Sampai Kapan Harus Begini?

Sampai Kapan Harus Begini?
13. Ide gila yang mungkin mengundang bahaya


__ADS_3

Jamal dan Laras bertemu di kafe depan kantor. Di sana Jamal menceritakan kejadian yang kemarin terjadi di rumahnya. Bahkan setelah pindah rumah, masih ada saja keluarga yang datang dan membuat keributan dengan istrinya.


Laras menanggapi dengan memberi saran agar Jamal setidaknya berbicara lagi pada kakeknya. Mungkin saja pria tua itu akan paham kalau dijelaskan dengan baik. Namun, Jamal mengatakan itu hal mustahil. Bahkan lebih mustahil dari pada semua hal yang paling mustahil terjadi di dunia ini.


Merasa buntu dengan semua sarannya yang tertolak. Laras pun menanyakan sebenarnya kawannya itu mau apa untuk menghadapi kakeknya. Mau berhenti bekerja atau mau melakukan hal lainnya yang mungkin berhasil.


Jamal malah tersenyum aneh sambil menatap kawannya. Senyum yang membuat Laras merasa merinding bahkan di hari yang sepertinya akan terik seperti hari ini. Apa lagi saat mendengar nada yang digunakan kawannya saat meminta bantuan. Sudah bisa dipastikan dia akan terjerumus dalam masalah yang sangat merepotkan.


Laras melempar tisu ke arah Jamal. "Jangan tersenyum seperti itu! Aku merinding ngeliatnya?!"


"Apa yang salah dengan senyum aku? Sinta bilang dia suka kok kalau liat aku senyum!" timpal Jamal bangga.


"Gak penting juga kamu ceritain sama aku. Mata istri kamu bermasalah dan cuma liat kamu aja tiap hari, makanya dia bisa bilang gitu. Coba dia kenal sama oppa-oppa keren nan tampan, kamu pasti lewat juga gak diheranin!"


"Cih, dasar rasis! Mandang fisik doang bisanya," decih Jamal kesal.


"Kalau cuma mau ngomong gak jelas gini, mending ke kantor aja. Bentar lagi udah masuk kerja, nih." Laras melirik jam besar yang tergantung di dinding kafe.

__ADS_1


"Gara-gara siapa kita sampai ngomong gak jelas gini? Kan kamu yang mulai duluan!"


"Ya makanya itu aku bilang ayo cabut ke kantor aja dari pada di sini ntar telat masuk kerja," tukas Laras mengalah.


"Gak masalah, bos kamu ada di sini. Gak bakalan ada yang negur kamu meski kamu telat masuk kantor!" ucap Jamal santai. "Jadi, sebagai balasan bantu aku dalam satu hal!" senyum itu tercetak lagi di wajah Jamal.


Untuk kedua kalinya, Laras merinding melihat senyum kawannya yang jelas menyiratkan makna terselubung. "Bantu apaan?" katanya menyiapkan jantungnya agar tak terlalu terkejut.


"Mari buat skandal di kantor. Buat agar keluargaku tak lagi menggangu istriku, Sinta. Mari kita pacaran dengan serius untuk mengelabui mata pria tua itu!" ucap Jamal terkekeh licik.


Mata Laras melotot, hampir ke luar dari tempatnya saking kagetnya dia mendengar ucapan aneh dari kawannya. Apa tadi, pacaran. Kawannya mau ngebuat dia jadi pelakor gitu. Oh, sungguh kawan yang baik hati sekali.


"Eh, denger, ya! Jamal pe'a yang waktu pembagian otak ngantrinya di urutan paling belakang! Gue tahu lu idiotnya gak ketolongan, tapi plis lah, jangan lu kasih liat dengan jelas gini kalau lu bego, sia*an!!!" emosi Laras memuncak, ingin rasanya dia mencakar-cakar kawannya itu kalau tak ingat di mana mereka berada sekarang. Sungguh, kenapa bisa dia berteman dengan orang yang begonya gak ketolongan begini dan malah ngira dirinya super-duper pintar.


