pria itu ucapkan. Entah mengapa Sinta merasa sudut hatinya sedang tertawa mengejek dirinya sendiri karena menyukai gombalan dari Jamal.
"Aku lagi malas jalan, mas," tolak halus Sinta. Dia tak ingin semakin dilema dan kebingungan dalam mengambil keputusan. Yang dia perlukan itu waktu untuk berpikir, bukan jalan-jalan atau bahkan berkencan.
"Ayolah, kita ganti suasana, sayang. Sudah lama kita gak keluar menghirup udara segar, makan makanan enak, dan juga menonton film,"
__ADS_1
"Kalau mas bosan, mas bisa jalan sendiri atau ngajak siapa gitu?!" Sinta menutup rapat mulutnya setelah dia mengucapkan kata-kata barusan secara tak sengaja. Dia hanya merasa kesal seakan dipaksa jalan hari ini.
Jamal tersenyum penuh kesabaran. Dia akan menunggu sampai istrinya mau bicara padanya tanpa dipaksa. "Kalau gitu, hari ini kita habiskan waktu di rumah saja, ya," tukas pria itu mengambil pilihan lain. Dia juga menyuruh kedua pengawal istrinya untuk libur hari ini karena dia berada di rumah.
Saat suaminya berbicara dengan dua pengawalnya. Pikiran Sinta kembali melayang, mengingat apa yang Tias ucapkan padanya sebelum Jamal datang kemarin. Wanita dengan dandanan menor itu mengatakan kalau seorang pria yang menyimpan rahasia biasanya akan bersikap sok perhatian. Dan sepertinya semua itu memang benar. Tak ada acara apa pun, tak ada peringatan apa pun. Namun, Jamal malah meliburkan diri. Hal yang tak pernah dia lakukan semenjak mereka menikah. Apa ini untuk menutupi jejak kalau dia sudah mendua.
"Terserah mas saja,"
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Mulai dari sarapan, makan siang, hingga hampir makan malam. Tak ada satu detik pun yang mereka habiskan untuk saling mengobrol seperti biasanya. Sinta selalu saja memiliki beribu alasan untuk menjauh, meski Jamal sudah berinisiatif untuk mendekati.
__ADS_1
"Sepertinya kita benar-benar harus bicara, dek?!" tukas Jamal sudah tak tahan.Dia bisa bersabar, tapi dia tak suka melihat wajah istrinya yang cemberut sembari melamun kalau sedang sendirian.
"Jangan menolak, tolong ...," sela Jamal saat Sinta berusaha melarikan diri seperti sebelumnya.
"Apa yang harus kita bicarakan? Tentang keluarga mas yang gak mengakui aku? Atau tentang teman mas yang sudah naik tingkat jadi pasangan?" hancur sudah, hancur. Akhirnya ucapan yang sejak tadi ditahan tertumpahkan juga. Sinta menutup wajahnya, dia merasa sakit, padahal dia sendiri yang menanyakan hal tersebut.
"Astaga, sayang. Aku gak punya pasangan lain selain kamu. Kamu harus percaya itu?!" tukas Jamal membela diri. Dia ingin mendekat, memberi pelukan pada istrinya. Namun, sayang Sinta menjauh tak ingin menerima sentuhan kasih dari sang suami.
"Semua pria selalu berkata seperti itu saat ketahuan, mas!" tangis mulai terdengar meski pelan. Jelas kalau istrinya saat ini sedang kecewa, kesal, dan merasa terkhianati.
"Dengarkan, mas dulu oke. Mas akan ceritakan semuanya dari awal!"
__ADS_1