Sang Penakluk Wanita (System Playboy)

Sang Penakluk Wanita (System Playboy)
Bab 57


__ADS_3

"Oh Juan..." Devina mendes-ah, gairahnya semakin memuncak saat jemari itu bergerak dengan cepat. Gerakannya kian menggoda, sehingga tubuh Devina telah menggelinjang hebat, tak tertahankan.


Sampai gadis itu meliuk-liukan tubuhnya, menggerakkan tubuhnya dengan gelisah, sehingga dia terus membusungkan dadanya ke atas, membuat Bryan semakin gencar melahap buah dadanya Devina, sementara jemarinya terus menggoda di area inti Devina.


"Uhhh... "


Wajah Devina nampak merah merona, mulut mungilnya masih saja mengeluarkan suara ero-tisnya, membuat Bryan semakin bersemangat untuk memberikan kenikmatan pada lawan mainnya tersebut. Dia ingin Devina puas dengan permainannya.


"Oh... oh... ahhh..." Devina mencengkam seprai dengan kuat saat akan merasakan ada yang ingin keluar dari bawah perutnya.


Akan tetapi tiba-tiba jemarinya Bryan berhenti bergerak, membuat Devina merasakan dirinya tersiksa, mungkin gadis itu ingin sekali mengumpat kepada Bryan, padahal sebentar lagi dia akan mencapai puncaknya.


Bryan tersenyum smrik, dia tau apa yang dirasakan Devina saat ini, yang nanggung itu memang tidak enak. "Apa kita harus melanjutkannya, Devina?"

__ADS_1


Devina nampak malu diberikan pertanyaan seperti itu, dia hanya bisa menjawabnya dengan sebuah kecupan, gadis tersebut mengecup bibir Bryan dengan sekilas, dari raut wajahnya, Bryan paham bahwa gairah gadis tersebut sedang menggebu-gebu.


Bryan ingin menikmati semua bagian tubuh Devina dari ujung kepala ke ujung kaki, jadi dia harus menikmati tubuh indah itu, menghujani seluruh tubuhnya dengan kecupan. Devina dibuat melayang atas tindakan pria tersebut.


Bryan tidak ingin Devina merasa kesakitan, dia harus membuat pelumas di daerah inti Devina, dia membuka kain segitiga yang masih membungkus milik Devina, menenggelamkan kepalanya diantara kedua paha Devina


"Ahhh..." Devina terbelalak saat merasakan ada benda lembut dan basah bermain di area sensitifnya. Bahkan lidah itu menari-nari disana, Devina nampak menganga menengadahkan kepalanya menatap langit-langit , meremas seprai dengan sangat kuat, menahan rasa geli saat lidah Bryan keluar masuk ke liang surgawi.


Beberapa kali de-sahan itu menggema menghiasi kamar yang bernuansa putih tersebut, Devina tak tahan lagi, dia semakin menggila, tanpa sadar dia melebarkan pahanya agar Bryan semakin bebas bermain di sana, dia mulai mencengkram rambut Bryan menekankan kepalanya saat akan mencapai puncaknya.


Bryan membersihkan cai-ran tersebut dengan lidahnya, menyapukannya dengan lembut, kemudian memberikan hisapan yang kuat.


"Akhh... akhhh!" Tubuh Devina menegang, lalu dia menggelinjang begitu hebat merasakan lidah Bryan sedang menyapu bagian intinya, hasratnya telah bangkit kembali. Apalagi ketika pria tersebut memasukkan lidahnya ke dalam area intinya, mengocok-ngocoknya dengan tempo cepat.

__ADS_1


Devina sudah tak tahan dengan penyiksaan kenikmatan ini, badannya tak bisa diam, terus bergerak gelisah, mencengkeram seprai dengan kuat.


Sehingga gadis tersebut menjerit panjang merasakan pelepasan yang kedua kalinya, dia menekan kepala Bryan agar semakin tenggelam dibawah perutnya, mencengkeram rambut pria tersebut dengan kuat. Bahkan dia melebarkan pahanya, sehingga lidah Bryan semakin dalam menusuk milik, sungguh membuat dia benar-benar gila.


Tubuhnya bergetar hebat ketika Bryan kembali membersihkan cairan hangat di bawah perutnya, dia sudah dibuat tak berdaya oleh Bryan, sapuan lembut lidahnya Bryan membuat dia tak berdaya dan sangat menikmatinya.


Bryan sudah tak tahan lagi, dia ingin segera menjemput kenikmatan malam ini bersama Devina, sehingga dia pun bergegas membuka kaos yang dia pakai, membuangnya dengan ngasal, kemudian dia membuka celana dan boxernya, sehingga nampak dengan jelas sang benda pusaka yang diidam-idamkan oleh banyak wanita.


Devina menelan saliva melihatnya, dulu saat keadaan masih tertidur saja sudah terlihat besar, apalagi sekarang, benda pusaka tersebut sedang dalam keadaan berdiri tegak dengan sangat gagah, sudah siap untuk bertempur diatas kasur.


"Mungkin ini kedua kalinya kamu melihatnya, Devina. Tapi malam ini bukan hanya melihatnya saja, kamu boleh merasakannya." Karena khusus malam ini dan besok pria tampan itu menjadi milik Devina.


Tangan Devina diarahkan oleh Bryan untuk memegang sang joni agungnya, mengurut-urut batang yang berurat itu, membuat Devina sedikit merinding karena batang tersebut begitu besar dan panjang, apakah akan muat jika masuk ke dalam miliknya?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2