"Eh, bagian mananya dari gue yang bego?" ketus Jamal tak sadar dan tak terima dikatai bego.


"Ide gila lo yang ngajakin gue pacaran padahal lo sendiri dah nikah! Setan lo! Lo mau bikin gue dicap jadi pelakor, hah?" emosi Laras semakin memuncak menghadapi kebodohan kawannya nan hakiki. Bahkan bergalon-galon es saja tak akan bisa mendinginkan amarah yang kini wanita itu rasakan.

__ADS_1


"Siapa yang nyuruh lu jadi pelakor, sih. Gue minta tolong lu pura-pura jadi pacar gue di depan keluarga gue. Biar mereka gak gangguin Sinta lagi!" ralat Jamal dengan kening berkerut.


"Apa manfaatnya gue jadi pacar bohongan lu? Kakek pasti bakalan tetap ngusik Sinta, o'on!" tanya Laras yang gemas sendiri dengan ke-o'on-an kawannya satu ini.


"Manfaatnya itu banyak. Pertama, kakek bakal ngira gue gak terlalu suka-suka amat sama Sinta. Jadi pria tua itu bakalan tenang dan cuma nunggu sampai gue bosan dan langsung cerai, kan pastinya. Dua, kalau kakek udah tenang. Keluarga gue yang lain pasti gak bakalan dateng-dateng lagi ke rumah gue. Ketiga, istri gue bakalan hidup damai seperti dulu tanpa mendengar hinaan atau perkataan buruk lainnya dari mereka semua. Apa itu masih kurang?"


Laras menimbang sejenak. Memang, kalau dilihat dari satu sisi jelas ini ide yang paling efektif dan menguntungkan. Tapi bagaimana kalau dilihat dari sisi yang lain. Dari sisi Sinta misalnya, apa wanita itu tak akan sakit hati. "Terus gimana sama Sinta? Kamu bakalan bilang soal ini sama dia?" tanya Laras mulai tenang. Dia kira kawannya jadi makin sebleng karena ditekan oleh keluarganya akhir-akhir ini.


"Ya, gak lah. Bisa-bisa Sinta langsung minta cerai yang ada," sahut Jamal dengan cepat menolak gagasan sahabatnya untuk memberi tahu Sinta semua ide yang dia pikirkan barusan.


"Kalian ketahuan makin gawat, Mal," tukas Sinta memperingatkan.


"Makanya kita lakukan diam-diam, kawan. Cuma di depan keluarga aku. Orang kantor pun gak perlu tahu!"


"Gak ada rahasia yang bisa terus disembunyikan, kawan," ucap wanita itu masih tak setuju dengan gagasan kawannya. "Coba pikirkan cara lain yang kalau Sinta tahu tak akan membuat dia sakit hati," lanjutnya meminta Jamal untuk berpikir ulang. Membuat rencana lain yang lebih aman dari pada rencana pura-pura pacaran seperti yang tadi.


"Aku butuh cara ini, Ras. Aku gak bisa mikir lagi dan buang waktu. Para keluarga yang berada di bawah naungan nama besar Sanjaya terus saja berdatangan setiap hari san membuat keributan. Aku butuh pengalihan dan hanya inilah satu-satunya cara yang aku pikirkan untuk saat ini. Kita Bisa berhenti kalau nanti aku dapat ide yang lain di tengah jalan. Tapi untuk kali ini, tolong bantu aku seperti biasanya, ya?"

__ADS_1


Laras menghela napas panjang. Dia begitu lemah dengan tatapan penuh permohonan dari kawannya. Seperti yang sudah-sudah, wanita itu pun mengiyakan dengan catatan Jamal harus memikirkan ide lain sembari mereka menjalankan ide yang satu ini sekarang.


Terjalinlah hubungan kontrak yang dibuat untuk menipu mata sang kakek. Jamal yakin kakeknya akan diam dan tak lagi menggangu istrinya mulai sekarang.


__ADS_2