
Setelah masalah kantor beres. Arman banyak merenung, memikirkan kata-kata yang Ardi ucapkan padanya. Mungkin benar kalau semua yang terjadi ini merupakan kesalahannya karena sudah berseteru secara terang-terangan dengan cucu tunggalnya. Harusnya dia sedikit menahan diri dan cukup berbicara empat mata saja tanpa melibatkan orang lain.
Suatu sore, Arman minta diantar ke rumah Jamal. Dia berkunjung tanpa pemberitahuan lebih dulu. "Siapa, ya?" tanya kedua pengawal Sinta begitu melihat mobil Arman berhenti di depan gerbang.
"Tak tahu, mungkin tamu tuan,"
"Cari siapa?" tanya salah satu di antara mereka.
"Jamal,"
"Oh, tuan belum pulang. Anda bisa menunggu di dalam kalau mau?" ucapnya sopan. Tak enak hati untuk menyuruh seorang pria tua kembali lagi nanti, bukankah sebentar lagi juga waktunya pulang.
"Oh, tuan besar," sapa Sinta yang bergegas datang begitu tahu kalau ada tamu yang datang. "Mas Jamal belum balik, anda bisa menunggu di sini sebentar. Oh, kalau anda tak suka, saya bisa kembali ke kamar,"
"Duduk saja, aku tak mau dikira mengganggu nyonya rumah saat suaminya tak ada?!" ucap ketus Arman.
Keheningan yang menggantung sangat mencekik bagi Sinta. Hanya suara tegukan teh dan cangkir yang beradu dengan piring kecilnya yang sesekali terdengar. Ini lebih menyiksa dari pada dimaki secara langsung.
"Bagaimana keadaan kalian?" dehem Arman memulai percakapan.
Sinta tersentak kecil, sebelum wanita itu memasang senyum canggung. "Baik, saya lebih banyak mengurung diri sesuai yang dikatakan Mas Jamal,"
__ADS_1
Arman mendengus pelan. "Memangnya kamu burung yang hidup dalam sangkar apa? Kenapa gak dibolehkan keluar jalan-jalan," omel si kakek tua mulai ikut campur.
"Sebenarnya itu demi kebaikan saya sendiri, tuan besar," ucap Sinta mengusap belakang lehernya.
"Kamu sakit? Kenapa gak pergi berobat? Sakit parah atau sakit apa?"
"Istri saya baik-baik saja, tuan besar!" sela Jamal menyahut. Sepertinya pria itu datang terburu-buru, lihat saja keringat yang menggantung di dahinya.
"Dasar anak durhaka! Kakek sendiri malah dipanggil tuan besar?!" dengus Arman protes.
"Istri saya memanggil anda begitu, jadi saya pun melakukan hal yang sama!" Jamal duduk di sisi istrinya, mengecup ringan pipi wanita itu di depan kakeknya sendiri.
"Gak sopan, mas," tegur Sinta pelan.
Sinta menyerah, berada di tengah dua orang pria berbeda usia namun sama-sama keras kepala tentu membuat dirinya sendiri yang lelah. "Aku mau istirahat, ya mas. Capek," pamit Sinta pada suaminya. Wanita itu melempar senyum tipis pada Arman sebelum dia pergi.
"Ck, ck, ck, jam segini malah mau tidur padahal suami baru pulang kerja," decak Arman kembali mengomel.
"Jangan marahi Sinta, kek. Dia begitu karena kelakuan saya," ucap Jamal ambigu.
"Kamu main tangan sama istri kamu?" tanya Arman menatap garang.
__ADS_1
"Mana mungkin, enak saja kalau menuduh. Sinta begitu karena lagi berisi. Berisi, kek!" jelas Jamal yang ikutan kesal dituduh sembarangan.
"Anak kamu?"
Jamal melotot kesal mendengar pertanyaan kakeknya. "Bukan! Anak tetangga?! Ya anak aku lah, kek!"
"Anak kamu berarti cicit aku, kan?" senyum lebar terbit sedikit demi sedikit, menghiasi wajah Arman yang sudah menua di makan usia.
"Gak ada! Kakek kan gak nerima Sinta jadi istri aku. Jadi, anak kami bukan cicit kakek juga kalau begitu!" Jamal membuang muka. Dua orang pria berbeda usia ini sama-sama kekanakan rupanya.
"Mana bisa begitu! Kamu mau makin jadi durhaka sama kakek kamu ini, ha???"
"Sekarang kamu ikut kakek, pindah ke rumah utama. Di sana lebih aman!"
"Gak mau, nanti ada Tias yang gangguin Sinta kalau aku kerja,"
"Tias sudah diusir, gak dibolehin ke rumah utama atau mendekati kita lagi. Pokoknya mereka semua sudah diurus dan tak akan terlihat lagi di masa depan!"
"Tetap gak mau. Siapa yang bisa memastikan gak akan ada yang seperti Tias lagi nanti?!"
"Kamu bisa percaya pada kakek tua ini! Aku akan melindungi Sinta dengan semua kekuasaan yang aku miliki!" janji Arman. Memikirkan kalau akan ada bocah kecil yang memanggilnya kakek buyut sudah membuatnya tak sabar untuk bertemu dengannya.
__ADS_1
"Sepakat!" kedua pria itu menyatukan pikiran. Melindungi Sinta yang sedang berbadan dua merupakan prioritas mereka untuk saat ini. Arman menerima Sinta sebagai cucu menantu, tak ada lagi penolakan. Siapa yang peduli dengan perusahaan kalau nyatanya keluarga merupakan hal yang lebih berharga.