
Jamal dan Sinta sedang berbicara. Di tengah pembicaraan, Sinta kelepasan menanyakan apa yang sangat tak ingin dia tanyakan sebenarnya. Jamal yang mendengar itu kemudian bersumpah kalau itu semua tak benar. Hanya Sinta lah wanita yang ada di hatinya baik di masa lalu, sekarang, dan nanti di masa yang akan datang.
Saat Sinta masih juga tak percaya, Jamal pun meminta sang istri untuk mendengar apa yang akan dia katakan. Pria itu memutuskan untuk memberitahu semuanya pada Sinta. Awal mula dia dan Laras bermain sandiwara.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Begitulah kira-kira yang terjadi. Aku melakukan sandiwara dan meminta tolong pada Laras. Aku pikir dengan begitu perhatian kakek dan yang lainnya akan beralih pada hubungan pura-pura yang sedang aku mainkan. Namun, siapa yang menyangka kalau itu malah dijadikan pemicu agar kita bertengkar seperti ini.
Sinta diam, pikirannya kusut. Wanita itu tak tahu lagi mana perkataan suaminya yang bisa dia percaya dan mana yang tidak. Terlalu banyak kebenaran yang ditutup-tutupi pria itu. Mulai dari tentang latar belakangnya, sampai sandiwara yang dilakukannya. Apa itu benar hanya sekedar sandiwara. Atau sebaliknya, itu adalah kenyataan yang dibuat dengan alasan sandiwara.
"Percaya padaku, oke. Aku tak mungkin melirik wanita lain saat sudah ada kamu yang bertahta di hatiku, dek. Kalau kamu masih kurang yakin, kamu bisa menanyakan ini pada Laras secara langsung,"
__ADS_1
Sinta menghela napas pelan. Dia sungguh ingin percaya pada apa yang suaminya katakan. Tapi entah mengapa, hatinya tak bisa mempercayai semua itu. "Biarkan aku menata pikiranku dulu, ya mas," tukas Sinta meminta waktu untuk menata hati dan pikirannya.
"Sebanyak apa pun, kamu bisa menggunakan semua waktu untuk berpikir. Aku akan menunggu dengan sabar!" Jamal menggenggam tangan istrinya. Dia merasa sedikit lega Sinta sudah mau bicara padanya. Tak menghindar seperti sebelumnya.
Sinta mengangguk pelan, dia tak ingin menyesal kalau mengedepankan rasa egonya dan membuat semuanya hancur.
"Boleh aku bertanya untuk apa wanita kemarin itu menemui kamu?" tanya Jamal hati-hati.
"Dia hanya mengatakan kalau mas akan membuang saya karena sudah menemukan wanita yang disetujui oleh keluarga mas," aku Sinta memilih jujur setelah dia berpikir apa yang harus dia sampaikan atas pertanyaan suaminya.
"Si*lan! Harusnya aku mendengarkan Laras waktu dia gak.menyetujui ide aku," umpat Jamal yang kesal.
__ADS_1
"Jangan mengumpat, mas. Tak baik kalau nanti jadi kebiasaan!" tegur Sinta tak suka kalau suaminya berkata kasar.
"Maaf," ucap Jamal seraya menggaruk pipinya yang tak gatal.
"Tolong jangan begitu lagi, mas." Jamal mengangguk mengiyakan.
"Eng, sayang, sebenarnya Laras kali ini terbentur masalah karena ide yang aku buat. Jadi, bisakah aku memakai nama kamu untuk membantu sahabat aku itu?"
Sinta tersenyum tipis mendengar pertanyaan dari suaminya. "Memang mas mau bilang apa biar Mbak Laras bisa keluar dari masalahnya?"
"Aku harus nolongin Laras, soalnya keluarganya sudah mempertanyakan soal hubungan pura-pura mas sama dia. Makanya mas mau ngasih alasan kalau itu cuma pura-pura. Mas cuma mau ngasih kamu kejutan dan buat kamu cemburu. Udah gitu aja,"
__ADS_1
Sinta tertawa kecil mendengarnya. Suaminya sungguh bisa diandalkan dalam memutar otak untuk mencari solusi cepat. Sayangnya, semua solusi yang dibuatnya terkadang berakhir menjadi masalah yang harus diselesaikan.