Sang Penakluk Wanita (System Playboy)

Sang Penakluk Wanita (System Playboy)
Bab 44


__ADS_3

"Sistem, apa target keempat aku sudah ada hilalnya?" tanya Bryan sambil memacu motor maticnya dengan santai, setelah meninggalkan kampung M, sebuah kampung yang telah memiliki banyak kenangan indah untuk Bryan dengan sang kembang desa di kampung tersebut.


Apalagi malam panas yang telah mereka lalui bersama, Bryan tak akan pernah melupakannya. Tentang seorang Lilis, si kembang desa yang hidupnya penuh dengan kesengsaraan. Berhenti kuliah karna kendala biaya dan harus menjadi tulang punggung keluarga, belum lagi dulu diincar oleh seorang ketua preman kampung.


Ah! Pokoknya wanita tersebut sangat memberikan kenangan yang sangat berarti bagi Bryan. Semoga dikemudian hari dia bisa bertemu lagi dengan Lilis dan mengulang kisah panas mereka, Lilis memang begitu legit dan membuatnya candu.


Sekarang berkat bantuan dari Bryan, Lilis sudah lepas selamanya dari preman kampung yang meresahkan masyarakat disana, kini dia bisa tinggal nyaman di rumah yang layak pakai bersama keluarganya. Dan sekarang dia bukan wanita miskin lagi, karena Lilis telah memiliki usaha penggilingan padi dan membeli beberapa traktor untuk disewakan kepada para petani, serta dia akhirnya bisa melanjutkan kuliahnya untuk mewujudkan mimpinya sebagai seorang dokter.


[Belum, Tuan. Sistem belum mendeteksi keberadaan target keempat.]


Bryan menganggukkan kepalanya, sistem bukan dewa, pasti ada keterbatasan juga padanya, sehingga Bryan dapat memakluminya, jika sewaktu-waktu sistem eror.


Selama 16 hari menjalani profesinya seorang driver ojek online dengan ditemani oleh sistem, Bryan merasakan hidupnya jauh lebih berguna dari pada di kehidupannya yang dulu, sekarang dia telah merasakan bagaimana bisa berbaur dengan masyarakat biasa, banyak pelajaran berharga yang bisa dia dapatkan selama ini, yang pasti dia ingin sekali menjadi dewa penolong untuk orang-orang yang membutuhkan bantuannya.


Bryan tak sengaja melihat ada wanita cantik melambaikan tangan padanya, "Mas, ojek ya."


Bryan orangnya tak tegaan, apalagi disana suasana dijalan raya begitu sepi, dia pun menghampiri wanita tersebut.


"Iya, mbak. Mbak mau kemana?" tanya Bryan, dia memang ingin menolongnya, terlepas dari penampilannya yang sangat seksi, menggoda iman.


[Dia bukan mbak, tapi mas, Tuan.]


Bryan terkejut mendengar laporan informasi dari sistem.


[Nama: Yana


Usia: 30 tahun


Pekerjaan: Penghibur


Tinggi Badan: 165


Berat Badan: 45


Ketampanan: 70


Status: Punya banyak pacar.]

__ADS_1


Bryan bergidik ngeri mendengar biodata tentang wanita yang hendak dia tolong, membuatnya geli. Ternyata wanita cantik itu batangan.


"Aduh maaf gak jadi, mas eh mbak." sampai Bryan bingung harus panggil apa.


"Eh kok gak jadi sih? Padahal aku akan kasih pelayanan khusus lho."


Bryan malah langsung tancap gas begitu saja. Dia masih nomal, apalagi para targetnya lebih menarik dan lebih menggoda.


[Karena itulah Tuan harus fokus pada target saja.]


Sistem pun menasehati Bryan.


"Oke, oke." jawab Bryan dengan nada kesal. Bryan menjadi teringat dengan Rachel, target pertamanya, sekaligus seorang wanita yang telah berhasil membuatnya menjadi mantan perjaka.


Ah! Jangan mengingat bagaimana pertama kalinya dia melakukannya bersama Rachel, dia belum bisa melupakannya. Karena Rachel lah dia tahu bagaimana nikmatnya melepaskan keperjakaannya, dan juga sekaligus tahu bagaimana rasanya memerawani seorang wanita. Rasanya sungguh luar biasa, tak pernah bisa dia melupakan kenangan tersebut.


Kebetulan jarak dari kampung M ke kampung G, yaitu kampung halamannya Rachel, hanya membutuhkan jarak dua jam saja, sehingga dia ingin mampir kesana, untuk bertemu dengan wanita tersebut.


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya Bryan telah sampai di kampung G, tepatnya dia sekarang sedang berada di depan rumah makan milik Rachel.


Bryan memarkirkan motornya di tempat parkir khusus, kemudian dia memandangi dengan takjub bagaimana rumah makan milik Rachel yang memiliki banyak pengunjung. Rachel memang pintar mencari tempat yang strategis untuk membuka rumah makan disana, dan pandai mengelola uang.


Bryan masuk ke dalam rumah makan tersebut, Bryan mendengar ada suara keributan disana, ternyata ada seorang pria yang sedang marah-marah karena di dalam makanannya ada kecoa.


Pria berusia 40 tahun itu sedang memaki-maki Rachel sebagai pemilik rumah makan tersebut.


