Sang Penakluk Wanita (System Playboy)

Sang Penakluk Wanita (System Playboy)
Bab 39


__ADS_3

Waktu telah berjalan normal kembali, orang-orang yang ada disana nampak keheranan, karena dalam ingatan terakhir mereka, mereka sedang menembak para petani, tapi tak ada satu orangpun petani yang terluka, justru mereka terkejut ketika melihat keadaan para petani disana baik-baik saja.


"Tembak lagi!" teriak Udin, memberikan sebuah instruksi kepada para anak buahnya.


Akan tetapi mereka terkejut begitu menyadari bahwa pistol yang mereka pegang berubah menjadi sebuah terong berwarna ungu.


"Lah kok pistol kita tiba-tiba berubah?" Mereka mengatakannya hampir bersamaan, saking kagetnya melihat apa yang mereka genggam kini tiba-tiba berubah.


Rupanya Bryan ingin berbuat usil kepada mereka dengan menggunakan waktu yang tersisa dengan menukarkan pistol mereka dengan terong ungu, kebetulan disana terdapat terong ungu yang begitu banyak.


Saking kagetnya sampai mereka refleks melempar terong tersebut ke tanah sambil mengumpat.


"Ah sial!"


Mereka baru menyadari kalau Deden tidak ada disana, "Lho bos kemana?"


"Lah iya kemana Bos Deden?" Pandangan mereka beredar mencari keberadaan Deden yang tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak.


Kemudian terdengar suara bergemuruh, ramai sekali, ternyata banyak masyarakat di kampung M yang sedang berlarian untuk menyerang markas tersebut, jumlah mereka cukup banyak, bukan hanya pria, wanita pun ada dari berbagai usia. Yang paling unik para wanita tersebut ada yang membawa alat-alat dapur seperti panci dan wajan yang belakangnya sudah terlihat menghitam.


"Seraaang mereka!" ucap Pak Lurah di kampung itu, dia yang memberikan instruksi agar mereka bisa bersatu untuk menyerang para preman kampung yang sangat meresahkan itu.


Sehingga para anak buahnya Deden kewalahan, karena mereka telah kalah jumlah. Bahkan kepala mereka ada yang terkena pukulan dari panci hitam yang para emak-emak bawa.


Prang...


Preng...


Prong...


Seperti itulah bunyi peperangan disana, kekuatan wanita memang tidak ada duanya.


Sementara Bryan, dia memilih fokus untuk menyelamatkan Lilis di dalam Markas.


"Juan?" Lilis merasa terharu ketika Bryan masuk ke dalam markas, pria itu langsung melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya.


"Kamu gak apa-apa kan, Lis? Tidak ada yang terluka, kan?" tanya Juan dengan nada khawatir.


Perhatian seperti itu sukses membuat hati Lilis semakin meleleh, dia memeluk Bryan dengan begitu erat.


[Tuan hebat, perhatian sekecil itu dapat membuat hati wanita meleleh. Karena itu Tuan mendapatkan bonus 100.000.000.]

__ADS_1


[Total dana Tuan 11.667.500.000.]


Padahal perhatian yang diberikan oleh Bryan kepada Lilis itu tulus dari hati, tapi dia tak bisa memungkiri bonus yang dia dapatkan cukup membuatnya bersemangat, Bryan membalas pelukan Lilis sambil tersenyum.


"Aku baik-baik saja, terimakasih kamu adalah dewa penolong untuknya, Juan." lirih Lilis, dia sangat beruntung bisa dipertemukan dengan seorang Bryan, karena pria tersebut sudah banyak membantunya. Entah bagaimana nasib nanti jika seandainya dian tak bertemu dengan Bryan.


...****************...


Setelah berhasil menumbangkan Deden dan anak buahnya, kini suasana di kampung M sangat terasa aman.


Para petani mulai bersemangat untuk menanam padi lagi tanpa takut bahwa hasil panen mereka di rampok oleh Deden dan anak buahnya.


Para pedagang di pasar sangat merasa bersyukur dengan musnahnya Deden dan anak buahnya, sehingga tidak ada lagi yang membuat kerusuhan di pasar dan tidak ada yang merampok uang mereka dengan secara paksa.


Proses pembangunan renovasi rumah terhadap 30 rumah yang sudah tidak layak huni telah mulai dilakukan, membuat kebahagiaan mereka semakin bertambah, akhirnya ada dewa penolong yang telah membantu dan menyelamatkan mereka.


