Sang Penakluk Wanita (System Playboy)

Sang Penakluk Wanita (System Playboy)
Bab 50


__ADS_3

Pagi itu suasana menjadi canggung diantara Bryan dan Devina, mungkin karena Devina harus disuguhkan dengan pemandangan yang baru pertama kali dia lihat di sepanjang hidupnya, maklumlah dia masih berusia 20 tahun.


Sampai Devina meneguk saliva berkali-kali membayangkan bagaimana besar, panjang, dan gagahnya sang pusaka milik Bryan. Entah seukuran apa itu, Devi ngeri sendiri membayangkannya.


Tapi walaupun begitu, Bryan tetap harus menjelaskan semuanya panjang lebar kali tinggi kepada Devina, bahwa dia sama sekali bukan orang jahat. Dia harap Devina bisa nyaman tinggal bersamanya.


Sekarang ini mereka sedang berada di depan rumah, Devina nampak menganga begitu menyadari dirinya telah berada di tengah hutan, karena setahu dia tidak ada rumah di hutan tersebut.


"Lho kok aku baru tahu ada rumah di hutan ini?" Devina nampak keheranan memperhatikan sebuah rumah yang unik dan klasik tersebut.


Mungkin karena Devina sudah lama tidak pergi ke hutan tersebut, sehingga dia tak mempermasalahkannya, hanya saja terasa aneh, buat apa membangun rumah di tengah hutan, yang ada akan bertetanggaan dengan para bintang buas dan makhluk astral.


Bryan mengalihkan pembicaraan, dia memperkenalkan diri kepada Devina. "Namaku Juan, kebetulan aku tukang ojek yang akan menjemput kamu kemarin." ucapnya sambil mengembalikan ponsel miliknya Devina yang sudah rusak.


Bryan menambahkan perkataannya lagi, "Sebagai seorang tukang ojek yang bertanggungjawab terhadap calon penumpangnya, karena itu aku menyelamatkan kamu semalam, soalnya aku dengar kamu mau dijadikan tumbal di pulau ini."


Devina mengambil ponselnya dari tangan Bryan, dia nampak mengerutkan keningnya, apa ada tukang ojek seperti ini, hanya karena ingin bertanggungjawab terhadap calon penumpangnya, sampai dia rela membahayakan dirinya sendiri demi menyelamatkan Devina semalam.


Benar-benar kang ojek online yang sangat langka, Devina tak pernah menemukan kang ojek online seperhatian itu.

__ADS_1


[Perkataan Tuan membuat target kebingungan. Seharusnya Tuan bilang saja kalau Tuan adalah fans rahasianya sang target, buat hatinya meleleh.]


Mungkin sistem inginkan sat sit set alias bergerak cepat, tapi kalau Bryan ingin menciptakan chemistry dengan targetnya, apalagi yang ada dipikirannya sekarang ini, dia ingin membebaskan dulu seluruh masyarakat di pulau P dari pengaruh jahat Ki Darta dan iblis Malphas. Barulah setelah itu dia memikirkan bagaimana caranya memikat hati seorang wanita cantik bernama Devina.


"Lalu bagaimana cara kamu menolong aku? Padahal kemarin di luar gudang pasti banyak sekali masyarakat yang hadir." Rasanya sangat mustahil jika satu orang bisa mengalahkan mereka yang jumlahnya ratusan.


Sampai Devina mencurigai mungkin saja pria dihadapannya itu bukan manusia biasa.


"Emm... panjang ceritanya, untuk saat ini aku belum bisa cerita sama kamu. Hanya saja aku ingin membantu masyarakat disini agar bebas dari pengaruh Ki Darta." jawab Bryan dengan mantap.


Jawaban dari Bryan cukup menakjubkan, karena Devina pun sama, dia sangat merasa jengah dengan masyarakat disini yang begitu mengagung-agungkan Ki Darta, sehingga mempercayai ilmu sesatnya. Walaupun sebenarnya hatinya bertanya-tanya bagaimana caranya Bryan berhasil menolong Devina semalam. Satu lawan ratusan, bagaimana bisa menang? Kecuali kalau Bryan bukan manusia biasa.


Devina meneguk saliva dengan susah payah, mengapa dia harus teringat kembali dengan benda pusakanya Bryan.


Rupanya gumaman Devina terdengar oleh Bryan, "Apanya yang besar?"


Hal tersebut membuat Devina menjadi salah tingkah, dia segera meraih satu buah pisang yang telah disajikan di atas meja. "Emm... anu emm... pisang, iya pisang ini sangat besar, pasti enak dan kenyang kalau di makan hehe..." ucap Devina sambil terkekeh, Wajahnya nampak memerah tak karuan. Mengapa juga di meja sana harus ada buah pisang, bukan buah yang lain.


Bryan ikut tertawa, padahal menurutnya tidak ada yang lucu, tapi untuk menghargai perasaan Devina yang tiba-tiba tertawa sambil menunjukan pisang kepadanya. "Oh gitu hehe..."

__ADS_1


Mungkin karena Devina sangat malu, dia lebih baik segera masuk ke dalam rumah, untuk menghindari Bryan, agar tidak teringat terus dengan batang pria itu. "Aku... aku mandi dulu." ucapnya sambil meletakkan kembali pisang ke atas meja.


Bryan menganggukan kepalanya. Devina pun masuk ke dalam rumah. Bryan merasakan tenggorokannya kering, dia pun bergegas mengambil segelas air putih yang tersedia di atas meja.


Bryan meneguknya sambil memandangi pemandangan di alam sekitar sana.


Tiba-tiba dia dikejutkan dengan informasi dari sistem.


[Sistem mendeteksi target keempat sedang berbohong. Yang besar itu benda pusaka Tuan, bukan pisang.]


Seketika Bryan yang langsung menyemburkan minumannya. Rupanya Devina belum bisa melupakan dengan apa yang dia lihat tadi pagi.


"Apa dia melihat semuanya?" Tanya Bryan dengan harap-harap cemas.


[Semuanya, Tuan. Sangat jelas dan nyata.]


"Arrrgghh!" Bryan menggaruk kepalanya yang gak gatal, walaupun dia sudah lumayan pro, tapi dia bukan pria yang suka menunjukkan sang joni secara sembarangan. Pria juga punya harga diri.


"Lebih baik aku membeli jasa penghapus ingatan saja!" Agar Bryan tidak malu lagi jika berbicara dengan Devina.

__ADS_1


[Tidak perlu, Tuan. Bukankah nanti juga wanita itu akan melihatnya lagi dan merasakannya?]


Bryan menjadi meneguk saliva mendengar perkataan sistem yang membahas berlingkup di area dua satu plus tersebut.


__ADS_2