Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
9. Tias, si nyonya nyinyir plus menor


__ADS_3

Dering di ponsel Sinta mengusik istirahat wanita itu. Segera saja dia mengambil ponselnya, begitu melihat siapa yang menelepon, Sinta langsung menerima panggilan itu.


"Ya, mas," itu kata pertama yang Sinta ucapkan.


Sinta mendengarkan, kemudian wanita itu mengangguk sambil tersenyum kecil. "Baru aja tadi aku makan, mas. Ini lagi rehat bentar, tapi malah ketiduran," ucapnya senang mendapat perhatian kecil dari pasangannya.


Wajah Sinta berubah tegang, sesaat kemudian wanita itu kembali tersenyum tipis. "Nanti saja aku cerita saat mas pulang, ya. Selamat bekerja, jangan terlalu maksain diri, mas!"


Panggilan terputus. Sinta yang tak bisa tidur lagi pun memilih untuk mengangkat jemuran lalu menyetrika semuanya. Sekalian menghabiskan waktu dengan menyibukkan diri biar dia tak ingat lagi hinaan yang tadi dia terima.


Sedangkan di sisi lain, Jamal menatap ponselnya dengan tatapan rumit. Dia merasa kalau istrinya sedang ada masalah, itu terdengar jelas dari suara sang istri yang terdengar sedikit parau.


"Apa ada yang menggangu Sinta lagi?" desahnya lelah dengan kelakukan sang kakek yang tak mau mengalah. Harusnya pria tua itu mendukung kebahagiaan cucunya, bukannya malah membuat pertentangan yang keras seperti ini.


"Semoga saja tidak,"katanya segera bangkit. Sudah waktunya untuk kembali berkutat dengan pekerjaan.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Wanita yang tadi mendatangi Sinta tadi langsung menghubungi Arman begitu dia selesai menjalankan tugasnya.


"Ho-ho-ho, halo, tuan. Saya memiliki kabar baik untuk anda," katanya tertawa entah karena apa.

__ADS_1


'Katakan! Jangan bertele-tele?!' membalas dari seberang sambungan sana.


"Oh-ho-ho-ho, maaf, tuan. Maaf!" ucapnya masih tetap tertawa. "Saya sudah menggangu wanita 'Itu' seperti yang tuan perintahkan,"


Dapat didengar kalau orang yang sedang diteleponnya tertawa keras. Jelas bahwa orang yang mendengar kabar darinya ini sudah pasti teramat senang.


'Kerja bagus, kerja bagus! Lalu apa katanya? Apa dia menangis dan memutuskan untuk pergi seperti yang diharapkan?'


Tak ada jawaban, wanita itu tak berani mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


'Tias? Kamu tak menjawab?' terdengar suara dari seberang sana bertanya dengan nada curiga.


"Saya memang sudah menggangu wanita itu, tuan. Tetapi wanita itu lebih tangguh dari pada yang terlihat. Orang rendahan itu bahkan melawan ucapan saya sebelum dia memilih masuk ke rumahnya," adu wanita bernama Tias yang tadi mengganggu Sinta.


"Halo? Halo? Tuan?" Tias berkali-kali menatap layar ponselnya. Memastikan kalau sinyal di ponselnya aman. Setelah di cek, tak ada yang salah dengan sinyalnya. Itu artinya tuan besar lah yang memutuskan sambungan telepon mereka. Mungkin saja Arman kecewa dengan apa yang dia sampaikan.


"Brengs*k! Padahal aku sudah berperan sebagai antagonis, tapi apa? Aku bahkan tak mendapatkan pujian apa lagi imbalan!" decihnya kesal karena tak mendapatkan apa pun padahal sudah repot-repot melabrak Sinta hari ini. Tias bahkan sampai membatalkan janji temu dengan desainer permata yang terkenal.


"Padahal aku sudah susah payah berdandan seperti ini untuk menjatuhkan kepercayaan diri wanita rendahan itu, tapi aku malah tak diberi apa-apa selain pemutusan telepon secara sepihak. Mana aku tahu kalau wanita rendahan itu kebal dan tahan banting?!" gerutu Tias panjang lebar.