Malam ini, Bryan rela mengeluarkan uang cukup banyak yaitu 200 juta untuk membuat sebuah festival disana, sehingga kini dananya tersisa 11.467.500.000 lagi.


Bryan ingin menghibur masyarakat disana dan merayakan atas musnahnya Deden dan anak buahnya. Justru ketiga istrinya Deden turut bahagia karena akhirnya mereka telah terlepas dari Deden.


Malam ini, acara festival disana cukup meriah, banyak sekali orang-orang berantusias turut meramaikan acara tersebut, menikmati permainan dan hiburan yang ada di sana. Hal tersebut membuat Bryan sangat bahagia karena bisa menghibur semua masyarakat yang ada disana.


Sebenarnya Bryan sudah janjian dengan Lilis untuk jalan-jalan bareng ke festival, tapi sayangnya ketika Bryan sedang menunggu kedatangan Lilis, malah yang muncul trio semut.


"Iya nih semenjak kita diteror si nyai, kita jadi merinding buat datang ke rumah akang," ucap Kokom.


"Yang penting kita bisa bertemu lagi disini." kini giliran Ningsih yang ikut bicara.


Ternyata Lilis baru datang ke festival tersebut, padahal dia sudah berdandan dengan sangat cantik demi bertemu sang pujaan hati, tapi sayangnya ternyata pria itu telah dikerubungi oleh trio semut.


Bryan tak sengaja melihat keberadaan Lilis, dia langsung mengejar Lilis, "Lilis!"


"Eh akang Juan, kamu mau kemana?" Kokom tidak terima dengan sikap Bryan yang pergi begitu saja meninggalkannya dan kedua temannya.


Bryan terus mengejar Lilis, ternyata Lilis pergi ke tempat atraksi badut.


"Eh neng Lilis, sendirian?" tanya Ceu Cicih ketika melihat Lilis yang berdiri disampingnya.


"Iya, Ceu." jawab Lilis.


"Titip salam ke abah ya dari Ceu Cicih, si janda bahenol." Wanita berusia 60 tahun itu masih saja bersikap genit pada pria.

__ADS_1


Pembicaraan mereka terhenti ketika melihat ada Bryan datang, "Lis, bagaimana kalau kita naik bianglala?"


"Gak ah, aku takut. Kenapa kamu kesini? Bukannya sedang bersenang-senang dengan trio semut itu?" tanya Lilis dengan nada ketus.


Sementara Ceu Cicih dia nampak terpukau dengan pesona pria tampan itu.


"Jangan takut, kan ada aku. Ayo ikut aku!" Bryan segera meraih tangan Lilis tapi pandangannya fokus ke bianglala.


Bryan berjalan dengan cepat sambil menarik tangan Lilis, "Ayo cepetan, Lis. Nanti keburu penuh lagi!" Bryan dari tadi pandangannya fokus ke bianglala, mungkin karena penuh terus dari tadi, dan sekarang mumpung ada satu tempat yang kosong.


Namun, Bryan menghentikan langkahnya begitu menyadari bahwa tangan Lilis terasa berbeda, mengapa tangan Lilis menjadi berkeriput?


"Juan!"


Bryan kaget saat mendengar suara Lilis dari jarak lumayan jauh, pria itu tambah kaget saat membalikkan badan, ternyata dia salah bawa orang.


Ting...


Ceu Cicih mengedipkan matanya pada Juan dan memperlihatkan dua buah gigi palsunya yang terbuat dari emas, membuat Juan shock berat, untung dia tidak pingsan.


[Nama: Cicih


Usia: 60 tahun


Pekerjaan: Pengangguran


Tinggi Badan: 157


Berat Badan: 46


Kecantikan: Tidak terdeteksi


Ukuran dada: Tidak terdeteksi


Status: Janda


Anak: 12


Mantan Suami: 5


Cucu: 7.]

__ADS_1


Bryan menghela nafas, mengapa sistem harus capek-capek mendeteksi setiap wanita yang ada disekitarnya, padahal dia sama sekali tidak tertarik kepada wanita berusia 60 tahun itu.


"Juan, kenapa kamu malah gandeng tangan Ceu Cicih?" tanya Lilis kepada Bryan.


__ADS_2