
Bryan telah sampai di titik lokasi penjemputan, yaitu sebuah warung yang berada di pinggir jalan, namun warung tersebut masih dalam keadaan tutup. Tapi Bryan merasa heran karena tak melihat keberadaan Devina disana.
"Lho Devina nya mana?" Bryan nampak keheranan, dia lebih terkejut ketika melihat ada sebuah ponsel tergeletak disana dengan kondisi layarnya yang sudah retak, tidak salah lagi, ponsel tersebut adalah ponsel miliknya Devina.
Bryan segera mengambil ponsel tersebut di lantai, sepertinya dia kalah cepat dengan Ki Darta.
Kemudian sistem memberikan informasi kepada Bryan tentang Devina.
[Devina telah dibawa kembali oleh Ki Darta, Tuan. Karena pulau ini dikuasai oleh kekuatan iblis Malphas, sehingga sistem mengalami kesulitan untuk mendeteksi target.]
Bryan menghela nafas, ternyata di desa ini begitu sangat angker, tapi walaupun begitu, dia tidak akan pernah menyerah, toh saat ini dia juga bukan manusia biasa.
"Tolong lacak dimana keberadaan Devina?" titah Bryan kepada sistem.
[Baik, Tuan.]
[Loadind...]
[Loading...]
[Loading...]
Sepertinya kekuatan iblis Malphas begitu kuat, sehingga sistem nampak kesulitan untuk melacak lokasi target.
[Laoding...]
[Loading...]
[Loading...]
Setelah sepuluh menit sistem berusaha keras untuk melacak lokasi keberadaan target, akhirnya keberadaan Devina telah berhasil dilacak oleh sistem.
[Target keempat sedang berada di sebuah gudang yang terdapat di hutan, Tuan.]
"Kalau begitu kita harus kesana." Bryan harus segera menolong Devina. Jangan sampai Devina terluka, Bryan tidak boleh terlambat untuk menolong wanita malang tersebut.
[Tuan tidak akan sanggup melawan mereka. Ki Darta memiliki kekuatan kekebalan tubuh, sama seperti Tuan. Apalagi iblis Malphas, tak ada yang bisa mengalahkannya.]
__ADS_1
Bryan menjadi frustasi ketika mendengarkan apa yang sistem katakan, sementara malam ini Devina akan di jadikan tumbal oleh masyarakat disini.
"Apa ada cara untuk mengalahkan Ki Darta dan iblis Malphas?"
[Sistem merekomendasikan agar Tuan membeli pedang ultra, pedang itu bisa Tuan beli secara permanen dan menyatu di dalam tubuh Tuan.]
"Baiklah saya beli!" Bryan memang membutuhkan senjata untuk mengalahkan mereka berdua.
[Harganya 1 miliyar, Tuan.]
Bryan terbelalak mendengarnya, "Sa-satu miliyar? Lho kok mahal sekali?"
[Sudah ketentuan sistem, Tuan. Tidak akan bisa diganggu gugat.]
Bryan menghela nafas kembali, pasti selalu itu itu saja jawaban dari sistem. Tapi demi menolong Devina, seorang gadis yang sama sekali belum pernah diketahui wajahnya oleh Bryan, Bryan rela kehilangan uang 1 miliyar untuk menolongnya.
"Potong saja dengan sesuka hatimu, sistem." titah Bryan kepada sistem dengan nada kesal.
[Baiklah dengan senang hati, Tuan.]
[Sisa dana Tuan tinggal 19.560.000.000 lagi.]
[Sistem sedang memproses menyatukan senjata dengan tubuh Tuan.]
[0%... 5%... 10%... 35%... 54%... 78%... 100%.]
Tiba-tiba saja Bryan menggeram kesakitan. Dia terduduk berlutut di tanah.
"Shhh... arrrgghh!" Bryan merasakan hawa panas disekujur tubuhnya, mungkin karena sistem telah menyatukan pedang ultra pada tubuhnya, sampai dia menggeram memegang dadanya. Rasanya seluruh badannya seakan terbakar.
[Pedang ultra telah menyatu ke dalam tubuh Tuan. Tuan bisa menggunakannya jika Tuan berada dalam situasi gawat darurat.]
[Jika Tuan bisa mengalahkan mereka, akan ada bonus spesial untuk Tuan.]
"Bonus apa itu?" tanya Bryan yang sedang memegang dadanya, nafasnya sedikit terengah-engah.
