
Waktu telah berjalan kembali, sehingga kini semua orang yang ada disana bisa bergerak lagi. Namun, mereka terkejut ketika menyadari Bu Siska tidak ada disana.
"Lho Bu Siska kemana?" tanya salah satu wanita paruh baya yang ada di gudang tua tersebut.
Kemudian salah satu dari anak buahnya Ki Darta yang menjawab, "Biarkan saja dia. Kita tidak memiliki banyak waktu lagi, kita harus segera membawa gadis itu ke goa Taro."
Mereka sama sekali tidak tahu bahwa sebenarnya Bu Siska berada di dalam peti tersebut, anggap saja itu hukuman untuk Bu Siska yang telah berniat ingin membuat Devina mati dengan secara tragis, menjadikannya sebagai tumbal kepada Ki Darta. Padahal dulu orang tuanya Devina sengaja menyembunyikan atas kelahiran putri tercintanya itu, agar Ki Darta tidak tahu bahwa Devina lahir pada malam jum'at kliwon. Tapi dengan teganya sang tante malah malah membocorkan rahasia tersebut kepada Ki Darta, agar Devina mati, sehingga rumahnya Devina akan menjadi miliknya.
Ki Darta memang memiliki anak buah yang jumlahnya cukup banyak, mereka berlatih ilmu bela diri kepada Ki Darta dan mengabdikan hidupnya kepada sang sesepuh di pulau tersebut. Karena mereka telah dibodohi, menganggap Ki Darta sebagai dewa penolong mereka yang akan memberikan kemakmuran untuk pulau ini.
Karena takut terlambat, sepuluh orang anak buahnya Ki Darta segera menggotong peti mati yang sudah dalam keadaan tertutup rapat tersebut, tanpa mengecek lagi bagaimana keadaan gadis yang akan ditumbalkan itu. Diikuti oleh 216 orang penduduk disana yang membacakan ajian sesat demi kemakmuran pulau.
Mungkin karena kondisi pulau yang tidak terurus, jalanan yang rusak, kondisi rumah banyak yang kumuh, kurangnya sarana prasarana pendidikan dan kesehatan, dan kondisi kemiskinan yang melanda, membuat mereka berharap pulau tersebut akan segera makmur jika telah mempersembahkan gadis yang diinginkan oleh iblis penunggu di pulau tersebut, karena mereka semua terpengaruh dengan perkataan Ki Darta.
...****************...
Malam ini Bryan merelakan uangnya harus diambil kembali oleh sistem seharga 100 juta untuk membeli kekuatan menghentikan waktu, ketika dia harus menukarkan pakaian Devina dan Bu Siska. Sehingga uangnya kini tersisa 19.560.000.000 lagi.
Kekuatan menghentikan waktu bisa dimiliki oleh Bryan secara permanen jika kekuatan yang Bryan miliki telah mencapai 100. Sehingga untuk sementara ini dia harus membeli kekuatan tersebut, dan hanya sekali pakai untuk malam ini.
Bryan membawa Devina ke sebuah tempat yang jauh dari pemukiman, tepatnya di tengah hutan, karena dia harus mengamankan Devina dari siapapun.
Sementara Devina masih belum sadarkan diri karena pengaruh bius.
Bryan merebahkan tubuh Devina pada sebuah batu besar, dia memperhatikan gadis cantik tersebut, ada rasa kasihan juga di hatinya karena pakaian yang dikenakan oleh Devina sedikit kedodoran, mungkin karena seharusnya pakaian tersebut milik Bu Siska yang badannya lebih berisi dibandingkan dengan Devina.
"Sistem, apa kamu bisa bersulap?" tanya Bryan kepada sistem.
Sistem pun segera menjawab pertanyaan dari Bryan.
[Saya sistem, bukan badut, Tuan.]
Bryan menghela nafas mendengar jawaban dari sistem, "Maksud aku apa kamu bisa menyulap atau membuat banyak pakaian wanita hadir disini?"
__ADS_1
[Tentu saja bisa, hanya saja harganya cukup mahal.]