"Kamu juga jadi supir masa diam aja?!" Bilang apa gitu kek biar saya gak terlalu kesel!" omelnya melampiaskan kekesalannya pada supir yang tak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Yang sabar, nyonya. Tak semuanya berjalan lancar dalam sekali percobaan," ucap si supir asal memberi komentar yang menurutnya masuk akal dan dirinya bisa terhindar dari amukan bos yang aneh.


"Gak usah ngomong! Kalau itu aku juga tahu. Dasar bodoh?!" hardik Tias menatap tak suka supirnya.


Si supir memilih diam, dia hanya orang kecil yang makan gaji. Tak bisa melawan dan hanya perlu menelan semua ucapan tak enak dari majikan gilanya ini. Andai saja dia punya kekuatan dan kekuasaan, sudah bisa dipastikan kalau wanita yang sedang menggerutu di belakangnya ini bakalan dia lemparkan ke neraka lewat jalur portal tercepat. Sayang seribu sayang, semua hanya kata andai bagi dirinya yang tak memiliki dukungan. Ingin berhenti bekerja pun, dia masih pikir-pikir. Cari kerja susah, belum tentu bisa langsung dapat begitu dia minta berhenti jadi supir si nyonya nyinyir satu ini.


"Apa? Mau marah? Marah? Marah?" mata Tias yang melotot tajam terpantul jelas lewat kaca spion.


"Saya sedang fokus menyetir, nyonya," tukas si supir memasang senyum profesional andalan kaum pekerja.


"Makanya muka jangan sepet-sepet. Gak enak diliat!" dengus Tias kesal. Semua yang terlihat di matanya selalu salah, itu membuat dirinya kesal sendiri dan ingin mengomel saat itu juga.


"Muka saya memang begini dari pabrikannya, nyonya. Gak pernah diubah, gak punya duit juga buat perawatan," balas si supir. Nanti kalau dia diam dikira mengabaikan lagi. Mending dijawab seadanya yang sekiranya gak bakalan bikin nyonyanya tambah marah saja.


"Pakai masker kalau udah nyadar muka gak enak diliat gitu. Jangan dipajang kayak lukisan di pameran!" komen Tias.


"Baik, nyonya. Besok saya akan bawa masker," ucapnya malas memperpanjang masalah. Lebih baik mengikuti saran sang nyonya, biar nyonyanya senang dan tak mengomel lagi. Pening rasanya kepala mendengar omelan yang tak ada ujung pangkalnya begini.


Tias berhenti mengomel. Untuk mengurangi kekesalannya, wanita itu berseluncur ke situs belanja online. Membeli apa pun yang menurutnya bagus meski sebenarnya tak terlalu dibutuhkan.


Si supir menghela napas lega, merasa beruntung majikannya bisa berhenti mengomel. Tak seperti hari yang biasanya, omelan wanita itu akan bertahan lama, bahkan sampai mereka tiba di rumah pun Tias masih akan mengomel panjang kali lebar.

__ADS_1


Ah, sepertinya malam ini si supir akan bisa tidur tenang tanpa harus bermimpi buruk dimarahi oleh setan berwujud majikannya. Dia pun bersyukur beribu-ribu kali di dalam hatinya, berjanji akan berbagi sedikit rejeki kala hari gajian sudah tiba. Semoga saja dia masih ingat dengan janjinya saat sudah gajian nanti, kalau tak ingat, yah dia bisa apa. Namanya juga manusia yang tak pernah luput dari salah dan khilaf, jadi bisa saja dia lupa. Makanya dia meminta pengampunan saat ini juga, sebelum lupa dan malah menjadi dosa nantinya.


Begitu sampai di kediamannya, hati Sinta sedikit lebih ringan. Mungkin karena dia sudah berbelanja ini dan itu atau bisa jadi karena tadi dia sudah mengomeli supirnya saat masih di perjalanan. Wanita itu tak mau peduli yang mana alasan sebenarnya, dia juga malas berurusan dengan Sinta dalam waktu dekat ini. Biar saja keluarga yang lain yang mengurus wanita rendahan itu.


__ADS_2