
Semakin hari, Jamal pulang semakin larut saja. Dia sudah melakukan banyak hal. Namun, tak satu pun dari mereka yang membuahkan hasil seperti yang dia inginkan. Memang batas waktunya masih lama, dan walau dia kalah taruhan pun dia tak akan kehilangan apa-apa. Tapi Jamal masih berharap dia bisa menang dan membawa istrinya ke rumah utama agar sang kakek memiliki teman saat Jamal tak ada di rumah.
"Kamu tak boleh menyerah, Jamal!" tukas pria itu pada dirinya sendiri. Jamal pun kembali mengarahkan segala usahanya untuk mendapatkan hasil yang dia inginkan. Dia harus menang, hanya itu satu-satunya cara agar mereka bertiga bisa hidup bahagia bersama.
"Pak, anda memiliki janji temu setengah jam lagi." Laras masuk ke ruangan Jamal setelah mengetuk pintu. Sebagai teman dan sekretaris, wanita itu mengingatkan Jamal akan jadwal selanjutnya pria itu.
"Aku tahu, ini aku baru mau pergi!" tukas Jamal seraya berdiri mengambil jas luarannya. "Semoga kali ini berjalan lancar!" pintanya penuh pengharapan.
Laras memastikan tak ada yang mendengar pembicaraan mereka. Meski dalam ruangan, siapa yang tahu kalau ada yang menguping di depan pintu sana. "Lakukan yang terbaik, kawan. Usaha yang maksimal akan memberikan hasil yang maksimal juga!" rupanya Laras menyemangati Jamal sebagai seorang sahabat, bukan sebagai sekretaris biasa.
__ADS_1
"Anda pasti bisa, pak!" kali ini Laras berbicara dalam mode sekretaris profesional.
Jamal terkekeh kecil melihat kelakukan kawannya yang selalu ada-ada saja. Senyum kembali hadir di wajah Jamal yang beberapa hari terakhir ini terlihat sangat tertekan. "Akan kulakukan semua yang aku bisa untuk memastikan perusahaan kita bisa berkembang hingga ke luar negeri!" semangat Jamal kembali berkobar. Memiliki teman yang mendukung dirinya rupanya sangat menyenangkan.
"Aku pergi sekarang!" Jamal melihat jam tangannya, masih ada kurang-lebih dua puluh menitan lagi hingga janji temu mereka berlangsung.
"Saya berharap dewi keberuntungan bersama anda, pak!"
Setelah mengatakan itu, Jamal pun pergi ke tempat dia membuat janji dengan klien bisnisnya. Laras tetap berada di dalam ruangan, membereskan file-file bosnya yang berhamburan di atas meja. Kebiasaan kerja yang buruk, mana ada sekretaris yang bisa bertahan selain dirinya kalau menghadapi bos yang sangat berantakan dalam menyimpan kembali dokumen yang sudah dia baca.
__ADS_1
Empat jam setelahnya, Jamal kembali ke kantor dengan wajah lelah. Tanpa diberitahu atau bertanya pun, Laras tahu hasil dari pertemuan antara bosnya dan klien mereka.
"Masih ada harapan yang lain, kawan!" di saat seperti ini, Jamal memang lebih membutuhkan seorang kawan dari pada seorang sekretaris yang kompeten.
"Hanya saja ... sepertinya semua yang aku lakukan tak bisa memberi hasil yang aku inginkan. Akhir-akhir ini semua rencana yang aku buat gagal, Ras,"
Mengeluh. Ya, seorang Jamal hanya bisa mengeluh tentang pekerjaan pasa kawannya yang satu ini. Kalau dia bercerita pasa istrinya, sudah pasti Sinta tak paham dan yang ada hanya kekhawatiran wanita itu yang bertambah. Yang Jamal butuhkan saat ini adalah teman bicara, bukan istri yang selalu khawatir akan apa yang terjadi.
"Mungkin ini ujian, Mal. Jangan putus asa dan terus saja berusaha! Tuhan tak akan berpaling dari hamba-Nya yang giat bekerja keras dan berdo'a."
__ADS_1
Jamal mengangguk lemah, berharap kalau ucapan kawannya ini akan menjadi kenyataan. Mungkin saja ada hal yang lebih besar yang telah disiapkan untuk dirinya, makanya Tuhan berkali-kali menggagalkan kerja sama yang ingin dia jalin.