Bryan menjadi geregetan, kalau tau seperti itu, seharusnya dia dulu dan Luna tidak perlu capek-capek datang ke Mall untuk membeli baju untuk Luna. Tapi kalau dipikirkan lagi, ada hikmahnya juga dia bisa datang ke Mall malam itu bersama Luna, sehingga dia bisa menyelamatkan lima nyawa dalam tragedi kebakaran Mall disana waktu itu.
[Tuan bisa membelinya di toko sistem.]
Kemudian muncul sebuah panel seakan seperti sebuah layar tancap di depan Bryan, membuat Bryan terperangah melihat katalog pakaian wanita, karena harganya cukup mahal. Kalau situasinya tidak gawat seperti ini mendingan beli di toko pakaian saja.
Bryan pun membeli lima pasang pakaian dalam dan luar untuk wanita, dengan seharga 200 juta.
[Dana 200 juta telah dipotong secara otomatis untuk membeli 5 pasangan pakaian wanita, 5 bra, dan 5 celana da-lam wanita. Dana tersisa 19.360.000.000 lagi ]
[Laoding...]
[Loading...]
[Loading...]
Cring...
"Apa mungkin aku juga bisa membangun rumah disini?" Tidak mungkin kan kalau dia dan Devina harus tidur di rerumputan yang ada di hutan tersebut.
Apalagi mereka harus memiliki tempat tinggal yang nyaman, karena Bryan harus bisa memusnahkan Ki Darta dan iblis Malphas, agar semua masyarakat di pulau ini terlepas dari mereka berdua.
[Bisa, Tuan.]
Dan akhirnya disana tiba-tiba terdapat sebuah rumah sederhana, hanya memiliki dua kamar, dapur, kamar mandi, dan juga ruang tengah. Tapi harganya sangat mahal, 2 miliyar. Bryan tak mempermasalahkannya, hanya sistem yang mampu membangun rumah dalam hitungan menit.
[Sistem mengupgrade data pemilik sistem.]
[Nama: Bryan Juan Pratama
Usia: 27 tahun
__ADS_1
Tinggi Badan: 180 cm
Berat Badan: 72 kg
Ketampanan: 105
Pesona: 95
Kekuatan: 60
Kemampuan: Berlari cepat (permanen), tahan api (permanen), kekebalan tubuh (permanen)
Pil Penyembuh Luka: 5
Senjata: Pedang ultra
Dana: 17.360.000.000
Level: 3]
Walaupun rumahnya kecil, tapi bentuk rumahnya terlihat unik dan klasik, Bryan sangat menyukainya. Apalagi di dalamnya sudah terdapat barang-barang yang lengkap.
[Apa Tuan sudah memiliki rencana?]
"Aku harus mendekati masyarakat disini, agar mereka bersatu dan berani untuk tidak patuh lagi kepada Ki Darta. Aku yakin mereka juga tak ingin mengorbankan banyak nyawa di kampung ini, hanya saja mereka terpengaruh dengan iming-iming kemakmuran pulau ini."
[Ide yang bagus, Tuan.]
Bryan pun segera menggendong Devina yang masih belum sadarkan diri, membawanya masuk ke dalam rumah di tengah hutan tersebut.
Di dalam rumah sana ternyata sudah terdapat perkakas sebagai mana mestinya, membuat Bryan terperangah, kekuatan sistem memang luar biasa.
Kemudian Bryan membawa Devina masuk ke dalam kamar, dia merebahkan wanita cantik tersebut ke atas ranjang, menyelimuti tubuhnya dengan selimut, kemudian dia menatap wanita cantik tersebut.
__ADS_1
"Tidurlah dengan nyenyak, aku pasti akan memberikan perhitungan kepada siapapun yang sudah berbuat jahat padamu." ucapnya dengan begitu lembut.
Setelah mengatakan hal itu, Bryan pun pergi dari kamarnya Devina, dia memilih tidur di kamar yang satu lagi. Walaupun dia tak tahu bisa tidur atau tidak, setidaknya dia ingin mengistirahatkan badannya.