"Saya tidak terima, pokoknya akan saya viralkan ke sosial media bahwa rumah makan ini sangat jorok sekali. Masa ada kecoa di makanan saya." ucap seorang pria bernama Pak Tono.


Rachel sama sekali tidak merasa bahwa dia dan beberapa karyawannya bisa sejorok itu. "Kayaknya tidak mungkin, Pak. Saya tidak percaya, bagaimana mungkin ada kecoa di makanan itu, kecoa itu besar lho, masa kami tidak melihatnya waktu lagi memasak."


"Oh jadi maksud kamu, aku ngarang, gitu? Dasar wanita kurang ajar!" Pak Tono melayangkan tangannya untuk menampar Rachel.


Namun, tiba-tiba ada seseorang yang datang menahan tangan Pak Tono, siapa lagi kalau bukan Bryan.


Sehingga semua yang ada disana menatap takjub kepada pria yang memakai seragam ojek online itu. Apalagi kaum wanita, sudah pasti mereka terpesona dengan ketampanan Bryan.


Rachel nampak menganga, dia sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan Bryan kembali, yang lebih membuatnya merasa tersentuh adalah karena orang yang menyelamatkannya adalah Bryan, seorang kang ojek online tampan dengan sejuta pesona.

__ADS_1


"Juan?" lirih Rachel.


Bryan tersenyum manis dan mengedipkan matanya pada Rachel, kemudian dia melilitkan tangan Pak Tono yang hampir saja menampar wajah Rachel.


"Arrghh... Arrrghh!" Pak Tono merintih kesakitan karena tangannya di buat terkilir oleh Bryan.


[Sistem mendeteksi masih ada tujuh bangkai kecoa di clutch bagnya pria botak itu. Dia hanya ingin menjatuhkan rumah makan milik restoran sang target pertama, kerena dia juga memiliki rumah makan di kampung ini.]


"Arrrggh... lepaskan tanganku, aku akan melaporkanmu pada polisi!" bentak Pak Tono kepada Bryan, dia merasakan tangannya sangat kesakitan sekali.


Bryan menarik clutch bag milik Pak Tono yang tergeletak di atas meja, kemudian dia membuka clutch bag tersebut, sehingga berjatuhan tujuh bangkai kecoa tersebut, membuat semua orang yang ada disana tercengang melihatnya dan menjadi mual. Tapi itu adalah bukti bahwa tuduhan Pak Tono terhadap rumah makan miliknya Rachel tidak benar sama sekali, hanya fitnah belaka.


"Kamu hanya ingin mencemarkan nama baik rumah makan ini, apa yang kamu lakukan sungguh sangat memalukan." ucap Bryan sambil menyeringai.


Pak Tono sangat malu sekali, akhirnya dia telah ketahuan ingin memitnah rumah makan milik Rachel, dia segera pergi dari sana.


Rachel tersenyum menatap Bryan, lagi dan lagi Bryan selalu menjadi dewa penolongnya, bagaimana mungkin dia bisa melupakan pria yang memiliki sejuta pesona itu.


...****************...


Malam ini Bryan menginap di kampung G, di sebuah hotel yang jaraknya tak jauh dari rumah makan milik Rachel, hanya menghabiskan uang 1 juta saja, sehingga dananya kini tersisa 20.566.500.000 lagi.


Rachel sangat senang sekali ketika Bryan telah memakaikan sebuah kalung liontin dilehernya, "Makasih ya, aku sangat suka kalungnya. Tapi kenapa kamu tidak mengabari aku dulu kalau kamu akan datang kesini?"


Saat ini Bryan dan Rachel sedang berada di balkon kamar hotel, Bryan memeluk tubuh Rachel, wanita itu begitu cantik dengan penampilannya yang menggoda iman, hanya memakai lingerie yang sangat seksi.


"Sama-sama, Rachel. Kebetulan aku ada urusan di kampung M. Aku teringat denganmu, jadi aku mampir kesini." jawab Bryan sambil memeluk punggungnya Rachel dengan erat.


"Terimakasih juga karena kamu sudah membantuku menghadapi pria yang tadi di rumah makan."


"Iya sama-sama, Rachel." setelah berkata seperti itu, Bryan mencium pundak Rachel, lalu mencium lehernya.


Rachel sangat terangsang dengan ciuman Bryan pada lehernya, dia segera membalikkan badannya, sehingga mereka saling berhadapan. Kemudian Rachel memandangi Bryan dengan lekat, "Aku sangat merindukanmu, Juan."


"Aku lebih merindukanmu, Rachel." jawab Juan. Beruntung dia tak salah menyebutnya nama.


Mereka pun berciuman dengan dipenuhi naf-su, sehingga suara cecapan ciuman bibir mereka terdengar sangat jelas, saling menekan tubuh mereka, mendekap dengan sangat erat.

__ADS_1


Bryan menggendong Rachel membawanya masuk ke dalam kamar, lalu saling membuka pakaian masing-masing. Mereka ingin menghabiskan malam ini dengan melepaskan kerinduan mereka, apalagi suasana dingin di kota M begitu menusuk kulit, sehingga mereka terus saja saling menghangatkan satu sama lain.


Kebetulan disana tersedia kursi kama-sutra, sehingga mereka bisa melakukannya dengan berbagai macam gaya, membuat suasana di kamar hotel itu terasa semakin panas. Pokoknya malam ini mereka akan melakukannya sampai puas.


__ADS_2