
Pagi itu Lilis nampak bersemangat sekali untuk pergi ke pasar, karena dia mendapatkan kabar dari Pak Lurah bahwa rumahnya telah terpilih dalam program renovasi rumah, sayangnya nama orang yang menyumbangkan uang tersebut dirahasiakan namanya, sehingga Lilis tidak bisa berterimakasih secara langsung kepada orang itu.
Bukan hanya itu, dia juga sangat bersyukur ketika mendengar para tetangganya pun telah mendapatkan jatah renovasi rumah tersebut, termasuk tetangganya yang baru melahirkan, dengan kondisi rumah yang hampir saja roboh.
"Akhirnya rumah kita akan direnovasi!" seru tetangganya Lilis, sampai sepasang suami istri tersebut menangis sambil menggendong bayi mereka .
Lilis merasa terharu menyaksikannya. Sebenarnya dia merasa curiga, apakah mungkin orang yang memberikan sumbangan renovasi rumah tersebut adalah kang ojek tampan itu? Karena Lilis tahu bahwa orang yang memberikan modal 15 juta kepada para pedagang adalah Bryan.
Walaupun begitu, Lilis akan pura-pura tidak tahu, dia akan tutup mulut, karena dia juga menghargai privasinya Bryan. Mungkin saja Bryan tidak ingin siapapun tahu bahwa dia telah melakukan banyak kebaikan. Bryan benar-benar pria idaman. Pria tersebut begitu tampan, baik, dan suka menolong orang-orang lemah.
Setelah kedatangan Bryan ke kampung ini, pertolongan datang bertubi-tubi kepada masyarakat tidak mampu yang ada di kampung M tersebut. Banyak sekali orang-orang yang telah Bryan tolong.
Karena itu Lilis segera mengirim pesan kepada Bryan.
(Nanti pagi jemput aku ya di dekat pos ronda, sekalian aku sudah menyiapkan makanan dan susu kedelai untuk kamu. Oh iya, aku mendapatkan kabar baik dari Pak Lurah, rumahku akhirnya terpilih mendapatkan bantuan renovasi rumah.)
Lilis hanya ingin Bryan tahu bahwa dia telah mendapatkan bantuan itu.
Tak lama kemudian Lilis mendapatkan balasan pesan dari Bryan.
(Aku turut bahagia mendengarnya. Terimakasih makanannya, nanti aku bawa. Tapi aku maunya susu yang semalam aja hehe...)
Wajah Lilis merah merona ketika membaca candaan yang dilontarkan oleh Bryan. Hisapan Bryan di dadanya masih terasa sampai sekarang, mungkin karena dia bingung mau jawab apa, sehingga di terpaksa harus mengirim emoticon apa saja yang ada di ponselnya.
(🙄)
Jujur saja Bryan tak paham dengan arti emoticon tersebut, sehingga dia bertanya kepada sistem. "Sistem, apa kamu tau arti dari emoticon ini?"
__ADS_1
[Sistem sedang memproses arti dari emoticon.]
[Loading...]
[Loading...]
[Laoding...]
[Sistem tidak dapat mendeteksinya, Tuan. Seperti wanita, sulit untuk dipahami.]
Sistem malah curhat, tapi sebenarnya memang seperti itu faktanya.
Bryan pasrah saja, lebih baik dia segera mandi untuk bertemu dengan Lilis.
Setelah itu, Lilis pun pergi ke pos ronda untuk menunggu kedatangan Bryan.
"Eh, kalian mau bawa aku kemana? Lepaskan aku!" Lilis berusaha untuk berontak tapi tak mungkin dia menang melawan empat orang pria berbadan kekar tersebut.
"Alah, diam aja kamu, Lis. Bosku ingin indehoy sama kamu." ucap Jamal sambil tertawa. Sekalian mereka ingin memancing Bryan, apakah Bryan akan menolong Lilis lagi? Seperti waktu itu.
Kemudian Jamal membekap mulut Lilis dengan sebuah sapu tangan yang mengandung bius, agar wanita itu tidak memberontak lagi.
Lilis pun tak sadarkan diri, Jamal dan kawan-kawan segera membawa Lilis ke dalam mobil. Karena Deden sudah menunggunya.
Deden sangat cemburu waktu Lilis memilih pergi ke pasar bersama kan ojek online itu dari pada dengannya. Sehingga dia ingin menjadikan Lilis miliknya seutuhnya, apalagi ayahnya memiliki hutang yang cukup besar terhadapnya.
Sementara itu, di markas, Deden sedang menaburkan bunga pada ranjangnya yang sebentar lagi akan bergoyang. Dia sudah tak sabar menantikan hal itu, memang seharusnya begitu, setiap orang yang tak bisa membayar hutang padanya, jika dia memiliki seorang putri, putrinya harus melayani naf-su birahinya, sehingga dia sudah sering melakukan pemerkosaan terhadap gadis-gadis di desa ini.
__ADS_1
Mereka tak mampu melaporkannya ke pihak berwajib. Pertama, karena Deden kebal hukum. Kedua, karena Deden bilang bahwa itu hukuman tak dapat membayar hutang. Dan ketiga, jika mereka terus berontak, jangan harap hidup lagi. Karena Deden memang sudah sering melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang mencoba memberontak padanya. Selain itu, Deden juga memiliki ilmu hitam, sehingga banyak yang takut kepadanya.
Dan Deden memang telah jatuh hati ke Lilis, siapa yang tak jatuh hati pada kembang desa di kampung sana. Lilis yang memiliki wajah yang sangat cantik, body aduhai, berkulit putih, walaupun hidungnya tidak mancung, tapi dia memiliki kecantikan cukup bisa menggoda iman para pria.
Deden tertawa puas ketika melihat Lilis yang sudah sadarkan diri di bawa secara paksa oleh Jamal dan kawan-kawan.
"Lepaskan aku!"
"Lepaskan aku!"
Lilis masih saja berusaha untuk berontak.
"Bawa dia ke kamar, langsung ikat kaki dan tangannya di ranjang!" suruh Deden kepada Jamal.
"Baik, bos." jawab Jamal dengan patuh.
Sekuat apapun Lilis mencoba berontak, dia tak mampu melawan mereka semua, sehingga tangan dan kakinya berhasil diikat di sebuah ranjang yang sudah ditaburi bunga oleh Deden.
"Cepat kalian keluar!" suruh Deden kepada Jamal dan kawan-kawan. Deden sudah tak sabar ingin segera menikmati tubuh Lilis.
Jamal dan kawan-kawan pun segera pergi dari kamar khusus tempat Deden mengeksekusi para gadis di desa ini.
"Aku mohon lepaskan aku! Jangan berbuat macam-macam padaku!" pinta Lilis kepada Deden dengan nada lirih memohon-mohon.
"Enak saja, kamu gak bisa mengatur aku, Lis. Ingat ayahmu punya hutang 200 juta sama aku. Jadi selama kamu tidak bisa melunasinya, kamu harus melayani aku. Tenang aja, aku juga pasti nikahin kamu kok. Biar kamu bisa kumpul bareng bersama ketiga istriku." jawab Deden sambil terkekeh, dia sudah tak sabar, sehingga dia segera melepaskan semua pakaiannya, dan membawa pisau untuk merobek pakaian Lilis.
"Jangan bergerak sedikit pun, Lis. Kalau kamu tidak ingin pisau ini melukai kamu!" ucap Deden, dia menyibakan sedikit kaos yang dipakai oleh Lilis, mengusap dengan lembut perutnya Lilis yang nampak menggoda.
__ADS_1