[Rahasia.]
__ADS_1
Bryan menghela nafas kembali, sistem terkadang memang membuatnya selalu kesal. Dalam perkara bonus saja harus rahasia-rahasian. "Astaga, sudah main rahasia -rahasiaan aja?" keluh Bryan.
...****************...
Malam ini adalah malam jum'at kliwon, Ki Darta sedang menunggu di goa Taro lebih awal, karena dia harus membacakan mantra ajian di depan Iblis Malphas, sembari mempersiapkan sebuah tempat untuk mengeksekusi Devina.
Sementara di gudang, Devina sedang diurus oleh tantenya Devina dan para anak buahnya Ki Darta, wajahnya harus ditutupi oleh topeng pengantin, tentu saja Devina sudah mengenakan pakaian pengantin.
Terlihat Devina yang sedang menangis tersedu-sedu, manusia mana yang rela jika hidupnya akan berakhir tragis seperti ini. Dia harus mati dengan cara yang mengerikan, dijadikan tumbal dengan embel-embel demi kemakmuran pulau ini. Dan Devina adalah salah satu warga pulau P yang tak percaya akan hal takhayul seperti itu.
"Sudah, jangan menangis. Terima saja takdir kamu untuk menjadi tumbal demi kemakmuran pulau ini, Devina." ucap Bu Siska, dia adalah tantenya Devina, dia ikut mendandani Devina bersama ketiga wanita lainnya.
Orang tuanya Devina sudah meninggal, sehingga dari kecil dia tinggal bersama tante dan omnya. Omnya adalah adik kandung dari sang ayah. Padahal mereka tinggal dirumah peninggalan orangtuanya Devina, tapi tante dan anaknya malah berbuat sesuka hatinya kepada Devina, apalagi setelah omnya meninggal.
Dan Bu Siska inilah yang memberitahu Ki Darta bahwa dia memiliki keponakan yang lahir pada malam jum'at kliwon. Agar rumahnya Devina menjadi miliknya. Padahal dulu orang tuanya sudah berusaha keras agar tidak ada yang tahu bahwa Devina dilahirkan pada malam jum'at kliwon, sayangnya Bu Siska tega sekali mengorbankan keponakan mendiang suaminya tersebut.
"Kenapa tante tega melakukan ini semua sama aku?" Davina tak berhenti menangis, padahal wajahnya telah ditutup oleh topeng. Dia sama sekali tidak rela akan dijadikan tumbal di pulau ini.
Kemudian ada salah satu wanita yang ikut mendandani Devina, dia menjawab, "Ini semua demi kemakmuran desa ini, Devina. Kamu mau semua penduduk disini mengalami kesialan?"
Devina mencoba untuk melarikan diri, tapi sayangnya tangannya dicekal dengan kuat oleh Bu Siska dan tiga orang wanita lainnya.
"Lepaskan aku! Aku tidak ingin menjadi tumbal!" Devina berusaha untuk memberontak sambil menangis.
Tapi sayangnya Bu Siska segera menyuntikkan obat bius ke lengan Devina, sehingga gadis cantik tersebut tak sadarkan diri.
"Kalian masukan dia ke dalam peti, jangan sampai dia kabur lagi seperti tadi." titah salah satu anak buahnya Ki Darta kepada keempat wanita paruh baya tersebut.
Akhirnya Devina pun dimasukkan ke dalam sebuah peti mati yang sudah dihiasi bunga-bunga yang sangat indah.
Tekk...
Namun, tiba-tiba waktu telah berhenti, membuat semua orang yang ada disana nampak mematung, begitu pun tetesan keringat mereka, nampak melayang di udara. Tak ada satupun yang bergerak.
Terlihat Bryan berjalan seorang diri, dia harus memanfaatkan situasi, mumpung Ki Darta tidak ada disana, kemudian dia membuka pintu peti mati yang di dalamnya ada Devina, "Maaf, aku harus membuka pakaianmu tanpa seizin darimu." ucapnya kepada Devina.
Bryan menukarkan pakaian Devina dengan pakaian Bu Siska, dan membuka topeng yang dipakai oleh Devina, Bryan pakaikan topeng tersebut ke wajah Bu Siska. Sehingga kini Bu Siska lah yang ada di dalam peti mati tersebut. Karena dia tahu dari sistem terhadap kejahatan yang telah Bu Siska lakukan terhadap keponakannya itu.
__ADS_1